Movie Review: In This Corner Of The World (Kono Sekai no Katasumi ni)

IN THIS CORNER OF THE WORLD (KONO SEKAI NO KATASUMI NI)
Sutradara: Sunao Katabuchi
Pengisi Suara: Non, Yoshimasa Hosoya, Minori Omi, Natsuki Inaba, Mayumi Shintani, Shigeru Ushiyama, Daisuke Ono, Megumi Han
Genre: Slice Of Life, Drama, Historical, War
GENCO/MAPPA, 2016

Berbicara soal film perang, Jepang memang seringkali mengeluarkan film animasi yang bertema perang terutama perang dunia kedua dimana Jepang menang dan kalah dalam waktu bersamaan. Momen perang dunia kedua selalu menarik untuk dibahas dalam berbagai macam perspektif dalam medium animasi seperti Barefoot Gen yang diambil dari sudut pandang seorang anak laki-laki yang harus bertahan hidup sehabis perang, Hotaru no Haka yang diambil dari sudut pandang kakak beradik yang harus bertahan di masa-masa sulit sewaktu perang, dan Kaze Tachinu yang diambil dari sudut pandang pembuat pesawat tempur yang bercerita tentang manis pahit kehidupan di masa perang.

Hal yang menarik di semua film di atas adalah film tersebut tidak menglorifikasi sebuah perang dengan segala macam patriotismenya dan kegagahannya seperti film Amerika, film animasi tentang perang dunia yang popular di Jepang justru lebih menampilkan kesan drama yang terkadang dibalut dengan kesedihan atau letupan semangat untuk kembali bangkit sebagai pesan untuk generasi seterusnya bahwa perang menghasilkan tragedi dengan kemenangan sesaat. Hal itulah yang membuat film animasi Jepang tentang perang selalu spesial karena tema yang dibawakannya mampu membuat penontonnya tersedu sedan.

Terkadang dibalik kekejaman perang dan akibatnya kepada warga sipil film animasi perang Jepang menawarkan harapan dan semangat hidup dalam menghadapi kehidupan sehabis perang dan itu digambarkan dengan jelas di sebuah film animasi berjudul Kono Sekai no Katasumi ni atau lebih dikenal di pasar internasional dengan nama In This Corner of The World.

Kono Sekai menjadi sensasi tersendiri di industri film Jepang. Film yang didanai oleh 3374 orang lewat sistem patungan atau crowdfunding ini berhasil membawa pulang banyak penghargaan dan yang paling bergengsi tentu saja mengalahkan Kimi no Na wa penghargaan Film Animasi Terbaik pada penghargaan film tertinggi di Jepang bernama Japan Academy Prize ke-40.

Film yang diangkat dari komik karya Fumiyo Kouno yang telah dirilis pada tahun 2007 ini menceritakan tentang kehidupan seorang gadis mungil asal Hiroshima bernama Urano Suzu (Non). Setelah tumbuh dewasa Suzu pindah ke Kure karena menikah, di sana ia menjadi istri, menantu, ibu rumah tangga, bibi bagi keponakannya. Di balik tubuhnya yang mungil dan berperawakan seperti anak-anak Suzu mempunyai hati yang tegar dalam menjalani hidupnya di tengah puncaknya perang yang sedang panas-panasnya.

kono sekai no katasumi ni repsychoo6 - Copy

Kekuatan terbesar dari Kono Sekai adalah ia menggunakan gimmick slice of life untuk membangun cerita dari awal sampai menuju ke titik klimaksnya. Permainan slice of life tersebut dibangun dengan sangat mulus dan sangat indah seolah-olah kita menikmati kehidupan sehari-hari Suzu sebagai ibu rumah tangga yang polos, lucu, dan menginspirasi. Pacing yang dibawakan dari cerita ini memang terhitung lambat tetapi pacing tersebut tidak membuat cerita ini membosankan karena kita terus terlarut dengan kehidupan Suzu beserta keluarganya yang simple namun ngena ke penontonnya.

kono sekai no katasumi ni repsychoo1

Pacing cerita yang lambat dan terdengar syahdu ternyata merupakan sebuah trik dari pembuat cerita agar penonton terlena dengan ceritanya. Begitu masuk ke momen klimaks dan tragedi penonton seperti disambar sebuah petir yang sangat mengagetkan membuat cerita yang lambat tersebut menjadi sebuah “jebakan” si pembuat cerita. Tragedi yang diberikan di film ini terus diberikan sampai akhir film selesai sehingga film ini menghasilkan sebuah ironi dari sebuah perang, film ini menyuruh orang untuk menangis melihat adegan yang ada tanpa harus diforsir  dengan memasukkan adegan yang berlebihan. Racikan drama dengan slice of life disini berpadu dengan sangat baik dan menghasilkan sebuah cerita yang kokoh dan emosional. Film ini juga mempunyai kadar romantika yang sederhana tetapi umum di kalangan orang-orang. Tidak ada romansa yang fiksi disini, kisah cinta yang ada di dalam film ini begitu mengalir dan tidak hanya sekedar hubungan suami-istri atau seseorang dengan cinta pertamanya.

Hal yang paling gila dari cerita yang ada di film ini adalah bagaimana momen kehilangan keluarga dan saudara setelah perang begitu ketara dengan jelas. Banyak adegan yang menggambarkan hal ini bahkan di 30 menit terakhir film ini selesai diputarkan, strategi ini dikeluarkan bukan untuk membuat penontonnya berlinang air mata tetapi mempunyai pesan bahwa perang hanyalah membawa bencana psikologis bagi para korbannya semkain terlihat. Salah satu quote yang paling menusuk saya ketika menonton film ini adalah ketika Suzu berkata “Apakah kita kalah dengan kekerasan?” sewaktu mengetahui bahwa Jepang menyerah dan kalah pada pertarungan bernama Perang Dunia II, selain itu banyak kata-kata menohok tentang kekejaman perang di akhir cerita yang semakin menguatkan tema anti-war dalam film ini. Kata-katanya memang sederhana tetapi sesuai dengan gambaran besar yang ingin dibawakan oleh film ini.

kono sekai no katasumi ni repsychoo2

Dari segi karakter, Suzu merupakan salah satu contoh pengembangan karakter yang sempurna dari awal sampai akhir. Proses karakter Suzu sangat manusiawi dan sangat natural untuk ukuran karakter fiksi. Suzu memulai hidup sebagai anak yang biasa saja dan memulai kehidupan dewasanya menjadi seorang ibu rumah tangga yang harus tegar dalam menghadapi masa sulit. Meskipun karakter Suzu terbilang cukup muda untuk ukuran ibu rumah tangga namun ia benar-benar sangat dewasa dalam menghadapi berbagai macam masalah hidup, penggambaran konflik diri dari Suzu juga berjalan sangat natural dan tidak dilebih-lebihkan layaknya orang pada umumunya ketika menjalani usia dan kehidupan seperti Suzu. Titik paling hebat dari karakter Suzu adalah, ia terus mengumandangkan semangat kemandirian dan ketangguhan seorang wanita tanpa harus dengan lantang meneriakkan jargon feminisme atau empowerement.

Karakter pendukung lain yang ada juga terlihat sangat natural dan mendukung apa yang ada di film ini. Semuanya seolah memberikan feels yang sama terhadap filmnya entah itu saudara dari suami Suzu, ibu-ibu di sekitaran rumah Suzu sampai wanita penghibur. Semua diceritakan dengan cara yang sederhana dan tidak menuntut penontonnya untuk benar-benar detail dalam memahami karakter yang ada di dalam film ini.

Non yang menjadi pengisi suara Suzu tahu betul bagaimana menyuarakan gadis yang sederhana nan polos namun mempunyai semangat hidup yang tinggi dan pantang menyerah. Pengalamannya menjadi aktris dari serial TV fenomenal Amachan benar-benar membantunya dalam menghidupkan karakter Suzu yang hampir mirip dengan karakter Aki Amano pada serial tersebut.

kono sekai no katasumi ni repsychoo3

Visual yang ada dalam Kono Sekai no Katasumi ni terlihat ringan dan tidak ada permainan animasi yang begitu “wow” atau bombastis. Garis-garis dan animasi yang muncul memang terlihat sedeharna tetapi begitu menyatu dengan format filmnya yang mengedepankan kesederhanaan seorang gadis sehingga menghasilkan suatu formula visual yang enak dilihat dan gampang diresapi. Penggambaran suasana Hiroshima dan Kure ditawarkan dengan sangat indah tanpa harus menaruh detail seperti Kimi no na wa tetapi hasilnya masih terlihat indah dan maksimal. Suasana perang yang dimunculkan dalam film ini benar-benar detail dan begitu mengena ke penontonnya tanpa perlu membuat suasana tegang atau mencekam.

Sebagai sebuah film sejarah musik yang hadir juga sesuai dengan eranya. Kotringo yang merupakan didikan pentolan Yellow Magic Orchestra Ryuichi Sakamoto menaruh feel melankolis yang luar biasa terhadap musik dan lagu yang bersemayam dalam film ini. Musik dan lagu yang muncul terkadang memberikan kebahagiaan dan kelembutan tetapi juga bisa membuat sedih dan menghunus pendengarnya dengan irama tragedi yang mampu mengundang air mata untuk jatuh apalagi ketika adegan-adegan sedih terus menerus bermunculan.

Sunao Katabuchi sebagai sutradara yang sebelumnya pernah membantu film Ghibli seperti Kiki’s Delivery Service membawakan Kono Sekai no Katasumi ni secara luar biasa sempurna. Katabuchi mampu membawakan tiga volume dari buku ini dalam waktu 128 menit dengan sangat sempurna tanpa ada plothole atau tambahan berlebihan yang mungkin dapat merusak suasana cerita yang indah. Materi komik yang simpel dibawakan dengan luar biasa penuh penghayatan oleh Katabuchi dan semua yang terlibat dalam proyek ini sehingga mampu menjadikan film ini sebagai salah satu adaptasi komik yang terhitung sempurna.

Katabuchi juga mengembalikan apa yang hilang dari film animasi penuh selama beberapa tahun ke belakang yaitu bersatunya konsep yang kuat dengan narasi cerita yang umum dan visual yang simpel. Kebanyakan film animasi sekarang mencoba segala cara untuk terlihat bombastis untuk menarik perhatian tetapi Kono Sekai no Katasumi ni seolah back to basic dan lebih mempercayakan kekuatan dari sebuah cerita perang ketimbang bermain dengan visual yang mampu membuat mata takjub tetapi tidak membekas di penonton dari segi cerita.

kono sekai no katasumi ni repsychoo5

Kono Sekai no Katasumi ni adalah sebuah kisah seseorang yang sederhana, tetapi kesederhanaan itu diolah sedemikian rupa dengan memasukkan banyak pesan soal kehidupan tanpa harus menggurui dan terdengar persuasif. Film ini juga berhasil menangkap kesederhanaan dalam tingkat yang lebih tinggi tanpa harus merusak makna sederhana tersebut. Kono Sekai no Katasumi ni adalah sebuah cerita seseorang yang biasa dengan kehidupan yang luar biasa.

9.5

Like Fanpage RE:PSYCHO pada tautan ini

One thought on “Movie Review: In This Corner Of The World (Kono Sekai no Katasumi ni)

  1. Luar biasa reviewnya, mas. Setuju dengan pendapat mas di review, build up story itu penting untuk memberikan efek yang besar di penghujung cerita. Art & animasinya ngena banget + ost nya. Berasa kita penonton dibawa masuk ke dalam ceritanya.
    Terlebih menurut saya, film ini juga membahas feminism dengan sangat baik. Misalnya Suzu, kehilangan dan tragedi yang menimpanya memang sangat berpengaruh, tapi dia selalu ingat kalau masih ada orang yang dia sayangi dan lindungi. Mungkin menurut saya itulah sisi “in this corner of the world” nya Suzu.

    Great Review, Mas. Top dah.

Leave a Reply