linkin park repsychoo

Album Review: Linkin Park – One More Light

51M9slaXduL._SS500

LINKIN PARK
ONE MORE LIGHT
WARNER, 2017
Genre: Electropop, Pop Rock

Ah, siapa sih yang ga ingat dengan Linkin Park? Iya, itu band yang membuat kita mengenang masa SD dimana kita selalu menunggu video klipnya tayang di MTV, rela menabung demi kaset “Meteora”, dan di kelas kita mencoba menyanyikan lagu mereka seperti “Aimbikamsonaaaaaaaammmm, Ikanfilyuthere” dan “indienitdasneivenmeter” sambil mencoba menyanyi secara scream seperti mereka. Linkin Park merepresentasikan mimpi kita ketika SD dimana menjadi remaja yang menyukai musik nu-metal terlihat keren dan semua orang mulai dari teman kamu sampai tukang jaga warnet mendengarkan lagu-lagu dari Linkin Park. Ah, sebuah masa kecil yang indah.

Tidak terasa waktu berlalu, kamu adalah seseorang yang sudah lulus kuliah dan sudah siap untuk terjun di masyarakat. Selera musik kamu berkembang dari masa ke masa, kamu mulai mendengarkan The Beatles ketika SMP, Arcade Fire di waktu SMA, dan berbagai macam musik indie mulai dari lokal sampai internasional lewat Spotify pada waktu kuliah. Tetapi band yang kamu puja sewaktu SD bernama Linkin Park itu tetap tumbuh bersama racikan nu-metal nya meski sesekali mereka menjadi industrial (“A Thousand Suns”, “Living Things”) dan hard rock (“The Hunting Party”).

Kamu tiba-tiba mendengar kabar bahwa Linkin Park akan merilis album ketujuh berjudul “One More Light” yang terdengar begitu menyejukkan karena dari judulnya mereka akan kembali ke light mereka yaitu musik keras dengan scream yang membabi buta. Begitu kamu mendengar single pertama dari albumnya “Heavy”, kamu langsung bertanya “ini mah judulnya doang yang heavy lagunya kok jadi kaya gini ya”. Tetapi kamu membiarkan hal tersebut karena toh lagunya memang enak dan tetap mendengarkan album penuh mereka ketika dirilis. Setelah albumnya dirilis kamu merasa sedikit bingung dan terus bertanya-tanya ini beneran Linkin Park? Kalau lagu-lagu yang ada di album ini dibawakan secara live gimana? Masa gitarisnya harus ngopi sama ngerokok dulu kalau mainin lagu-lagu yang ada di album ini.

“Nobody Can Save Me”  membuka album ini dan kamu mulai bertanya kenapa ada selipan musik dubstep di tengahnya, masalahnya adalah musik seperti ini sudah usang dan terakhir relevan pada tahun 2013 – 2014. Bahkan kehebatan dua rapper bernama Pusha T dan Stormzy tidak membuat “Good Goodbye” menjadi semakin baik. Track ini malah menjadi track yang sangat sangat sangat datar dan tidak mempunyai jiwa (dan dilengkapi dengan suara chipmunk dong). “Talking to Myself” adalah sebuah nomor pop rock dari band medioker 90’an yang namanya mungkin sudah tidak terdengar lagi (dan mereka malah mencoba menjadi Imagine Dragons disini Ya Tuhan).

“Battle Symphony” dan “Halfway Right” adalah track EDM yang membuat kamu tertidur karena kosongnya beat yang ditawarkan dan selipan trap yang sangat tidak penting. “Invisible” setidaknya masih terdengar sedikit enak namun sayangnya vokal Mike Shinoda tidak pas untuk membawakan lagu ini. “Sorry For Now” adalah lagu yang harusnya pantas dibawakan oleh Owl City (ya, itu musisi yang membawakan “Fireflies”) dan OH DENGARKAN REFF PADA LAGU INI, MEREKA INGIN MENJADI THE CHAINSMOKERS LENGKAP DENGAN TEMPLATE BEAT EDM-NYA. ASTAGA.

“One More Light” mampu menyelamatkan album ini dengan nada mellow dan ambient-nya tapi kebagusan itu sayangnya dirusak oleh lagu penutupnya “Sharp Edges” yang ASTAGANAGA MEREKA MEMAINKAN FOLK-EDM SEPERTI AVICII DALAM “WAKE ME UP”. Hal tersebut akan sangat epik jika lagu ini dirilis pada tahun 2014 (tapi jika lagu itu dirilis pada tahun 2014 juga belum tentu akan laku).

Mendengarkan “One More Light” terasa seperti mendengarkan orang tua yang ikut berusaha menjadi kekinian dengan memainkan musik-musik pop Top 40 yang sering diputar di Prambors ribuan kali sampai kamu enek tetapi hasilnya gagal total. Jujur saja, meski sudah diputar 4 kali berturut-turut kamu tidak akan menemukan titik enak atau catchy dari lagu-lagu yang ada di album ini, ini tentunya merupakan kegagalan dalam membuat musik pop. Okelah kalau misalnya album ini merupakan album paling personal Chester dan personil Linkin Park lainnya tetapi album ini terasa amat sangat kosong dan tidak bernyawa. Musik yang mereka bawakan juga ga terdengar keren karena semuanya sudah dipakai pada tiga tahun lalu dan orang-orang sudah bosan dengannya (saya tidak tahu kenapa album ini bisa laris di Amerika Serikat dan Jepang, mungkin karena faktor fanbase mereka yang besar atau memang para fans loyal mereka masih denial soal Linkin Park yang sudah banting setir terlalu jauh).

Kamu melihat sebuah artikel dimana Chester Bennington vokalis Linkin Park berkata “GW GA AKAN SEGAN MEMUKUL SIAPAPUN YANG BILANG BAHWA LINKIN PARK SUDAH MAINSTREAM DAN MENJUAL DIRI KEPADA POP!!!!!1111!!!!!!1” dan sadar bahwa kamu sudah siap untuk move on dan berpisah dengan Linkin Park karena mereka jauh lebih emo dan anak-anak daripada kamu.

NB: At least album terbaru The Chainsmokers masih enak didengar daripada album ini (beneran).

0.5

TRACK LIST: (Lagu yang diberi penebalan merupakan key track)

  1. Nobody Can Save Me
  2. Good Goodbye (feat. Pusha T and Stormzy)
  3. Talking To Myself
  4. Battle Symphony
  5. Invisible
  6. Heavy (Feat. Kiiara)
  7. Sorry for Now
  8. Halfway Right
  9. One More Light
  10. Sharp Edges

Like Fanpage RE:PSYCHO pada tautan ini

 

Leave a Reply