Movie Review: Si Juki The Movie

Berbicara soal IP atau Intellectual Property asal Indonesia atau gampangnya karakter asli asal Indonesia di era millennials seperti sekarang nama Si Juki pasti sudah tidak asing lagi. Karakter yang berawal dari komik yang muncul di forum Kaskus ini seolah mendulang kesuksesan dengan terus mengikuti apa yang sedang #viral dan yang sedang #hitsbanget di masyarakat akhir-akhir ini. Tumbuh besar dengan menjadi semacam #selebtwit di Twitter membuat Si Juki melebarkan sayapnya ke berbagai macam karya seperti buku, animasi dan lain sebagainya.

Sering digadang sebagai salah satu IP Indonesia yang sukses akhirnya Si Juki kebagian juga dibuat filmnya sama seperti jajaran buku fiksi remaja best seller yang tau-tau akan diadaptasi dalam bentuk film oleh sebuah PH yang terkenal sering merilis (dan terkadang menghancurkan) sebuah karya populer yang sudah dikenal di masyarakat.

Dirilis pada akhir tahun 2017 di saat musim liburan anak sekolah, pastinya film ini cocok buat anak. Tapi sebentar, bukannya semua joke yang sering dilontarkan Juki ini sering mengarah ke anak remaja dan terkadang bahasanya sedikit slapstick. Ah, mungkin saya aja yang salah menilai, siapa tahu film ini akan menjadi tonggak baru animasi Indonesia dari segi kualitas atau setidaknya dari segi cerita seperti Battle of Surabaya.

Tapi ternyata saya salah.

Dari awal sampai akhir film ini berjalan, film ini merupakan film terburuk yang pernah saya tonton. Si Juki The Movie adalah film yang menurut saya paling tidak niat dalam bercerita. Si Juki The Movie sangat soulless, kopong dan hanya berisikan lebih dari 90 menit Juki dan kreatornya terkesan menyombongkan diri kalau mereka bisa membuat film.

Oke mari kita coba bahas satu persatu kenapa film dari IP terbesar di Indonesia ini menjadi sebuah disaster dan sama sekali tidak layak dikategorikan sebagai sebuah film.

Cerita dari film ini sangatlah aneh dan tidak konsisten, seolah-olah men-cut paste materi dari komiknya tanpa dipilah terlebih dahulu agar membuat satu plot yang rapi atau minimal bisa digambarkan dengan konkrit dan tidak lari kemana-mana. Cerita film ini dimulai dengan kisah masa lalu Juki lalu berganti ke Juki menang penghargaan lalu berganti dengan Juki yang mempunyai acara talkshow sendiri lalu berganti ke cerita Juki sudah mainstream dan tidak dapat penghargaan komik indie lagi (menurut saya ini adalah hal yang paling menganggu dalam film ini dan akan dibahas nanti) lalu menjadi buron karena mengata-ngatai astronot dengan inti ceritanya adalah ia harus menyelamatkan bumi dari serangan meteor berwarna ungu yang mirip Eva Unit 01. Saya seolah melihat The Simpsons Movie tetapi jauh lebih jelek dan hancur.

Target Si Juki The Movie juga sangat sangat tidak jelas. Film ini ditonton oleh banyak anak-anak tetapi 95% joke dari film ini berisi joke-joke garing remaja kekinian yang ingin mendapatkan 2000 retweet dan share lalu menjadi #viral sehingga membuat film ini sudah kehilangan arah setelah Juki memperkenalkan keluarga dan kehidupan masa kecilnya.

Berbicara soal komedi film ini menonton film ini seperti melihat seorang remaja yang sangat desperate untuk nge-lucu dan nge-lawak. Humor-humornya sangat repetitif dan itu-itu lagi dan diperparah dengan kejadian serta dialog humor yang hampir semuanya sangat dipaksakan layaknya menonton film yang diangkat dari buku novel dari #selebtwit pada masa awal 2010an. Ketika menonton film ini, saya hanya mendengar tawa selama 5 menit sepanjang film ini berjalan dari satu teater yang isinya kebanyakan anak kecil.

Sejatinya film animasi yang hanya berupa benda bergerak bisa menjadi hidup dengan karakter yang pas dan sesuai tetapi tidak untuk Si Juki The Movie. Karakter yang ada di film ini tidak hidup dan tidak mempunyai jiwa. Penggambaran karakter yang serampangan, kedalaman karakter yang sangat cetek, interaksi-interaksi antar karakter yang gagal dalam menyampaikan pesannya membuat menonton film ini seperti menonton benda mati yang sedang bergerak dan berbicara tanpa mengeluarkan emosi.

Tetapi yang paling parah dari semuanya tentu dari segi pengisi suara yang harusnya menjadi ujung tombak sebuah film animasi karena menjadi corong untuk menghidupkan “benda mati” ini menjadi sebuah sesuatu yang dekat dengan kehidupan manusia. Pengisi suara di film ini sangatlah jomplang dan levelnya bagaikan langit dan bumi. Saya masih mengapresiasi beberapa pengisi suara yang memang aslinya merupakan pengisi suara professional tetapi selebihnya yaitu pengisi suara artis papan atas yang memainkan film ini sangatlah datar, tidak ada penjiwaan, tidak sinkron antara ucapan dan gerakan mulut, terlalu banyak gaya, tidak menghayati peran (bagaimana bisa menghayati peran jika basic dari karakter yang dimainkan tidak jelas atau terlalu abstrak) dan terkesan hanya mengikuti idiom just do it for the sake of money. (Kecuali Bunga Citra Lestari, I guess she must voice another animation film after this). Padahal pengisi suara ini sudah mempunyai kredibilitasnya sendiri di bidang film maupun komedi (sekalipun Butet Kartaredjasa dan Indro Warkop tidak bisa menolong kehancuran dari film ini). Pengisi suara film ini yang harusnya membantu jalannya sebuah film animasi menjadi lebih hidup malah semakin menjatuhkan film ke dasar jurang yang dalam.

Dari segi produksi mulai dari animasi dan musik semua dikerjakan secara terburu-buru, film ini seolah dikerjakan dalam waktu hanya hitungan bulan dan seperti melihat sebuah tugas akhir mahasiswa animasi ketimbang melihat professional di dunia animasi bekerja. Karena hal tersebut saya menemukan banyak sekali miss yang cukup fatal.

Satu hal yang sebenarnya merusak esensi filmnya sendiri adalah, film ini penuh dengan kesombongan dan ke-narsis-an yang sangat terlihat dan terus ditunjukkan ke dalam scene yang endingnya malah membuang-buang waktu. Ibarat kata “mumpung gw bisa masuk dan bikin film, gw sombong-sombongin diri gw aja deh cerita sama visinya belakangan aje”. Hal ini bisa dilihat dari scene di film ini dimana ada adegan yang mengatakan bahwa Juki berkata bahwa “di acara komik independen nih gw berasal” dan ternyata ditolak di komunitas festival komik indie dengan alasan sudah terlalu mainstream. Sang author dan konseptor dari Si Juki juga tiba-tiba mempunyai peran yang sebenarnya saya sendiri bingung sebagai apa, sebagai sidekick bukan,sahabat bukan (karena di beberapa scene si author yang memakai tangan besi ini hanya mau memakai kepopuleran Juki sebagai mesin uangnya dia, sangat sinetron lokal bukan?), mitra bukan, saya bahkan menganggap kemunculan author disini hanya sebagai ajang narsis-narsisan belaka tanpa banyak membantu film untuk setidaknya menjadi lebih baik. (Bayangkan jika pembuat The Simpson terus-terusan muncul dalam film ini selama 40 menit dan tiba-tiba membantu karakter yang ada).

Saya merasakan aura negatif ketika menonton Si Juki The Movie karena banyak hal yang tidak bagus dalam film ini. Film ini tidak mempunyai visi yang jelas, cerita yang menarik, komedi yang menggelitik, animasi yang ala kadarnya, pengisi suara yang tidak sinkron, dan yang paling utama jiwa dari film ini kosong dan sudah banyak terambil dengan hal-hal negatif seperti kesombongan dan keterpaksaan.

Ketika saya membaca Creativity Inc. yang dibuat oleh bos-nya Pixar Ed Catmull film animasi bisa sebesar sekarang karena setiap filmnya dibuat dengan passion, soul, serta perencanaan yang matang dan akhirnya Pixar dan dunia animasi mengalami masa kejayaannya seperti sekarang berkat resep seperti itu.

Hal itu sayangnya tidak terjadi di dalam Si Juki The Movie, film yang harusnya bisa menjadi palang pintu kesuksesan bisnis industri kreatif Indonesia dari segi karakter berakhir 180 derajat seperti apa yang dihasilkan Pixar. Ya, saya tahu jika Indonesia memang harus dikasih joke yang receh dan gak berat tetapi tidak seperti ini akhirannya. Setidaknya dengan menonton Si Juki The Movie kita bisa belajar bahwa kesombongan, ego, tidak visioner, tidak tulus, dan sifat terburu-buru tidak akan membantu untuk membuat industri kreatif berbasis komik atau karakter di Indonesia lebih baik dan kita bisa belajar dari kesalahan sangat besar yang telah dibuat oleh film ini untuk membuat film yang lebih baik lagi.

(NB: Gara-gara menonton film ini saya jadinya menaikkan rating Rafathar menjadi 2.0 karena setidaknya film Rafathar masih membuat saya tertawa)

0.0

 

 

Leave a Reply