snc 2

ALBUM REVIEW: SUIYOBI NO CAMPANELLA – SUPERMAN

snc 3

SUIYOBI NO CAMPANELLA
SUPERMAN
WARNER, 2017
Genre: Pop, Electropop, Hip House, House

Ya, Suiyobi no Campanella atau Wednesday Campanella atau Kom_Ai dkk. telah berhasil menjadi artis electro indie biasa ke sensasi Jepang dan internasional berkat musik mereka yang enerjik, kompleks, wonky serta enak didengar. Musik mereka juga ditunjang oleh penampilan liar dan eksentrik dari vokalis KOM_I yang selalu ingin menjadi pusat perhatian entah itu tampil dengan kostum suster berdarah-darah di TV nasional atau bernyanyi di gelembung besar di luar negeri.

Suiyobi melawan semua pakem dari musik J-Pop yang saat ini dipenuhi oleh idol group, balada yang tertatih-tatih, serta boyband yang tidak kunjung habisnya. Mereka juga melawan persona solois perempuan yang terlihat cantik dan manis, KOM_I seolah menjadi antithesis untuk penyanyi pop mainstream. Berbagai mini album yang Suiyobi keluarkan membuat reputasi mereka di dunia musik perlahan terangkat apalagi melalui album Jipangu yang mengaburkan batas antara musik pop dan musik indie yang terkotak-kotakkan.

Puncaknya adalah ketika mereka menandatangani kontrak dengan label Warner Music Japan dimana semua promosi tentang Suiyobi gencar dilakukan ke seluruh Jepang mulai dari tampil dua kali di acara Music Station, SMAP X SMAP, iklan di stasiun kereta, billboard di sana-sini dan masih banyak lagi membuat status mereka menjadi artis cutting edge terdepan di Jepang.

Nama Suiyobi no Campanella melesat di Jepang dan menjadi cult bagi pecinta musik dunia yang menjadikan KOM_I sebagai hottest girl in Japanese music tanpa harus terlihat slut atau bitchy. Musik electro yang dipakai oleh Suiyobi yang berpegang teguh pada musik UK garage, techno, house, nu-disco, electropop juga mempunyai peran penting dalam perlawanan mereka atas kemapanan musik pop Jepang.

Meskipun perlawanan tersebut tidak tampak di chart karena mereka belum pernah menembus lima besar di Oricon atau Billboard namun mereka rajin membuat kejutan baru di dalam musik dan tema lagunya yang terkadang nyeleneh dan dengan seenak jidat mengambil tema mulai dari nama film, nama hewan, nama setan, nama makhluk fiksi dan lain sebagainya.

Setelah menunggu sekian lama untuk mendapatkan album penuh dari Suiyobi akhirnya mereka merilis album perdana mereka dibawah Warner Music Japan berjudul SUPERMAN yang bercerita tentang tokoh legendaris entah itu dari tokoh asli maupun fiksi.

Suiyobi menghentak dengan lagu pembukanya “Aladdin” dimana KOM_I seolah diperkosa oleh perkakas rumah tangga yang muncul di home center dengan beat techno serta bassline yang modern dan terinspirasi dari Simian Mobile Disco. Dongeng KOM_I berlanjut di “Sakamoto Ryoma” yang menabrakkan pola musik house sesuka hati. “Ikkyu-san” adalah sebuah lagu nu-disco yang sangat autentik lengkap dengan pola-pola groovy dari disco serta bassline funk, tak heran lagu ini menjadi highlight dari SUPERMAN.

Kemampuan rapping dan musik dalam “Onyankopon” mengembalikan Suiyobi ke dalam era Triathlon EP dimana KOM_I bernyanyi seperti dialog lengkap dengan sentruman musik underground house dan french house serta string section. Drop yang lihai dan tidak terkesan generik dalam EDM berhasil mereka mainkan sehingga menghasilkan sebuah lagu groovy house. Secara cerdas Suiyobi menginjeksikan world music dan tropical house ke dalam “Gengis Khan”. Pembuka yang diawali oleh paduan suara yang terdengar sangat etnis seolah menguatkan kesan tropis yang ada apalagi di tengah lagu mereka memasukkan beat tropical house sehingga terdengar kekinian tanpa terdengar murahan. They’re not holding back on “Chaplin”. Suiyobi bermain dengan lentur dibawah payung musik electro yang ritmis dan soulful ditengah pattern musik yang padat  seperti mendengar Bjork sedang bermain musik EDM. Suiyobi mengubah musik deep house menjadi sebuah entitas pop yang eksperimental dalam “Audrey” dimana mereka mengacak-ngacak deep house menjadi musik ala Suiyobi no Campanella.

Ia masih menjaga rasa experimental pop dalam “Kamehameha Daiou” yang menabarkaan musik dubstep, trap, wonky, house, electroclash dalam satu kemasan pop yang unik dan ambisius. Keekletikan musik Suiyobi terasa dalam “Zeami” dimana mereka melakukan manuver minimal house yang beradu dengan kecepatan  vokal KOM_I. “Ame no Uzume” adalah sebuah tembang electropop yang rapi dari mereka.

Secara keseluruhan, SUPERMAN jauh lebih rapi daripada karya pertama mereka di bawah major label UMA. Sisi eksperimental dan mainstream terpampang jelas dalam album ini tanpa harus mengendurkan semangat  Suiyobi dan keenergetikan KOM_I yang telah menjadi trademark. SUPERMAN tidak seperti UMA dimana pada UMA mereka masih mencari ground baru untuk pendengar mainstream dan terjebak di antara sound yang baru dan lama. Memang sound dan gimmick unik dan nyeleneh dari Suiyobi no Campanella sedikit dikurangi agar SUPERMAN bisa dinikmati oleh penikmat musik dunia karena mengambil tema electropop yang universal namun tidak terdengar chessy dan menantang.

Produksi yang lebih rapi dari album sebelumnya serta keberanian Suiyobi untuk menjadi lebih pop membuat album ini super. SUPERMAN adalah bentuk statement mereka terhadap dunia musik pop sambil membawa misi bahwa komformitas electropop kembali bisa dilawan.

7.7

TRACK LIST: (Lagu yang diberi penebalan merupakan key track)

  1. Aladdin
  2. Sakamoto Ryoma
  3. Ikkyu-san
  4. Onyankopon
  5. Gengis Khan
  6. Chaplin
  7. Audrey
  8. Kamehameha Daiou
  9. Zeami
  10. Ame no Uzume

Like Fanpage RE:PSYCHOO disini

3 thoughts on “ALBUM REVIEW: SUIYOBI NO CAMPANELLA – SUPERMAN

  1. Baru sadar kalo review-nya ditulis dalam Bahasa Indonesia setelah beberapa kalimat X)

    Sempet kecewa dengan album mereka sebelumnya, UMA, gara-gara MV yang dirilis sebelumnya bagus-bagus. banget. tapi albumnya gak lebih dari medioker.

    Ketika Alladin keluar, agak kurang tertarik juga sebenarnya. Semacam feeling “been there, done that”-nya kental banget.
    Kamehameha the great juga gak begitu sreg ketika pertama kali denger.
    Tapi semuanya berubah ketika Ikyuu-san muncul.

    Sayangnya Matsuo Basho tidak masuk ke album ini.
    Overall, album yang bagus, tapi kurang memberikan “lasting impression”.

    1. Sama, menurut aku UMA major stepdown banget dari apa yang udah mereka lakukan. Superman menurutku sendiri juga dualisme Suiyobi karena mereka sudah masuk major label dan harus berbaur dalam musik pop Jepang saat ini.

  2. Setuju ma komen diatas, album ini well-produced(sempat lupa sama sound ‘indie’ mereka yg dulu) dan lebih mudah dimasuki pendengar awam, tapi kurang ‘nendang’. Beres dengerin album ini, lasting impressionnya gak se-wow abis Zipang. IMHO meski Zipang ada beberapa lagu yg aku gak suka, tapi lagu2 terbaiknya bener2 memorable dan kuat, beda kayak Superman yg meski semua lagunya aku suka, tapi gak ada satupun lagunya yg bener2 stand-out or bisa bikin aku terkagum-kagum dengerinnya.

    Rasa-rasanya, mereka bermain aman kali ini, karena ini adalah debut di mayor album mereka, nampaknya.

    Dan ya, Matsuo Basho should be on this album, that song alone is ‘outstanding’. This song alone could up the overall score of this album IMHO.

Leave a Reply