showa s2 1

EPISODE ANIME REVIEW: SHOWA GENROKU RAKUGO SHINJUU SUKEROKU FUTATABI-HEN EP.1

“Ada yang bilang bahwa masa hidup sebuah budaya populer yang tidak ada dasar atau penjelasan hanya akan bertahan 50 tahun. Jika ada yang bertahan lebih dari waktu tersebut, maka budaya tersebut akan berhenti menjadi sebuah seni untuk umum.”

Menurut antropologis E.B. Taylor budaya merupakan hal kompleks yang menyangkut pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, kebiasaan dan kemampuan lainnya serta kebiasaan yang dipakai manusia sebagai anggota dari masyarakat. Budaya merupakan hasil dari pemikiran manusia dan sebuah manifesto dari apa yang kita perbuat terus menerus sehingga menjadi sebuah budaya.

Pada tahun lalu sebuah serial anime bernama Showa Genroku Rakugo Shinjuu berhasil mengejutkan penontonnya di seluruh dunia. Genroku tidak hanya menjual budaya tradisional Jepang yang selalu mereka agung-agungkan tetapi juga memperlihatkan suatu budaya seutuhnya seperti definisi yang sudah diungkapkan di atas. Serial ini tidak hanya bercerita tentang seorang penutur rakugo dengan segala lika-likunya, lebih dari itu serial ini menggambarkan bagaimana sebuah kultur penutur rakugo terbentuk mulai dari kemampuannya untuk peka akan keadaan sekitar, tahu karakter yang ia mainkan, gesture ketika tampil, sampai remeh temeh seperti berbasa-basi dengan penggemar. Hampir semua hal-hal yang berkaitan dengan masyrakat umum tertuang dengan drama tragis yang membuat anime ini mempunyai ciri khas dan nilai tersendiri. Value terbesar yang Rakugo punya dari serial lain adalah mereka menggambarkan sebuah budaya dari segi humanis dan riil tanpa ada gimmick seperti supernatural, fantasi, mitos dan lain sebagainya.

Kepopuleran Genroku di tahun lalu membuat serial ini naik tingkat dari seri underrated sampai ke seri yang paling ditunggu untuk musim Winter 2017. Saya sendiri tidak sabar untuk melihat bagaimana kelanjutan dari cerita sang penutur cerita yang harus berjibaku melawan jaman sambal memikirkan bagaimana nasib hidup mereka sendiri.

Dalam musim pertamanya, SGRS bercerita tentang kisah dari dua orang bakal penerus master rakugo yaitu Kikuhiko dan Sukeroku. Mereka berdua datang dari latar belakang serta kepribadian yang berbeda dimana Kikuhiko datang dari keluarga geisha yang terpaksa mempelajari rakugo karena geisha bukanlah seni untuk laki-laki serta Sukeroku yang ceria dan berniat menjadi penutur rakugo yang terkenal di Jepang. Mereka menetap di rumah seorang master rakugo bernama Yakumo dan merajut impiannya untuk menjadi seorang penutur handal. Setelah lulus dari rumah gurunya Kikuhiko dan Sukeroku hidup dengan jalan yang berbeda, Kikuhiko mempunyai kehidupan yang lebih tenang dan tertata sementara Sukeroku lebih ugal-ugalan dan jauh lebih bohemian.

Mereka dipertemukan oleh seorang pekerja seksual bernama Miyokichi yang jatuh cinta akan Kikuhiko. Permasalahan terjadi ketika Sukeroku ingin mengubah bentuk rakugo agar menjadi sebuah tontonan seni yang bisa bertahan di era modern tetapi hal tersebut dianggap merendahkan rakugo oleh para tetua rakugo. Kecewa akan hal itu Sukeroku menjalani kehidupan yang berat dan hidup dibawah pengaruh adiksi alkohol dan Miyokichi memutuskan untuk melakukan hubungan dengan Sukeroku karena Kikuhiko tidak membalas cintanya. Pertengkaran hebat antara Kikuhiko, Miyokichi, dan Sukeroku terjadi dan berujung hilangnya nyawa Sukeroku dan Miyokichi. Kikuhiko ditinggal dengan rasa bersalah yang begitu besar karena kecewa akan dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga hubungan yang ia bina dengan rekannya serta kepada perasaanya sendiri yang begitu kaku dan ekspresif ketika dia melakukan pekerjaanya sebagai penutur rakugo.

Kikuhiko sekarang merawat anak perempuan dari Sukeroku dan Miyokichi bernama Konatsu. Kikuhiko sebisa mungkin menjauhkan Konatsu dari rakugo agar ia tidak jatuh ke jurang yang sama dengan bapaknya. Fast forward ke era 80’an, Kikuhiko telah menjadi seorang master dengan mempunyai nama Yakumo dan mempunyai murid bernama Yotaro yang mempunyai kemiripan dengan Sukeroku. Konatsu sekarang mempunyai anak yang tidak tahu bapaknya siapa dan penutur rakugo semakin sedikit tiap tahunnya karena himpitan masyarakat modern. Dari sini cerita musim kedua dimulai.

Pada episode perdananya, SGRS dimulai dengan Yotaro yang berevolusi menjadi Sukeroku baru berkat gaya ceplas ceplos yang ia bawakan di panggung dan Kikuhiko diangkat menjadi master rakugo yang baru dan merubah nama menjadi Yakumo. Kita bisa melihat bagaimana rakugo semakin sedikit peminatnya dan hanya populer di kalangan orang tua meski mereka semua menganggap semua yang penutur rakugo katakan atau shin’uchi semuanya mengandung nilai magis namun mereka juga harus berhadapan dengan komedi manzai yang sedang naik daun dan sering disorot di televisi nasional (untuk mengetahui tentang kehidupan komedi manzai, saya merekomendasikan untuk menonton drama Netflix berjudul “Hibana”).

Teman Yotaro yang sama-sama berjuang untuk menjadi shin’uchi bernama Mangetsu menjadi pertanda bahwa rakugo sudah mulai turun pamornya. Mangetsu yang dulunya ingin menjadi shin’uchi namun ditolak oleh Yakumo sekarang bekerja di perusahaan ekonomi spekulatif di Jepang dan menyatakan bahwa skena rakugo di Kyoto sudah musnah sambal berspekulasi bahwa skena di Tokyo akan sama jatuhnya. Yotaro masih optimis bahwa skena Tokyo berbeda dari Kyoto dan rakugo akan terus ditonton meski diiringi rasa ketakutan bahwa hidup makmurnya akan berhenti sesaat lagi.

showa s2 2

Konatsu disini memberikan tamparan yang keras bagi para pelaku dunia hiburan yang selalu hidup dalam ketidakpastian. Ia memberi tamparan kepada Yotaro dengan mengatakan “ngapain aku hidup dengan seorang pekerja hiburan yang duitnya gak pasti”. Kata-kata tersebut seolah memberikan realita bahwa dibalik glamornya dunia hiburan mereka juga ditakuti rasa ketidakpastian dari segi finansial dan psikologis seperti apa yang mereka lakukan ketika mereka sudah tidak terkenal lagi, dari mana penghasilan untuk menyambung hidup ketika pamornya sudah turun. Yotaro dengan kelakuan ceplas ceplos seolah memberikan harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan ia ingin passion serta kehidupan realitanya berjalan seirama, ia meyakinkan Konatsu bahwa ia bisa menjadi ayah yang baik untuk anaknya. Sebuah titik heartwarming dalam episode ini sekaligus mengeluarkan sifat Konatsu yang sebenarnya terlihat tsundere namun mempunyai batas yang lebih dalam label tsundere tersebut.

showa s2 3

Cerita berlanjut dengan bertemunya Yotaro dengan kritikus seni merangkap penulis terkenal bernama Higuchi Eisuke. Sebagai pecinta rakugo dan orang yang gagal menjadi penutur rakugo ia seolah ingin menantang karya seni yg ia cintai dengan merubah konsep cerita dari rakugo yang sesuai dengan masyarakat modern melalui perantara Yakumo sebagai penutur. Peran Higuchi disini akan menjadi vital karena ia akan menjadi partner Yotaro yang baru dari segi cerita karena ia ingin karya seni yang ia cintai terus maju dan berkembang. Hal ini bertolak belakang dengan Yakumo yang selalu menolak orang-orang baru demi menjaga kemurnian dari rakugo dan mencegahnya untuk jatuh ke jurang yang sama dengan kehidupannya yang dulu.

Dualisme ini bukanlah soal generation gap atau batasan usia mengingat Yakumo dan Higuchi memang terlihat tidak mempunyai batasan umur yang terlalu jauh tapi pemikiran mereka jauh berbeda dari lingkungan tempat mereka dibesarkan tetapi lebih cenderung kepada perdebatan antara modern dan klasik langsung. Higuchi datang dari kaum penulis modern yang sudah terpapar akan seni dari berbagai macam dunia dan Yakumo datang dari kaum klasik yang tidak suka jika karyanya yang ia jaga mati-matian dicampur adukkan dengan elemen lain meskipun akan terdengar relevan. Kita akan melihat pertarungan antar dua pemikiran ini di episode berikutnya.

Konflik awal seperti survival dari rakugo, kekompleksan sifat Konatsu yang naik turun, tamparan yang keras akan dunia hiburan, dan keinginan untuk mengubah kultur yang kaku menjadi luwes diungkapkan selama 24 menit. SGRS 2 seolah memberikan face value kepada penontonnya dengan padat dan langsung memberikan berbagai permasalahan yang akan diselesaikan di musim terbarunya. Dualisme yang akan terjadi di sini bukan hanya tentang Yakumo dan Yotaro saja tapi akan berkembang biak menjadi antara Yakumo dan Higuchi, Yotaro dan kejadian masa lalunya sebagai seorang mantan napi, Yotaro dan karir dia sebagai entertainer ketika rakugo akan terjun bebas, permasalahan generasi muda dan generasi tua di Jepang dan konsep seni rakugo secara keseluruhan. Semuanya akan menjadi satu jalinan yang utuh dan menjanjikan jika di episode berikutnya tidak dirusak dengan hal yang aneh-aneh dan episode 1 dari SGRS 2 sudah memberikan kita lebih dari cukup terhadap semua konsep yang akan dibeberkan selama tiga bulan kedepan.

9/10

Simak ulasan musim pertama Showa Genraku Rakugo Shinjuu pada tautan ini

Like Fanpage RE:PSYCHO pada tautan ini

Nantikan ulasan episode 2 di repsychoo.com

Leave a Reply