Movie Review: Ghost In The Shell (2017)

GHOST IN THE SHELL
Sutradara: Rupert Sanders
Pemain: Scarlett Johansson, Pilou Asbæk, Takeshi Kitano
PARAMOUNT, 2017

Ghost In The Shell sudah menjadi sebuah legenda dalam dunia animasi Jepang. Film yang dibuat oleh Mamoru Oshii dan diadaptasi dari manga buatan Masamune Shirow ini memprediksi kejadian yang bisa timbul di masa depan tentang “Bagaimana jika sebuah mesin mempunyai jiwa dan berpikiran layaknya manusia biasa?” dan paranoia pengendalian masyarakat oleh beberapa pihak atas nama teknologi di tahun 1995. Pertanyaan tersebut seolah semakin relevan 22 tahun setelahnya dimana Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan semakin pintar dari hari ke hari dan pengawasan oleh berbagai macam organisasi tertentu lewat teknologi cerdas yang kita pakai sehari-hari. Ghost In The Shell juga terkenal berkat visinya dalam membawakan tema spiritual dan psikologi dalam bahasa visual yang penuh dengan action di sana-sini. Karena film ini berani berbuat lebih dan sangat maju untuk ukuran 1995, pembuat film langsung beramai-ramai mengikuti semangat yang dibawakan Ghost In The Shell dan yang paling menonjol tentu saja The Matrix.

Wajar jika tiba-tiba beberapa orang marah karena Ghost In The Shell diadaptasi menjadi film Hollywood dengan pameran ala film Hollywood kelas A ditambah dengan penuduhan white-washing dan mengubah semua karakter yang harusnya bernuansa Jepang menjadi karakter Amerika Serikat dan Eropa. Latar tempat yang masih berada di Jepang (atau mungkin kawasan di sekitar Asia) juga turut dipermasalahkan. Sebenarnya dua permasalahan tersebut bukanlah sebuah masalah yang besar kalau kita memahami dua hal. Pertama, kemampuan artis Jepang belum sampai di level yang bisa memerankan Major dengan fasih dan solid dan kedua adalah kota-kota besar di Asia seperti Tokyo atau Hongkong sudah banyak orang asing yang bekerja dan membangun bisnis di sana malah pemerintahan Jepang sedang mengusahakan agar orang asing semakin banyak datang ke Jepang yang membuat relevansi latar waktu dan tempat dari film ini sudah cocok dengan kehidupan di masa depan.

Dari hal diatas setidaknya ada suatu tangkapan yang harus dimengerti oleh penonton sebelum menilai film ini bahwa film ini memang berbeda dari versi Mamoru Oshii dan tidak bisa dibandingkan dengan versi anime-nya yang memang sudah masuk ke status legendaris tanpa ada gugatan sama sekali (jadi jangan ngamuk kalau misalnya di film ini tidak ada Tachikoma). Ibarat sedang merakit mobil, referensi Ghost In The Shell di jaman dahulu adalah part-nya dan Rupert Sanders diberikan kebebasan untuk memilih part mana yang cocok dengan visi dia yang penting mobilnya bisa jalan dan bergerak secara mulus. Toh, fundamental cerita dari Ghost In The Shell adalah bagaimana seseorang tidak akan merasa hidup jika tidak ada ruh di dalam tubuhnya begitu juga sebaliknya dengan medium ketakutan akan teknologi yang semakin mengaburkan ruh murni dan ruh buatan.

Untungnya, Sanders memainkan fundamental tersebut dengan baik dan mempunyai semangat yang sama dengan film aslinya. Musik new age yang menambah kesan spiritual. Hadir. Lanskap kota yang digambarkan dengan futuristik tetapi menyeramkan. Hadir. Konsep manusia super canggih dan manusia yang melawan teknologi tersebut. Hadir. Berbagai macam adegan ikonik dari film aslinya. Hadir. Topeng Robot Geisha yang menyeramkan. Hadir.

Perbedaan yang terlihat dari Ghost In The Shell (GITS) buatan Sanders muncul di cerita. Cerita yang dibawakan oleh Sanders memang terasa berbeda di beberapa sisi namun itu bisa dimaafkan karena ia tahu bahwa film ini adalah film Hollywood yang bernilai besar untuk itu ia harus mengalibrasi beberapa cerita supaya bisa ditonton oleh orang umum yang malas mikir dan menganggap bahwa versi Mamoru Oshii terlalu berat dan harus ditonton lebih dari sekali untuk mengerti maksud dan simbolismenya. Kalibrasi tersebut diatur dengan sedemikian rupa agar penonton kasual dapat mencerna isi dari film ini tanpa harus menonton karya aslinya.

Kalibrasi di atas membuahkan kejutan pada penonton yang sudah lama menonton film ini seperti selipan drama di tengah film yang cukup membuat saya tertegun sesaat dan menikmati sesi dramanya. Unsur drama yang digenjot di beberapa bagian juga mampu menimbulkan teori eksistensialisme dan keraguan akan diri sendiri tanpa harus terlihat berat dan ambisius yang dapat memusingkan penonton sekaligus mudah dicerna oleh penonton awam.

Visual yang ditampilkan dalam film ini juga dengan sangat gamblang menggambarkan konsep futuristik yang dibalut dengan paranoia sosial dan komersialitas seperti Blade Runner. Berbagai macam tampilan dalam film ini juga terlihat nyata dengan menyatukan lokasi yang riil serta imaji CGI untuk membuat kesan artifisial nan nyata yang diagungkan oleh GITS.

Para artis yang berperan dalam menjalankan film ini juga bukan hanya mirip dari segi penampilan tapi juga mampu membawa peran dalam film GITS terdahulu dengan baik terutama Scarlett Johansson yang berperan sebagai Major. Lewat aksi dan aktingnya Scarjo seolah memberitahukan kepada penonton bagaimana rasanya menjadi sebuah mesin yang mempunyai jiwa seperti manusia. Scarjo benar-benar sangat bergairah dan menjiwai menjadi seorang Major menjadikan film ini adalah penampilan terbaik Scarjo dalam sebuah film setelah Under The Skin dan Lost in Translation.

Konsep ghost atau ruh yang ada dan mendukung satu sama lain membuat GITS versi Rupert Sanders menyenangkan dan seru untuk disimak. Mungkin porsi berpikir dari film ini tidak seekstrim film aslinya tetapi agar legacy GITS yang asli tetap hidup dan untuk menggaet penggemar baru GITS yang akan penasaran dan mencoba karya aslinya maka berbagai macam modifikasi dimunculkan untuk membuat cerita lebih gampang dimengerti. Pantas saja Masamune Shirow senang dengan GITS versi Sanders karena ia bisa memberikan ruh baru dan tetap sejalan dengan visi GITS di era lampau dalam kemasan yang lebih modern serta relevan di era sekarang.

8.0

Like Fanpage RE:PSYCHO pada tautan ini

Leave a Reply