sumber: marketingmag.ca

Kerja di Industri Game Gak Cukup Cuman Bisa Ngoding Dan Gambar Doang

Ketika saya mengumumkan akan berangkat ke Creators Super Fest pada akhir April kemarin semua orang tiba-tiba langsung nge-tag saya untuk diajak ngobrol dan diajak sharing pengalaman (maklum saya kalau ke event besar suka sibuk karena biasanya ada kerjaan yang harus diurus di sana). Waktu itu media tempat saya bernaung sekarang Jurnal Otaku mempunyai banyak pekerjaan yang harus diselesaikan pada Creators Super Fest dan saya ditunjuk menjadi MC untuk bagian wawancara dan bagian yang narik-narik circle untuk diwawancarai, ketika waktu senggang tiba seorang teman saya langsung menarik saya. Dia memang ingin sekali mendengar cerita saya di industri game developer lokal karena kebetulan dia dan temannya mayoritas anak Ilmu Komputer di salah satu universitas negeri ternama.

atelier-jeux-videos

“Fi, gimana rasanya masuk ke cool industry nih alias industri game lokal. Temen-temen gw pada bingung tau pas lu masuk di perusahaan game.”

“Alah, gitu-gitu aja nothing special. Sama kaya lu kerja di industri kreatif juga kok cuman bedanya lu harus ngerti beberapa hal teknis gitu.”, balas saya yang juga bingung karena ternyata industri game di Indonesia sedang panas-panasnya dan tiba-tiba menjadi banyak peminat.

“Temen-temen gw pada iri tau lu masuk situ, soalnya kan masuk ke sana kan susah banget. Temen gw yang apply ke sana banyak ga keterima dong padahal dia ngodingnya lebih pintar daripada gw.”

Hmmm, saya juga berpikir kenapa temannya dia ga bisa keterima di kantor saya padahal dia bisa ngoding. Ada satu lagi kejadian, teman saya ada yang art-nya jago banget dan sudah saya anggap bagus kalau misalnya soal gambar-gambaran tapi tetap gak diterima juga.

Kegalauan tersebut sedikit terjawab ketika saya datang ke kantor pas di hari libur untuk mencari wi-fi gratisan sambil menyicil deadline. Saya lalu bertanya kepada supervisor saya soal kenapa sih masuk ke situ susah dan problematika yang ada di developer game lokal.

“Jaman sekarang tuh ga cukup cuman bisa ngoding dan punya art yang bagus.”, jawab supervisor saya.

“Loh kenapa?”

“Alasannya kenapa, ah lu cari tau aja sendiri. Gw yakin lu tau kan alasannya.”

Karena supervisor saya tahu bahwa saya orangnya adalah tipe explorer dan curious alias suka nyari tau sendiri saya berpikir sejenak untuk mendapatkan jawabannya.

“Hmmmm, harus butuh ilmu manajerial, marketing sama bisnis juga ya.”, jawab saya

“Yap”

Jago IT sama Gambar Tidak Cukup

Industri game lokal memang sedang panas-panasnya. Menurut data dari Newzoo pada tahun 2015 Indonesia memang menjadi negara yang paling berkembang dari segi pendapatan lewat game. Indonesia menyumbang sebesar Rp. 4,17 triliun rupiah dari total pendapatan industri game di Asia sebesar Rp. 5,554 kuadriliun alias Rp. 5554 triliun (!). Sayangnya para developer  lokal hanya mengambil 1.8 persen saja dari keuntungan yang super fantastis ini.

Ketika saya bertemu dengan komunitas game developer di Bandung saya langsung kaget. “Waduh, banyak banget ya ternyata yang bikin game dari yang iseng iseng bikin di Flash sampai yang professional.” kata saya. Di Bandung saja sudah banyak apalagi jika dirangkum ke seluruh Indonesia tetapi pengetahuan ngoding dan bikin game terkadang tidak diikuti dengan pengetahuan yang lainnya seperti pengetahuan di industri hiburan dan pengetahuan bisnis.

(Eits, kenapa bahasnya jadi industri hiburan?. Karena sejatinya saya memperlakukan game sebagai sub-kategori dari industri hiburan sama seperti industri musik, film, seni, sastra dan lain-lainnya, toh pada dasarnya game dibuat untuk menghibur orang dan masuk ke dalam kebutuhan tertier manusia.)

Stereotip yang timbul ketika masuk ke industri game lokal adalah yang penting bisa ngoding dan gambar udah cukup, tapi pada kenyataan dua modal tersebut malah membuat suatu game bisa gak kelar-kelar bahkan bisa membuat perusahaan gulung tikar. Game developer di era sekarang juga bersaing dengan industri IT lain seperti social media, e-commerce, fintech, aplikasi jasa dan transportasi online untuk meraih keuntungan besar di kalangan pengguna smartphone di Indonesia sehingga dibutuhkan ilmu marketing atau ilmu jualan serta ilmu manajerial untuk bisa bertahan atau setidaknya bisa memenuhi kehidupan sehari-hari dari dunia game. (Kalau ga percaya betapa susahnya kerja di dunia game lokal, silahkan baca artikel Tech In Asia tentang hal ini.)

1c43c2f70cb766428791c4c2e4e05ca2_original

Contoh yang bisa dilihat dari hal ini adalah game lokal bernama Pale Blue. Pada masanya Pale Blue digadang-gadang sebagai calon game lokal terbaik dan sensasional karena mampu meraih hampir Rp. 800 juta dalam waktu cepat di Kickstarter dan diiringi dengan art yang super fantastis, nyatanya game ini mengalami apa yang disebut development hell atau suatu istilah dimana pengembangan suatu produk terus mengalami perkembangan tetapi gak ada kemajuan sama sekali selama tiga tahun. Pada akhir April 2017 mereka menulis update di halaman Kickstarter mereka setelah sekian lama dan kebanyakan berisi “pengakuan dosa” mereka. Permasalahan terbesar team-nya pada waktu itu adalah mereka sama sekali tidak tahu marketing, manajerial, segmentasi pasar dan hal-hal berbau bisnis lainnya sehingga mereka membuat game asal jadi dan asal senang saja. (Tim Pale Blue kembali melanjutkan proyek ini dan masih ingin membuat Ellen dan teman-temannya menjadi hidup, kita doakan saja mudah-mudahan mereka berhasil membuat prototype-nya)

Ilmu Jualan Dimana-mana Sama Saja

images

Pembekalan ilmu jualan dan manajerial terutama di industri game lokal memang sangat kurang sekali. Kalau misalnya saya melihat di setiap seminar yang bahas soal game dari komunitas kecil-kecilan sampai skala menengah jarang sekali ada yang membahas bagaimana cara mencari sesuap nasi dari dunia game dan bagaimana menjalankan suatu bisnis dengan segala pemahaman marketing dan penjualan di industri game.

Beberapa ada yang mengatakan kaya gini:

“Ah ngapain ngurusin jualan, yang penting bikin game semau gw udah cukup.”

“Itu kan urusan marketing ngapain gw ngurus juga. Ga ada hubungannya gw belajar marketing juga sama ngoding.

Meski industri game tulang punggungnya adalah ngoding dan gambar tetapi tidak ada salahnya untuk belajar ilmu jualan. Kebanyakan game developer menghindari hal ini karena mereka terpaku pada ngetik-ngetik kode doang di komputer dan cenderung pasif dalam mengembangkan sesuatu sehingga mereka tidak mempunyai ketertarikan akan ilmu jualan (mungkin karena para programmer dilahirkan dengan trait Introvert sehingga cenderung pasif dalam mengutarakan sesuatu).

Buku dan sumber tentang cara jualan yang baik dan benar pada dasarnya sama saja dan bisa diaplikasikan ke hampir semua industri untuk meraup keuntungan yang lebih daripada kompetitornya. Jadi kenapa tidak untuk sedikit membaca ilmu jualan dan menjadi sedikit lebih aktif ketika ditanya mau ke mana arah game-nya agar kamu juga bisa percaya diri dengan apa yang kamu buat serta bisa menikmati hasil dari kerja keras selama masa pembuatan.

Semuanya Berperan Menjadi Product Owner

ProductOwnerAndStakeholders

Mau dibilang game itu sebuah karya seni kek, sebuah hiburan kek atau sebuah pengalaman yang mampu mengubah hidup tetap saja sebuah game adalah sebuah produk yang harus dibuat dan dijual untuk dimainkan mau itu game untuk khalayak ramai atau untuk khalayak tertentu.

Suatu produk haruslah mempunyai product owner yang bertugas menjadi penanggung jawab produk tersebut dengan kata lain product owner harus menciptakan apa yang dimiliki oleh aplikasi tersebut sesuai dengan kondisi pasarnya. Product owner minimal harus mengerti semuanya mulai dari konsep sebuah produk yang dapat menjual, proses pembuatannya sampai ke after sales produk tersebut. Intinya seorang product owner harus mempunyai rasa memiliki produk yang ia ciptakan dan mempunyai faith yang tinggi terhadap produknya sendiri.

Memang product owner adalah jabatan yang hanya bisa dimiliki oleh satu orang atau beberapa orang tetapi alangkah baiknya jika satu team juga merasa menjadi product owner dari game yang sedang mereka kerjakan. Secara tidak sadar jika tim sudah mempunyai rasa memiliki game tersebut mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat produknya bisa diwujudkan dalam bentuk yang sangat maksimal sehingga orang merasa puas dan ketagihan akan produkmu

Pengetahuan tentang game yang kita ciptakan juga menjadi tugas product owner tapi anggota tim juga harus ditanam sebelum membuat game, males banget kan kalau ditanya macem-macem sama siapapun tentang game buatanmu dan kamu gak bisa jawab karena kamu merasa hanya bikin kodenya dan gambarnya terus udah gitu aja bisa-bisa kamu dianggap gak profesional.

Sebelum membuat suatu proyek alangkah baiknya satu team mengerti soal gimana caranya menjual game tersebut. Tidak usah terlalu dalam juga tidak apa-apa yang penting dasar-dasarnya saja yang tahu. Memang di beberapa perusahaan ada tim marketing yang bertugas untuk menjual game tersebut tapi jika semuanya mau belajar setidaknya beban tim marketing akan semakin lebih ringan dan bisa memasukkan fitur-fitur yang mampu memikat perhatian orang dan mengunduh game buatan kamu.

More Specific More Good

GettyImages-182745498-56a493015f9b58b7d0d79e0d

Ketika saya asyik mengobrol dengan senior saya di kantor di jam istirahat ia menanyakan latar dan pekerjaan saya sebelumnya. Saya mengatakan bahwa saya sudah wara-wiri menjadi seorang jurnalis musik dan anime, tukang jualan dan masarin CD ori, tahu seluk beluk event dan komunitas pecinta Jepang alias Jejepangan alias otaku di Indonesia. Dia menanyakan kenapa sebuah game visual novel yang ber-genre otome (game yang ditujukan untuk perempuan dimana tujuan utamanya adalah untuk mewujudkan hubungan romantic dengan karakter yang telah ia pilih) buatannya bisa melejit dengan cepat ketimbang game lain.

“Gw suka tuh sama game visual novel otome buatan kita.”, ucap saya sambil membuka percakapan.

“Wah makasih makasih, gw heran naiknya cepet banget padahal itu masuknya ke proyek kita yang ga terlalu kita prioritaskan loh.”

“Kalau gw jadi elu gw bakal dukung dan gw bakal bikin marketing plan gila-gilaan yang sesuai dengan target market kita biar pendapatan item di game-nya naik drastis.”

“Lah, emang target market di game itu siapa fi?”

“Itu cewek cewek yang demen sama karakter cowok ganteng 2D sama yang demen korea-koreaan.”

“Oh yang kaya gitu ada ya ternyata.”, ucap senior saya.

“Ada kali, malah sekarang pasar cewek yang kaya gitu lagi naik parah dan di pasar mobile game sendiri genre otome ini jarang ada yang bawain. Baru Mystic Messenger doang yang nguasain market sehingga kue otome berbasis mobile game gede banget dan masih bisa dilahap siapa saja. Apalagi kalo ada versi Bahasa Indonesianya udah critical hit deh.”, jawab saya dengan semangat berapi-api.

Mystic Messenger mampu meraih 5 juta download dalam waktu singkat dan berhasil membuat fanbase baru yang loyal dan royal.
Mystic Messenger mampu meraih 5 juta download dalam waktu singkat dan berhasil membuat fanbase baru yang loyal dan royal.

Menurut saya jika suatu produk mau sukses harus bisa memenuhi tiga kriteria di bawah ini:

  1. Produk inovatif yang mampu membuat cara pandang dalam menilai suatu hal bisa menjadi berbeda
  2. Produk yang memecahkan suatu masalah
  3. Produk yang tepat sasaran dan dibutuhkan sesuai target pasar

Contoh kejadian di atas adalah contoh yang ketiga dimana ketika demand bertemu meet sudah dipastikan produk tersebut akan laku keras dan akan mempunyai fanbase yang loyal serta royal. Tidak usah menjadi praktisi ekonomi atau ahli marketing untuk tahu teori seperti itu karena sebenarnya hal tersebut merupakan hal dasar ketika kita menjual suatu barang.

Jika dirasa terlalu ribet untuk membuat segmentasi pasar yang mendalam seperti kelas masyarakat, jumlah gajinya, jumlah pemasukan, jumlah pengeluarannya, serta barang apa saja yang ia beli minimal tahu dulu game kita nantinya akan dimainkan oleh siapa dan jenisnya seperti apa. Kebanyakan ketika membuat game kamu akan menjawab semua orang bisa memainkan game-nya kok, sebenarnya hal ini sah-sah saja tetapi kalau kamu sudah mengerti siapa yang bisa berpotensial menjadi fans game kamu berdasarkan dari analytics atau riset pasar maka keuntungan kamu akan berlipat ganda. Perbanyak riset tentang siapa yang akan disasar dalam produk yang sedang dibuat.

Dengan sedikit keluar dari zona nyaman dan mau belajar tentang ilmu jualan dan pemasaran maka kualitas dan skill kamu tentunya akan naik dan kamu akan berbeda. Industri game lokal memang sangat menggiurkan dan menjadi primadona dunia IT lokal dan untuk bisa menaklukkannya banyak ilmu yang harus diperdalam dan mesti diketahui agar kamu bisa mengambil untung dari industri keren ini dan bisa menjadikan developer lokal menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Selamat belajar dan berjuang.

Like FanPage RE:PSYCHO pada tautan ini

One thought on “Kerja di Industri Game Gak Cukup Cuman Bisa Ngoding Dan Gambar Doang

Leave a Reply