scaller repsychoo 1 featured twitter

Album Review: Scaller – Senses

scaller repsychoo

SCALLER
SENSES
SELF-RELEASED, 2017
Genre: Indie Rock, Alternative Rock, Hard Rock, Blues Rock

Duo yang terdiri dari Reney Karamoy dan Stella Gareth ini sukses mengguncang dunia indie lokal dengan penampilan mereka yang serba bisa seperti Reney yang bisa menjadi gitaris, vokalis dan sampling serta stella yang bisa menjadi vokalis, synth, dan keyboards dalam waktu bersamaan. Berbeda dengan band lainnya yang sudah mematok genre musik mereka menggali musik indie/alternative rock dengan bantuan synth yang gloomy dan reverb gitar yang keras. Berkat musikalitasnya, mereka berhasil mendarat di playlist “Alternative Life” milik Spotify Japan dan “Indie Shuffle” milik Spotify International. Nama Scaller di kancah dunia streaming internasional tentu membuat pendengar dalam negeri penasaran sebagus apa mereka hingga para kurator di Spotify memilih mereka untuk masuk dalam playlist indie dan mereka menjawabnya dengan album perdana mereka yang berjudul Senses.

Ibarat binatang Scaller seperti seekor bunglon, mereka mengemas sepuluh lagu dengan cara yang berbeda-beda dan dengan emosi yang variatif seperti lagu “Flair” yang berpegang teguh pada Radiohead “Jigsaw Falling Into Places”, “A Song” yang datang dari blues rock dan psychedelic rock lengkap dengan segala teriakan dan raungannya. “The Youth” mengingatkan saya akan The Joy Formidable di album “The Big Roar”. Mereka memanfaatkan unsur synth untuk membuat lagu dream pop dalam pembuka “The Alarms” yang terdengar seperti detik-detik peringatan akhir dunia. “Move In Silence” membawa petikan blues ala Alabama Shakes sebelum diterjang dengan bara indie rock yang menyalak layaknya Arcade Fire di album “Neon Bible”. “Senses” bermain deep dan terdengar lentur dalam menyatukan unsur hard rock dengan ambient seperti mendengar Black Rebel Motorcycle Club dan Beach House dalam sebuah senyawa. “Three Thirty” memasukkan gimmick progressive rock sedangkan “A Song” dan “Upheaval” terinspirasi dari new wave. “The Youth” bermain begitu terstruktur dan unik, mengambil pola modern blues dari band The Black Keys sebelum dihajar dengan raungan hard rock dan noise rock ala Death From Above 1979. “Dawn Is Coming” bermain dengan ritme-ritme yang cukup unik .

Scaller kadang-kadang bisa bermain gelap, muram, dan terkadang bisa berteriak sekencang-kencangnya. Improvisasi yang mereka lakukan di beberapa titik terdengar wah dan mampu menggapai pengalaman musikal yang berbeda dari sebelumnya. Tetapi justru itu titik terlemah di album ini. Karena mereka melakukan berbagai macam improvisasi yang malah membuat durasi lagu terlalu lama sehingga unsur magis dan wah yang diberikan seolah menyusut secara perlahan sampai di akhir lagu. Musikalitas mereka yang lintas genre namun masih mengandalkan distorsi dari band indie rock 90’an dan hard rock 70’an memang menarik apalagi ditambah vokal Stella yang sudah sangat cocok menjadi vokalis untuk ukuran band dengan musik seperti ini dan wajar jika mereka mendapat highlight secara internasional namun jika mereka berusaha terdengar lebih fokus maka hasil akhirnya bisa membuat pendengar akan terus mengulangi album ini. Setidaknya untuk sebuah album perdana mereka yang bombastis ini Scaller sudah siap untuk menjadi salah satu next big thing di belantika musik rock Indonesia.

7.4

TRACK LIST: (Lagu yang diberi penebalan merupakan key track)

  1. The Alarms
  2. Flair
  3. Move In Silence
  4. Senses
  5. Three Thirty
  6. A Song
  7. The Youth
  8. Upheaval
  9. Dawn is Coming

Like Fanpage RE:PSYCHO pada tautan ini

Leave a Reply