ALBUM REVIEW: REOL – SIGMA

reol 1

REOL
∑ (SIGMA)
TOY’S FACTORY, 2016
Genre: EDM, Hip Hop, Electropop

Cerita sukses utaite atau penyanyi cover lagu-lagu doujinshi serta produser dibaliknya sudah banyak bermunculan di dunia musik Jepang apalagi setelah kultur Vocaloid pelan-pelan meredup dan banyak artis serta pembuatnya lebih giat mencari duit pasti di dunia musik professional. Sebut saja Kenshi Yonezu yang berhasil dengan nomor-nomor modern pop yang mengikuti trend musik pop dunia saat ini, kz yang sukses menjadi produser musik pop yang keren dan wowakaP bersama Hitorie yang menghidupkan kembali arwah dance punk.  Ketiga musisi tersebut membuktikan bagaimana mereka bisa keluar dari zona bermusik mereka ketika masih besar di kalangan Vocaloid dan utaite. Ada satu artis yang juga ingin mengikuti jalur mereka bernama Reol.

Reol sebelumnya terkenal di kalangan Vocaloid dan utaite karena suaranya dia yang unik dan mengaburkan batas antara cowok dan cewek. Ingin mendapatkan duit pasti dari industri rekaman ia mengajak produser Vocaloid popular GigaP dan Okiku dan membentuk grup dibawah nama Reol. Mereka keluar jalur dari Vocaloid dan mendapatkan kontrak rekaman professional pertama mereka di bawah Toy’s Factory yang dulu juga sempat merilis album livetune ketika masih menggunakan Hatsune Miku sebagai vokalnya dan merilis album perdana mereka SIGMA yang telah dirilis pada 19 Oktober 2016 dan mencapai posisi 8 di Jepang. Kepopuleran Reol dalam komunitas utaite di seluruh dunia membuat album ini berhasil masuk ke posisi 9 di Billboard US World Album Chart.

Dalam album pertamanya Reol terinspirasi dengan musik K-pop yang mengandalkan dentuman EDM yang rapat dan cepat serta hip hop ala Exile Tribe yang bombastis dan hasilnya bisa ditemukan di “VIP KID” yang memakai musik progressive house yang usang dan sudah dipakai berkali-kali oleh David Guetta dan “Give Me A Break Stop Now” yang terdengar seperti low quality version dari lagu 2NE1 “I Am The Best” dan Reol mendadak menjadi CL disini.

Reol juga menampilkan image cyber dystopian di image-nya dan bisa dilihat dari cover dan estetika yang muncul di video klipnya. “RE:” adalah lagu yang melambangkan hal itu. Lagu ini mengembalikan vokal Reol yang sebenarnya dengan sentuhan future bass yang sebenarnya bisa dipoles untuk menjadi lebih unik. “Kono yo Loading…” adalah Capsule, Kyary Pamyu Pamyu, dan Suiyobi no Campanella dalam bahasa K-Pop. Reff dari lagu ini sedikit menyelamatkan lagu yang super meledak ini. “Lunatic” mencoba menjadi electropop dengan menyuntikkan beberapa pattern vokal dari K-Pop dan J-Pop seolah mendengarkan Perfume, Yakushimaru Etsuko dan Girls Generation ke dalam satu lagu.

Reol seolah tidak fokus dalam bermusik dan memasukkan semua hal yang ada ke dalam satu paket sehingga hasilnya terkesan inkosisten dan berantakan seperti di “YoiYoi Kokon” dimana mereka mencampurkan unsur dubstep dan future bass dengan vokal yang kebingungan untuk menjadi nakal atau imut. “Kamisama ni Natta hi” terdengar dinamis dengan sentuhan europop namun keunikan lagu ini seolah musnah karena nadanya sudah dipakai oleh boyband/girl band K-Pop berulang kali sehingga terasa plain. ”Chiruchiru” terdengar kebingungan antara memilih untuk berada di jalur Vocaloid atau terdengar keren dan badass lewat jalur electrofunk. “Detarame Kidding”, “VIORA” dan “404 not found” ingin menjadi swag dengan balutan hip house namun sayangnya tidak terdengarswag atau badass karena formula lagu yang begitu generik. “Summer Horror Party” seolah mengopi lagu E-Girls terutama dari unit Happiness dengan gimmick tropical house yang terdengar nanggung karena tidak digunakan sepenuhnya.

Krisis identitas. Kata tersebut mendefinisikan album pertama dari Reol. Pada album pertamanya mereka seolah kebingungan mencari pijakan musik baru setelah lepas dari kultur Vocaloid dan mencampurkan semua unsur dari musik populer tanpa menyaringnya terlebih dahulu menjadi sebuah identitas unik yang menjadi identitas baru Reol.

Alih-alih membuat pendengarnya bersemangat mereka malah memasukkan beat EDM yang generik, usang, dan membosankan yang membuat pendengarnya kelelahan saking ributnya dan tidak tertatanya album ini. Estetika cyber dystopia mungkin bisa menjadi homage mereka terhadap musik glamor dan swag ala K-Pop namun mereka sudah kelewatan dan hasilnya malah menjadi berantakan. Tidak ada lagu yang memorable dan bagus meski dalam standar pop sekalipun karena mereka terlalu memasukkan semua unsur agar terlihat keren. Mereka juga terdengar dipenuhi dengan dilema besar apakah mempertahankan estetika utaite mereka atau go full speed with the swagger pop dan hasilnya adalah inkosistensi sound di beberapa titik yang terdengar cukup fatal.

Entah apa yang dipikirkan Reol dan GigaP ketika membuat album ini. Jika album ini terinspirasi dari K-Pop maka mereka terdengar seenak jidat mengopi secara utuh apa yang ada di dalam musik tersebut namun jika album ini adalah sebuah parodi kapitalisme dari serangan musik K-Pop ke Jepang maka ini adalah sebuah parodi yang tidak lucu dan tidak menyenangkan.

3.5

TRACK LIST: (Lagu yang diberi penebalan merupakan key track)

  1. VIP KID
  2. Give Me a Break Stop Now (ギミアブレススタッナウ)
  3. YoiYoi Kokon (宵々古今)
  4. Konoyo Loading (コノヨLoading…)
  5. Re:
  6. Lunatic
  7. Kamisama ni Natta Hi (神様になった日)
  8. ChiruChiru (ちるちる)
  9. Final Sigma
  10. Detarame Kidding
  11. Summer Horror Party (サマーホラーパーティ)
  12. 404 Not Found
  13. Viora

Like Fanpage RE:PSYCHO pada tautan ini

Leave a Reply