ALBUM REVIEW: GOODNIGHT ELECTRIC – LOVE AND TURBO ACTION

3432c71e_GE-Love_And_Turbo_Action_650

GOODNIGHT ELECTRIC
LOVE AND TURBO ACTION
HFMF, 2004
Genre: Synthpop, Indie Pop, Alternative Pop

Skena musik independen di Indonesia pada awal millennium mengalami era baru. Para penggiat musik indie/alternative di ibu kota membuat revolusi sebagai jawaban atas kerasnya musik independen di Bandung yang didominasi oleh musik cadas seperti metal, hardcore, dan grindcore. Revolusi dimulai ketika sekelompok mahasiswa Insititut Kesenian Jakarta (IKJ) membentuk sebuah band bernama Naif dan Clubeighties. Kedua band tersebut mendapat respon positif dan kepopuleran yang luar biasa berkat musik video mereka yang terlihat timeless dan mampu menyabet penghargaan tertinggi MTV Indonesia Music Awards sebagai “Best Video” lewat video klip badminton dan transgendernya. Kedua band tersebut menawarkan jenis musik yang baru dan segar di telinga orang-orang Indonesia sehingga pada waktu itu kita mempunyai sesuatu yang dibanggakan ke orang luar sebelum era Internet datang.

Revolusi musik baru di Indonesia pada awal millennium juga datang dari grup rock n roll The Brandals yang merilis album perdananya pada tahun 2003 dengan gebrakan rock n roll mereka yang liar. Album tersebut mendapat respon yang luar biasa dari media musik dan radio yang memang mencari pijakan musik baru setelah grup dan penyanyi alternative Indonesia sudah mulai kehilangan kekerenannya dan menjadi mesin pencetak musik pop.

Revolusi yang hampir sama dengan gerakan new wave di dunia musik barat pada awal 80’an ini sukses mengaburkan batas antara indie music dan major music. Kedua musik tersebut seolah melebur ke dalam satu pakem terutama di kota besar, semua orang tiba-tiba berdansa dengan The Brandals atau menyanyikan lagu-lagu Naif dan The Upstairs di gemerlapnya pensi Jakarta dan berbagai macam daerah lainnya.

Trio yang diisi oleh Henry Foundation, Bondi Goodboy dan Oomleo yang menamakan dirinya Goodnight Electric juga mengambil bagian yang besar atas revolusi musik new wave di Jakarta. Mereka memunculkan video klip “Am I Robot?” pada tahun 2004 yang viral berkat konsep video klip yang simpel dan low-budget tetapi mempunyai visual yang menarik terutama kepala robotnya yang menjadi kostum wajib pensi pensi ibukota saat itu. Distribusi video klip ini juga seperti cerita bagaimana musisi independen bisa mendapatkan big time mereka. Awalnya video ini sering diputar di tv lokal Jakarta yang dulu masih menjadi pusat lifestyle sebelum kepemilikannya diambil alih oleh grup SCTV yaitu O Channel sebelum masuk ke MTV Indonesia dan sering diputar di sana. Imbasnya album perdana mereka yaitu “Love and Turbo Action” menjadi salah satu album independen Indonesia terlaris di tahun 2004 dan memicu gerakan new wave di Jakarta serta pendirian label independen legendaris yang sempat menjungkir balikkan musik Indonesia yaitu Aksara Records.

Ada alasan kenapa “Love and Turbo Action” akan selalu memorable dan menjadi landmark di musik Indonesia sampai-sampai bisa masuk ke dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia. “Love and Turbo Action” adalah album yang bisa dikatakan sebagai anomali dalam musik Indonesia bahkan dalam musik electronic sendiri yang selalu dikaitkan sebagai sesuatu yang glamor dan mahal. Mereka membalikkan persepsi tersebut dan membuat musik electronic terdengar sangat lokal dengan mengambil tema keseharian seorang bocah geek dengan segala keeksentrikannya dan imajinasi liarnya akan science fiction lengkap dengan iringan musik electro yang low-budget tetapi epik.

“Am I Robot?” dan “Psychic Girl” menggambarkan bahwa grup musik ini didirikan oleh orang-orang pecinta pop culture dengan pattern musik synthpop ala Depeche Mode di era Speak & Spell atau bahkan Kraftwerk di era Computer World. Pada “Psychic Girl” mereka dengan bangga menunjukkan bahwa mereka adalah seorang geek dengan menyebutkan semua serial mecha dan tokusatsu yang mereka suka seperti Kikkaider, Goggle 5, Kamen Rider, Voltus, Mazinger, Inazuman dan Ultraman dalam medium musik 8-bit yang geeky. “Am I Robot?” dan “A.ST.U.R.O.B.O.T” menggambarkan suasana dystopia dengan mimpi-mimpi dari Blade Runner dengan musik yang simpel dan vocal Henry yang males-malesan untuk menguatkan unsur polos dan raw dari Goodnight Electric.

“The Supermarket I Am In” berlari dengan beat supersonik yang menceritakan tentang making out di sebuah supermarket yang terdengar sangat maju dari era musik Indonesia saat itu. “Bedroom Avenue” adalah sebuah lagu untuk hubungan jarak jauh yang terdengardreamy dan atmosferik sehingga membuat suasana galau tanpa harus terdengar melankolis. Sebuah tembang romantis dengan gaya Orchestral Maneuvers In The Dark diputar dalam “Trembling Mind” dimana musik synthpop era awal berpadu dengan sampling game. “Rocket Ship Goes By” membawakan esensi indie pop dengan buaian-buaian cerita antara makhluk luar angkasa yang indah dan manusia seolah mereka sedang membuat Interstella 5555 versi mereka sendiri. Sebuah dunia digital mereka buat dalam instrumental pendek “Love And Turbo Action” dimana mereka mendadak seperti Yellow Magic Orchestra. “We’re Going To The Star” adalah sebuah penutup yang manis dan membawa pendengarnya ke dunia imajinasi baru setelah berkelana bersama Goodnight Electric sepanjang album.

Pada album pertamanya Goodnight Electric membungkus musiknya dengan tema yang mungkin terdengar asing bagi khalayak ramai di Indonesia. Mereka membawakan tema future dystopian yang imajiner dengan tingkat imajinasi yang luas layaknya film science fiction 80’an seperti Star Wars, Macross, Voltus, Mazinger, E.T., Back to the Future dan Blade Runner. Goodnight Electric menangkap semua semangat futuristik 80’an entah itu musiknya atau visualnya dengan sangat solid dan rapi. “Love And Turbo Action” juga menangkap simplicity dari synthpop dan membawanya dalam kemasan back to basic tanpa harus terdengar ambisius atau berapi-api (dengar saja vocal Henry yang lemes dan seolah tidak berenergi untuk menyanyi yang menambah estetika simplicity itu tadi).

Mereka pernah berkata bahwa album ini dibuat dari berbagai macam software bajakan karena mereka tidak mempunyai budget yang besar untuk membuat album apalagi album ini hanya diedarkan di beberapa toko sebelum Aksara Records mendistribusikan ulang ke seluruh Indonesia di berbagai macam toko musik. Berkat album ini semua orang tiba-tiba mempunyai FL Studio di komputernya sambil berharap mereka bisa membuat lagu yang unik dan keren seperti Goodnight Electric. Ketika album ini meledak semua orang menjadi demam Goodnight Electric, jaket Adidas yang menjadi gaya mereka ditiru dimana-mana untuk terlihat hip dan terlihat classy di lingkungan Jakarta. Mereka membuat revolusi dibalik keterbatasan dengan hanya bermodal imajinasi dan mimpi liar. Jika Goodnight Electric tidak muncul mungkin masyarakat Indonesia akan bertanya-tanya apa kegunaan dari synth yang sesungguhnya dan tidak ada trend band emo/pop punk pengusung synth yang sempat meledak di Indonesia pada awal 2010an. Goodnight Electric membuat seorang geek menjadi terlihat keren.

Sebuah album revolusioner dan mempunyai daya imajinasi tinggi di negara yang bukan penghasil cerita science fiction. A science fiction tale in the developing country.

8.5

TRACK LIST: (Lagu yang diberi penebalan merupakan key track)

  1. A.ST.U.R.O.B.O.T.
  2. Am I Robot?
  3. The Supermarket I Am In
  4. Bedroom Avenue
  5. Psychic Girl
  6. Trembling Mind
  7. Rocket Ship Goes By
  8. Love And Turbo Action
  9.  We’re Going To The Star

Like Fanpage RE:PSYCHO pada tautan ini

Leave a Reply