ALBUM REVIEW: THE CHANGCUTERS – BINAURALIS

THE CHANGCUTERS
BINAURALIS
SONY MUSIC, 2016
Genre: Alternative Rock, Garage Rock, Indie Rock, Power Pop

The Changcuters adalah sebuah band alternative/garage rock terakhir di Indonesia yang masih dipertahankan oleh major label di Indonesia yang semakin hari semakin sibuk mencari “the next Raisa”, “the next Isyana” atau “the next Tulus”. Kunci ketahanan grup asal Bandung ini adalah lirik dan judul lagu mereka yang nyeleneh dengan balutan musik rock yang catchy dan tidak njelimet, formula tersebut memang pas dengan telinga musik Indonesia majemuk yang tidak ingin terlalu memusingkan lirik. Daya tahan band yang digawangi oleh Tria, Qibil, Alda, Dipa, dan Erick ini memang terbilang cukup lama untuk pangsa musik mereka yang semakin hari pasarnya semakin menipis.

Dalam pembuatan album kelimanya band yang terkenal dengan gimmick dan dandannya yang nyentrik ini ingin terlihat lebih apa adanya dan jujur dalam bermusik maka dari itu mereka membuat trilogi album yang melambangkan musik mereka yang dimulai dengan “Visualis” yang dirilis pada tahun 2013 dan dilanjutkan ke “Binauralis” yang dirilis Desember 2016 kemarin dimana mereka ingin memanjakan telinga pendengarnya di album ini.

Binauralis dibuka dengan “Penjagal Hati” yang memperlihatkan romansa mereka dengan band proto-punk seperti The Stooges dan The Doors dengan lengkingan vokal Tria yang seolah-olah ingin hidup di era 70’an. Desiran padang pasir dan southern rock ala Queens of the Stone Age dibalut dengan nuansa bluesy hadir pada “Romansa Terang Purnama”.The Changcuters kembali mengeluarkan liriknya yang lucu dan nakal namun tidak berlebihan seperti lagu-lagu mereka sebelumnya dalam “Bentrok Sinyal” dimana bait “Bunyi notifikasi, ternyata hanya halusinasi” terdengar mempunyai rima yang pas dan menjadi bagian yang paling menggigit di lagu. “Robot Kota” mampu beresonansi dengan pendengarnya yang hidup di kota besar dan seperti sebuah ode buat para penghuni kota yang menjalani kehidupan monoton (“Apakah kamu bahagia?, hidup bagaikan robot kota), sayang vokal Tria yang di-auto tune dan beat lagu yang sangat 90’an merusak lagu yang bisa menjadi melankolis ini.

Imaji modern surf rock dengan dentuman synth serta drum machine membungkus “Batu Bintang” yang memberikan kritik kepada fenomena artis instan akhir-akhir ini (ya, yang saya maksud YouTubers Indonesia akhir-akhir ini), mereka seolah fasih untuk mengundang pendengarnya berdansa sambil mengingatkan akan kesombongan seseorang. Flamboyanisme Tria sebagai vokalis terasa dengan lagu yang mempunyai judul yang picky “Curiga Lagu Cinta” yang mencampurkan Suede dan The Strokes dimana Tria menjadi Julian Casablancas asli Bandung. “Berangkat!” mengambil sisi positif dari britpop dengan lirik yang sangat cerah. “Dingin Damai” adalah sebuah tentang lingkungan yang tidak menjadi sebuah lelucon atau dengan pesan yang cheesy. “Tak Mampu Rindu” meminjam bassline dari “Under Pressure” milik Queen untuk membuat lagu garage-rock-revival yang groovy dan funky.

“Melawan Tekanan Perasaan Tertekan Kenyataan” adalah lagu yang dipengaruhi oleh sunshine pop 60’an dan power pop 70’an lengkap dengan keyboard yang mirip dengan organ psychedelia di era tersebut. “Salut Untukmu” seperti Sheila On 7 dalam suasana lebih rock dengan komposisi musik dan konten lirik yang hampir sama. “Sampai Jumpa” memainkan musik baroque pop dan surf music seperti Beach Boys dalam “Wouldn’t It Be Nice” yang terdengar pas dengan musik skena indie di Indonesia yang menglorifikasikan swing dengan lirik yang manis. “Hmmm.. Sudah Kuduga” adalah eksplorasi pop dari The Changcuters dengan meminjam hook dari lagu The Strokes “You Only Live Once” dan beberapa gimmick new wave serta post-punk terutama dengan liriknya yang cukup dark.

Binauralis memang tidak terdengar seperti The Changcuters pada umumnya yang memainkan musik ringan dengan lirik yang kocak seolah mereka adalah Project Pop versi garage rock. Maka dari itu kesan berat dan susah dicerna akan muncul ketika pertama kali mendengar album ini. Album ini jauh lebih kompleks dibandingkan karya mereka sebelumnya yang memainkan musik rock ringan dengan lirik yang langsung menohok ke pendengarnya.

Seperti judul albumnya, The Changcuters memanjakan telinga pendengarnya dengan sound yang renyah, padat, dan penuh dengan hantaran petikan gitar listrik yang jelas sehingga album terdengar jauh lebih rapi daripada karya mereka sebelumnya. Semua hentakan drum, efek vokal, reverb gitar, dan berbagai instrumen pendukung lainnya seolah bersatu padu dalam kadar yang pas. Coba dengarkan album ini dalam kualitas FLAC, WAV atau setidaknya MP3 320 kbps maka semua detail suara akan keluar. Sound juga lebih rapi dan lebih unik tanpa harus menghilangkan unsur raw nya.

Soal tema, Binauralis lebih konsisten serta pesannya tidak memutar-mutar atau terlalu apa adanya seolah mereka memang membuat lagu untuk lucu-lucuan. Mereka disini seolah menghapus narsisme yang terus terkuak di album-album sebelumnya dan mengikis image komedi yang terus dipertahankan selama delapan tahun terakhir. Tidak ada nada-nada atau musik yang terlalu melompat jauh pada “Visualis”, lagu-lagu nyeleneh dalam “Tugas Akhir”, atau lirik yang kelewat simpel dalam “Mencoba Sukses Kembali”. Semua rapi dan terstruktur meski ada beberapa titik yang miss.

Setelah menunggu selama delapan tahun akhirnya The Changcuters terlihat serius dan tidak bercanda dalam album kelimanya yaitu “Binauralis”. Hasilnya? Impresif

8/10

TRACK LIST: (Lagu yang diberi penebalan merupakan key track)

  1. Penjagal Hati
  2. Romansa Terang Purnama
  3. Bentrok Sinyal
  4. Robot Kota
  5. Batu Bintang
  6. Curiga Lagu Cinta
  7. Berangkat!
  8. Dingin Damai
  9. Tak Mampu Rindu
  10. Melawan Tekanan Perasaan Tertekan Kenyataan
  11. Salut Untukmu
  12. Sampai Jumpa
  13. Hmmm.. Sudah Kuduga

Like Fanpage RE:PSYCHO di tautan ini

Leave a Reply