Ternyata Lagu-Lagu Barat Ini Tidak Laku di Jepang Lho, Kenapa Ya?

bCoba tebak lagu internasional yang paling laku di Indonesia saat ini apa? Pasti jawabannya sama dengan Amerika Serikat atau Inggris yaitu Ed Sheeran – Shape Of You, Luis Fonsi – Despacito, Drake – One Dance, Adele dengan lagu melankolisnya dan The Chainsmokers  dengan lagu-lagunya yang nagih tapi yah begitulah.

Sekarang coba tebak lagu internasional alias lagu barat yang terkenal di Jepang saat ini. Jawabannya bukan kelima lagu di atas melainkan sebuah lagu dari tahun 2015 dari penyanyi yang dulunya digadang-gadang sebagai next Justin Bieber yaitu Austin Mahone dengan “Dirty Work”. “Dirty Work” berhasil menembus posisi 10 besar di chart tengah tahun Billboard Japan Hot 100 berkat performa lagunya dari berbagai macam platform musik digital di Jepang, radio dan televisi juga tidak bosan-bosannya memutarkan lagu ini. Beberapa tahun sebelumnya lagu dari Carly Rae Jepsen “I Really Like You” juga berhasil menjadi lagu internasional terlaris di Jepang tetapi performa lagu ini di Amerika Serikat dan di Inggris biasa-biasa aja.

Ada beberapa hal kenapa lagu-lagu barat yang sering kita dengarkan di radio atau di Spotify dan Joox tidak terdengar gaungnya di Jepang dan terkadang iklim lagu internasional di Jepang suka berbanding terbalik dengan iklim lagu dunia. Kali ini RE:PSYCHO akan membahas kenapa lagu barat yang sering kita dengar tidak sukses di Jepang.

  • Artis itu gak mau tur atau promo di TV Jepang

Album Adele ga laku di Jepang lhoi
Album Adele ga laku di Jepang lhoi

Siapa sih yang ga tau Adele? Semua orang di Indonesia pasti tau Adele atau minimal pernah terpapar dengan lagu Never mind I find someone like youuuuuuuuuuuuuu. Penjualan album terbaru Adele berjudul 25 terhitung fantastis dan memecahkan rekor di sana sini. Album ini berhasil terjual sebanyak 8 juta kopi di minggu pertamanya saja dan menjadi juara satu di berbagai macam chart dunia. Tapi tahukah kamu di negara mana album terbaru Adele hanya duduk di posisi ketujuh di minggu pertamanya? Ya, jawabannya adalah Jepang.

Album 25 hanya berhasil terjual kurang dari 10 ribu kopi di minggu pertama album ini dirilis di Jepang, sebuah angka yang “fantastis” bukan. Adele kalah telak dari AKB48, personil 2PM yang saya sendiri juga tidak tahu siapa, penyanyi R&B yang merupakan Mary J Blige versi Jepang, dan Taylor Swift dalam versi yang lebih imut dan R&B.

Alasan terbesar dari rendahnya penjualan album Adele adalah ia sama sekali tidak mempromosikan albumnya di Jepang. Pada promo album terbarunya Adele hanya memfokuskan diri ke Eropa dan Amerika Serikat dan bukan di Jepang sehingga orang Jepang sendiri tidak tahu menahu soal Adele meski ia bolak balik dapat Grammy yang menjadi tolak ukur musik internasional di Jepang.

Bruno Mars di salah satu program TV Jepang "Music Station"
Bruno Mars di salah satu program TV Jepang “Music Station”

Tengok Bruno Mars, Lady Gaga, Taylor Swift, dan Carly Rae Jepsen yang bersedia meluangkan waktunya untuk pergi ke Jepang dan tampil di acara TV yang bergengsi di sana seperti Music Station. Penampilan mereka di Jepang mempunyai pengaruh besar terhadap penjualan album mereka dan keempat artis yang saya sebutkan di atas berhasil membawa pulang plakat Gold atau terjual sebanyak lebih dari 100 ribu kopi di Jepang, sebuah hal yang jarang terjadi pada artis musik internasional terutama di era serba digital seperti sekarang.

  • Harus masuk ke iklan, jadi lagu buat drama atau sering terpapar lagunya di TV Jepang

    Sering terpapar di TV Jepang membuat Austin Mahone berkolaborasi dengan artis di sana
    Sering terpapar di TV Jepang membuat Austin Mahone berkolaborasi dengan artis di sana

Salah satu faktor kepopuleran sebuah lagu disana biasanya masuk menjadi lagu tema untuk iklan atau lagu drama atau dorama di Jepang. Lagu Jepang pun banyak yang sukses berkat strategi ini seperti Suchmos yang melesat berkat lagunya masuk di iklan mobil atau Gen Hoshino yang sukses berkat menjadi lagu tema untuk dorama.

Untuk masuk menjadi tie-in suatu dorama atau lagu untuk iklan memang tidak mudah tapi bukan tidak mungkin, diperlukan lobi yang terbilang cukup lama antara label, manajemen artis, dan pembuat iklan/pembuat drama tetapi jika sudah berhasil mendapatkan kesempatan untuk mengisi lagu dorama apalagi dorama laris biasanya kesuksesan akan mengikuti. Artis barat sendiri sedikit kesusahan untuk masuk ke bagian ini karena biasanya yang mengurus hal-hal seperti ini adalah representatif label mereka di Jepang dan biasanya label memprioritaskan artis lokal terlebih dahulu ketimbang artis luar negeri.

Contoh dari kasus ini adalah kepopuleran Austin Mahone dengan “Dirty Work” di Jepang. Lagu ini merupakan lagu yang dirilis tahun 2015 dan di negara tempat Austin berada Amerika Serikat lagu ini tidak laku sama sekali. Tetapi di Jepang lagu ini popular berkat sering terpapar di TV Jepang karena menjadi lagu pengiring penampilan dari komedian yang naik daun di sana bernama Buruzon Chiemi. Walhasil “Dirty Work” sukses duduk di posisi keempat dan berhasil menjadi 10 lagu terlaris di Jepang selama pertengahan tahun 2017 versi Billboard Japan.

BACA JUGA: 5 ALASAN KENAPA LAGU JEPANG JARANG ADA DI SPOTIFY DAN YOUTUBE

  • Album atau lagu internasional tidak dirilis lewat CD lagi

tower records repsychoo

Coba deh amati rilisan single atau album artis internasional sekarang, biasanya mereka merilis materi baru mereka dalam bentuk digital bukan dalam bentuk fisik. Hal ini membuat mereka susah untuk laku di Jepang dimana penjualan CD masih menjadi rajanya disana.

Penjualan via digital atau lewat streaming media menjadi pilihan pertama para artis internasional dalam merilis karyanya karena biaya yang dibutuhkan untuk mengedarkannya jauh lebih murah ketimbang merilis secara fisik apalagi jika itu hanya berisi 1 atau 2 buah lagu. Di Jepang mereka masih mengandalkan CD untuk menjual musiknya entah itu isinya 1 atau 2 lagu didalamnya, penjualan digital di Jepang sendiri terhitung bagus tetapi masih kalah telak ketimbang penjualan CD dengan perbandingan 1 : 8. Orang Jepang juga biasanya lebih menyukai jika artis tersebut tampil di toko CD memberikan penampilan gratisnya dalam ranga mempromosikan karya terbaru mereka. Rilisan CD artis internasional di Jepang juga biasanya tidak menampilkan bonus tertentu seperti stiker, poster,atau clear file dan membuat kebanyakan orang tidak tertarik dengan artisnya atau lebih memilih membeli di digital store atau mendengarkan via streaming karena biayanya jauh lebih murah.

  • Artis lokalnya masih diminati

Arashi masih jauh lebih diminati daripada boyband barat
Arashi masih jauh lebih diminati daripada boyband barat

Jepang memang menjadi negara kedua terbesar dalam hal penjualan musik tetapi hampir 80% penjualannya dari artis Jepang bukan dari artis internasional. Berbeda dengan negara lain dimana artis internasional masih memegang kendali penjualan musik domestik di negara tersebut pendengar musik Jepang masih suka dengan musik dari negeri mereka sendiri. Di tangga lagu Oricon dan Billboard jarang sekali kita menemukan artis internasional yang masuk ke posisi 10 besar di Jepang jikalau ada pasti artis tersebut mengikuti tiga cara di atas. Pasar Jepang adalah pasar yang unik, butuh kedekatan yang lebih dalam dengan masyarakat Jepang untuk bisa membuat suatu artis internasional bisa mendapatkan kepopuleran di Jepang.

Header Photo: http://www.japantimes.co.jp/culture/2017/01/28/music/big-japan-artists-abroad-may-find-difficult-draw-crowd/

Like Fanpage RE:PSYCHO pada tautan ini

2 thoughts on “Ternyata Lagu-Lagu Barat Ini Tidak Laku di Jepang Lho, Kenapa Ya?

  1. Ngadain Japanese Bonus Track memang nggak cukup ya 😉 Maxi-single pun masih banyak kejual laris di sana dalam bentuk CD.

    Kehadiran musisinya sih yang paling jadi aspek menonjol. Nggak pernah maen ke sana ya jadi orang-orang nggak pada bisa interaksi, bahkan untuk sekadar peduli ke artisnya pun ga kerasa menarik.

    Industri musiknya masih bisa dibilang agak mirip sama preferensi human resource di dunia kerjanya.

Leave a Reply