Album Review: Maliq & d’Essentials – Senandung Senandika

1200x630bb (1)

MALIQ & D’ESSENTIALS
SENANDUNG SENANDIKA
ORGANIC, 2017
Genre: Art Pop, Synthpop, New Wave

Maliq & D’Essentials memang tidak seperti grup musik Indonesia lainnya. Dari album ke album Maliq memadukan berbagai macam genre musik seperti indie rock bahkan sampai dangdut dalam “Sriwedari”, dan “Musik Pop” yang memadukan musik ambient dengan segala mistisme dan flamboyanisme dari musik 80’an. Anehnya mereka masih bisa membuat musik yang enak dan catchy meski memadukan banyak genre dan itu membuat Maliq menjadi spesial dan berkembang secara pesat dari segi musikalitas dari karya pertama mereka “1st”.

Bertepatan dengan ulang tahun Maliq yang ke-15 mereka merilis album ketujuh mereka berjudul “Senandung Senandika” yang masih melanjutkan perjalanan Maliq dengan nafas barunya dalam koridor art pop dan meneruskan ekstasi new wave, 80’an serta electronica di album “Musik Pop” yang menjadi salah satu album Indonesia terbaik sepanjang masa dan menjadi karya Maliq yang paling eksperimental nan jenius. Dua single diluncurkan sebelum album ini dirilis yaitu “Sayap” dan “Senang”. “Sayap” didaulat menjadi pembuka album dan langsung membuai pendengarnya dengan desiran sitar yang menggoda sebelum dipukul dengan arsiran musik 80’an yang dipakai Phoenix dalam “Bankrupt” dan Prince. Lagu ini tidak berhenti sampai disitu karena di bagian akhir lagu mereka menghantam dengan sentakan post-punk/alternative rock ala New Order dalam album “Get Ready” (terutama pada lagu “Crystal” dan “60 Miles an Hour”). “Senang” memanggil kembali arwah Yellow Magic Orchestra dalam album “Naughty Boys” dengan tambahan musik bubblegum pop (dan secara kebetulan mereka mengambil video klip ini di Jepang).

Suasana citypop dan musik ala Fariz RM di era 80’an dapat ditemukan di “Musim Bunga” yang kental dengan nuansa fusion dengan nuansa pop. Manuver musik trip hop 90’an dibawakan di “Titik Temu”, sedikit ada rasa KLa Project “Sudi Turun Ke Bumi” pada lagu ini. “Manusia” mencoba mengembalikan masa-masa ketika mereka masih di Warner Music Indonesia terutama di album “1st” dan “Free Your Mind”.

Menilik dari kata senandika yang bermakna wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar. Beberapa lagu yang ada di album ini memang diambil dari sudut pandang orang pertama dengan kehidupan sehari-hari seperti “Maya” yang merupakan lagu paling politis yang pernah mereka buat. Mereka membalut tema akan kesemuan dari media sosial, berita hoax, dan kondisi politik yang semrawut akibat media sosial yang tidak terkontrol dengan musik yang unik. Pertama mereka membungkus musiknya dengan musik nasyid sebelum disambung dengan musik Hi-NRG dan funk 70’an ala Giorgio Moroder + dentuman synth lalu ditutup dengan raungan gitar psychedelic rock yang penuh dengan gairah, seolah mempertemukan Rhoma Irama dengan dunia musik disko. Sebuah lagu yang didedikasikan untuk pahlawan tanpa tanda jasa “Kapur” dibawakan dengan gaya seperti Katon Bagaskara “Negeri di Awan” yang berpadu dengan neo soul, “Idola” yang bermain dengan gaya akustik. Irama new wave dibawakan di “Senandung Senandika” yang dieksekusi dengan megah namun sedikit terdengar kosong.

Dari musikalitas memang Maliq terdengar rapat dan berisi dalam album “Senandung Senandika” namun entah mengapa dibandingkan album sebelumnya ketika mereka di Organic Records album ini menjadi album yang paling lemah. Maliq terlalu ambisius dan mengolah berbagai macam musik, mereka seolah melupakan slogan keep it simple but unique yang selalu menjadi senjata mereka di setiap album dalam “Senandung Senandika”. Imaji yang mereka tawarkan di album ini terdengar begitu kompleks dan besar tetapi sayangnya arahan musik mereka terlalu aman, tidak seperti “Musik Pop” dimana mereka benar-benar mengerahkan jiwa eksperimentalnya dan menghasilkan alunan yang indah dengan alunan musik yang tenang dan dapat diresapi oleh jiwa raga. Hal tersebut tidak bisa kita dapatkan di “Senandung Senandika” karena musik mereka di album ini berjalan terlalu rapat dan tidak memberi ruang untuk pendengarnya mencerna musik dan apa yang mereka ingin sampaikan di album ini.

Tetapi untuk ukuran musik Indonesia album ini masih terasa spesial dan berbeda karena berani mencoba rasa baru yang menambah khasanah musik Indonesia. Interpretasi Maliq terhadap musik Indonesia jaman dahulu juga tertuang jelas di album ini yang banyak meminjam musisi legendaris loakl seperti KLa Project, Fariz RM, dan lain sebagainya. Maliq juga ingin kembali ke roots musik mereka yaitu neo soul sehingga pendekatan musik dengan genre ini akan terdengar di berbagai lini album. Senandung yang didendangkan kali ini mungkin terlihat lemah dan kurang kuat untuk beresonansi dengan pendengarnya, but hey it’s Maliq & d’essentials anyway so it’s still good.

6.8

TRACK LIST: (Lagu yang diberi penebalan merupakan key track)

  1. Sayap
  2. Musim Bunga
  3. Maya
  4. Senang
  5. Kapur
  6. Idola
  7. Titik Temu
  8. Senandung Senandika
  9. Manusia

Like Fanpage RE:PSYCHO pada tautan ini

 

Leave a Reply