Album Review: Hiroaki Kato – Hiroaki Kato

17392916_10210622098801606_185237427_n

HIROAKI KATO
HIROAKI KATO
Genre: Folk, Pop Rock
YOSHIMOTO KREATIF INDONESIA, 2017

Tidak dapat dipungkiri bahwa kultur Jepang atau yang biasa disebut Jejepangan sudah menjadi sebuah fenomena kultural baru di Indonesia. Kultur ini berkembang cepat selama satu dekade terakhir dan bisa dibuktikan dengan berbagai macam acara Jejepangan di berbagai wilayah di Indonesia mulai dari kota besar sampai beberapa tempat terpencil sekalipun. Virus Jejepangan ini dimanfaatkan oleh beberapa artis yang mempunyai afiliasi di Jepang atau artis yang memang langsung datang dari Jepang ingin mengais rezeki di ranah ini seperti Hiroaki Kato.

Sempat bermukim lama di Yogyakarta, penyanyi merangkap pembawa acara, aktor, dan penerjemah ini takjub dengan suasana Indonesia dan memutuskan untuk menekuni karir bermusiknya di Indonesia. Kehidupan Yogyakarta yang santai dan ramah membuat Hiro sebutan akrab Hiroaki Kato memilih jalur musik folk sebagai dasar musiknya. Gaya Hiro yang sangat lokal dan kefasihannya dalam berbahasa Indonesia membuatnya cepat dikenal di dunia hiburan.

Setelah menikmati berbagai panggung di festival Jejepangan atau acara yang ada kaitan dengan budaya Jepang, ia merilis album pertamanya di Indonesia sebagai penanda bahwa ia siap berkarir secara serius di belantika musik Indonesia. Tidak tanggung-tanggung ia menggandeng Ari Renaldi yang terkenal berkat kerjasamanya bersama Tulus sebagai produser, Hiro seolah ingin membuat album perdananya di Indonesia ini matang dan bisa dinikmati banyak pihak sama seperti Tulus yang bisa menjangkau ke semua golongan.

Kepiawaian Hiro dalam membawakan lagu orang sudah tidak dapat diragukan lagi. Hiro mampu membawakan beberapa lagu Indonesia ke dalam bahasa Jepang begitu juga sebaliknya sehingga muncul sebuah cita rasa yang berbeda dari lagu tersebut dan tetap enak, contohnya pada album ini adalah “Ruang Rindu” yang dibawakan bersama penyanyi aslinya Noe Letto. Hiro menyanyikan lagu ini dalam Bahasa Jepang dan merubah tatanan lagu ini menjadi sebuah nomor folk yang mellow. Eksekusi vokal Noe dan Hiro terasa pas dan membawa ruh baru dari lagu yang sempat fenomenal berkat menjadi soundtrack sinetron di akhir tahun 2000an. Sebuah lagu enka berjudul “Nada Sousou” yang dibawakan dalam bahasa Indonesia bersama Arina Mocca merupakan sebuah lagu yang tepat sasaran dari segi penerjamahan, makna lagu, dan chemistry dari keduanya. “Nada Sousou” mengalun dengan nuansa folk pelan dan mampu membangun suasana emosional tentang kehilangan, lagu ini juga dibalut dengan sedikit nuansa melayu yang sesuai dengan kultur musik Indonesia sehingga “Nada Sousou” bukanlah sebuah lagu Jepang tapi menjadi lagu lokal. Lagu Mocca “Happy!” dibawakan menjadi lebih santai dengan nuansa tropis serta buaian ukulele yang menambah experience ke pendengarnya.

Beberapa lagu cover yang disajikan di album ini terdengar hit and miss seperti “Minami Kaze” yang malah terdengar seperti versi lokal lagu pembuka “Hunter x Hunter”. Lagu pop rock “My Everything” ingin menjadi seperti Yuu Sakai dan Five For Fighting tetapi lagu ini terdengar outdated karena era penyanyi pop rock di Indonesia dengan jenis musik seperti ini sudah berakhir.

Materi asli dari Hiro juga terdengar sedikit berbeda satu sama lain, ada rasa inkosisten dan rasa ingin mengikuti iklim musik yang ada di Jepang seperti “Terima Kasih” yang malah terdengar seperti lagu dari band melayu yang ingin terlihat sangat Jepang, “Buatmu Tertawa” menyampaikan pesan positif namun eksekusinya begitu datar dan “Musik” terasa seperti Tulus dengan gitar akustik. Syukurlah, dua lagu original Hiro begitu hidup dan membuktikan identitas unik darinya seperti “Beda Selera” yang bernuansa jazzy dan humoris sambil bernyanyi tentang perbedaan selera makanan dengan lirik yang berima satu sama. Pengalaman hidup di ibu kota dibawakan dengan baik dalam “Jakarta Sunset” yang merupakan sebuah ode kepada ibu kota dan dekat dengan musik indie folk yang sedang naik daun di musik Indonesia.

Pengaruh dari Ari Renaldi juga membuat semua lagu yang ada di album ini terdengar jernih dan detail meski didengar lewat medium digital dan dengan bitrate yang kecil. Nilai tambah patut diberikan oleh mastering team dibalik album ini.

Hiro terlihat masih meraba-raba di album perdananya dan masih dibayangi dengan nomor-nomor cover yang menjadi zona nyamannya. Meski porsi lagu original dan cover sama rata namun Hiro jauh lebih menonjol ketika ia menyanyikan lagu orang ketimbang lagu buatannya. Memang hal ini bukan menjadi masalah besar tetapi jika Hiro ingin menjadi ikon baru di musik Indonesia dan ingin keluar dari bayang-bayang Jejepangan maka Hiro harus berusaha dengan lagunya sendiri dan berhenti mencari identitas di lagu orang lain.

6.0

TRACK LIST: (Lagu yang diberi penebalan merupakan key track)

  1. Minami Kaze
  2. Buatmu Tertawa
  3. Ruang Rindu (Feat. Noe Letto)
  4. Musik
  5. Beda Selera
  6. My Everything
  7. Jakarta Sunset
  8. Happy!
  9. Terimakasih
  10. Nada Sousou (Feat. Arina Mocca)

Like fanpage RE:PSYCHO pada tautan ini

Leave a Reply