genhoshino

MUSIK JEPANG TAHUN 2016: STREAMING, PERMASALAHAN PENDUDUK DAN MEDIA SOSIAL

Musik Jepang di tahun 2016 benar-benar merupakan sebuah perjalanan yang seru dan menyenangkan, jika kita tidak menghitung idol group dan grup asuhan Johnny’s Entertainment yang sudah tentu menjuarai penjualan album dan single fisik. Selain comeback dari Utada Hikaru melalui album “Fantome” dan kembalinya Hi-Standard dari tidur panjangnya (serta menjadi single indie terlaris untuk 2016) tahun ini merupakan tahun dimana paradigma musik Jepang berganti dan lebih terbuka ke semuanya.

Lagu yang paling populer di Jepang sepanjang tahun 2016 datang dari platform yang paling dijauhi eksekutif musik Jepang yang masih berpikiran bahwa “CD adalah segalanya” yaitu YouTube dan layanan musik streaming. Tiga lagu terpopuler versi Music Station seperti Pikotaro dengan “PPAP”, Gen Hoshino dengan “Koi”, dan Radwimps dengan “Zenzenzense” mendapat kepopuleran awalnya bukan dari penjualan CD tetapi karena mereka terbuka dengan teknologi baru. Ketiga lagu ini merilis lagu mereka di Youtube sebelum CD-nya dirilis di pasaran dan tidak terkena region lock sehingga bisa dinikmati di luar Jepang.

Mari kita selidiki satu persatu tiga lagu tersebut dalam segi streaming dan pengaruhnya terhadap penjualan CD dan lisensi internasional.

Selain berkat Kimi no Na. wa, “Zenzenzense” juga viral di media sosial karena banyak orang yang membagikan link lagunya ke teman-teman mereka. Hasilnya “Zenzenzense” sukses diputar sebanyak 91 juta kali di YouTube dalam waktu empat bulan dan diprediksi akan mendapatkan 100 juta penonton di awal bulan Februari 2017. “Zenzenzense” menjadi lagu Jepang kedua tercepat yang mendapatkan 90 juta viewers di Youtube,

Kepopuleran “Zenzenzense” di YouTube berimbas kepada penjualan album soundtrack Kimi no Na. wa serta penjualan digital dari single ini. Album soundtrack mereka menjadi  album keenam terlaris di Jepang sepanjang 2016 dengan penjualan 351 ribu kopi dari segi penjualan CD, dari segi penjualan digital “Zenzenzense” berhasil diunduh sebanyak lebih dari 750 ribu kali di outlet musik resmi seperti iTunes, recochoku, mora, dan mu-mo. Prestasi mereka di situs streaming Spotify juga tidak kalah bersinarnya, mereka menjadi artis Jepang tercepat yang mendapat jumlah play sebanyak 1 juta kali dalam waktu 2 bulan di Spotify berkat “Zenzenzense”. Dengan penjualan yang fantastis label mereka Universal Music Global menobatkan Radwimps sebagai artis Jepang terlaris dalam segi penjualan digital untuk tahun ini.

Lagu kedua yang menjadi lagu terpopuler di Jepang untuk tahun 2016 adalah Gen Hoshino “Koi”.

Setelah Yellow Dancer dan video klipnya “Sun” berhasil mencapai 51 juta viewers, Hoshino beserta labelnya Victor langsung membuat lagu yang mempunyai nuansa yang sama dan menyertakannya dalam dorama Nigeru wa Haji da ga Yaku ni Tatsu atau disingkat Nigehaji. Dua minggu sebelum “Koi” dirilis Victor mengunggah video klipnya ke YouTube dan langsung mendapat 6 juta viewers.

Imbasnya CD “Koi” berhasil terjual sebanyak 100 ribu kopi di minggu pertamanya. Efek “Koi” di dunia digital belum selesai sampai di situ, berkat gerakan “Koi Dance” yang diperagakan oleh para pemain Nigehaji di ending-nya lagu ini menjadi viral di sosial media karena banyak yang meniru gerakan ini dengan “Koi” sebagai lagu pengiringnya dan diunggah ke media sosial seperti mixi, Facebook, Twitter, YouTube, Instagram dan masih banyak lagi. Berkat “Koi Dance”, Nigehaji mendapat rating yang tinggi sebanyak 20% di akhir episodenya dan lagu ini berhasil diputar sebanyak 73 juta kali di Youtube hanya dalam waktu 3 bulan meski video ini disusupi oleh iklan yang mempromosikan konten spesial dalam single “Koi”.

Lagu ini juga laris manis di outlet music digital dan diunduh sebanyak 250 ribu kali, dari segi penjualan fisik single ini terus keluar masuk 10 besar di Oricon Singles Chart dan bertahan selama 6 minggu menjadi juara Billboard Japan Hot 100. Total penjualan fisik dari “Koi” selama 2016 mencapai 190 ribu kopi dan menjadi single digital terlaris untuk Victor Entertainment sepanjang 2016.

Lagu ketiga yang populer di Jepang selama tahun 2016 tentu saja Pikotaro dengan “Pen Pineapple Apple Pen” atau “PPAP”.

Berkat gerakannya yang lucu dan liriknya yang simpel serta dinyanyikan dalam bahasa Inggris, lagu ini menjadi viral di media sosial ditambah dengan dukungan 9GAG serta Justin Bieber yang membagikan lagu ini kepada dunia PPAP berhasil ditonton sebanyak 106 juta kali hanya dalam waktu lima bulan dan menjadi lagu Jepang tercepat yang mendapat 100 juta viewers. Jika menghitung versi “unofficial” yang diunggah oleh CHEE YEE Teoh maka PPAP berhasil diputar sebanyak 289 juta kali di Youtube dalam waktu kurang dari setahun. Lagu yang dibuat oleh komedian Kosaka Daimou dan berjalan selama kurang dari semenit ini berhasil menembus chart US Billboard Hot 100 di posisi 77 berkat jumlah streaming Youtube. Dengan durasi sepanjang 45 menit PPAP berhasil membawa pulang rekor dunia dengan menjadi lagu terpendek yang masuk ke Billboard Hot 100 mengalahkan The Womenfolk dengan “Little Boxes” dengan durasi 62 detik dan dirilis pada 1964. Meski penjualan CD dari PPAP tidak maksimal dan hanya terjual 30 ribu kopi tetapi Pikotaro berhasil dikontrak oleh label EDM terbesar di dunia yaitu Ultra Music dimana dia merilis versi panjang dari PPAP dan berbagai macam remix lainnya ke dunia musik internasional. Bukan tidak mungkin kita akan melihat aksi Pikotaro di festival dance music seperti Ultra Music atau DWP nantinya.

Selain ketiga lagu tersebut ada satu lagu yang mencuri perhatian masyarakat Jepang dan viral di Youtube yaitu “Perfect Human” milik RADIO FISH yang aslinya merupakan grup lawak asuhan Yoshimoto R&C. Lagu yang sepintas mirip “Gangnam Style” dan merupakan parodi dari musik EDM dengan lirik glamor yang dibawakan oleh Exile dan grup sekutunya ini berhasil ditonton sebanyak 40 juta kali selama delapan bulan dan menjadi digital single terlaris Yoshimoto R&C sepanjang 2016. Lagu ini berhasil membawa mereka ke panggung besar seperti Kohaku Uta Gassen ke-67 pada tahun 2016 meski mereka bukanlah musisi asli.

Keempat lagu tersebut berhasil melawan pakem industri musik tradisional Jepang yang selalu membatasi dirinya pada penjualan CD dan membatasi video klipnya di Youtube dengan memberikan short version saja atau lebih parahnya lagi video klip tersebut hanya bisa dinikmati oleh orang Jepang. Kepopuleran mereka di YouTube juga mampu menarik penonton di luar Jepang dan mampu memberikan exposure yang lebih terhadap musik mereka. Jika NHK tidak mengundang keempat artis tersebut ke dalam Kohaku Uta Gassen 2016 maka rating Kohaku akan terus jeblok dan tidak akan meningkat seperti sekarang.

SPOTIFY JAPAN SEBAGAI TEMPAT ARTIS BARU

aramajapan_spotify-japan

Ketika Spotify akhirnya diumumkan di Jepang semua pengamat musik dunia melihat bahwa akan ada pergeseran trend musik di Jepang dimana penjualan fisiknya menduduki posisi kedua di dunia dan masih menjunjung tinggi nilai CD ketimbang streaming. Spotify juga menemui jalan terjal sebelum meluncur resmi di Jepang karena mereka harus berhadapan dengan label Jepang dengan segala macam birokrasinya dan keengganan mereka memberikan musiknya untuk di-stream secara gratis (sampai sekarang ada tiga major label yang belum memberikan katalognya ke Spotify seperti Victor Entertainment, Nippon Columbia, dan Lantis). Kesempatan ini dimanfaatkan Spotify Japan untuk menggenjot artis baru yang berada di label independen dan beberapa artis pop di major label seperti Suiyobi no Campanella, DYGL, Radwimps, D.A.N, Suchmos, Kan Sano, The Hotpantz, Taichi Mukai, Vickeblanka. Spotify Japan juga mengenalkan musik Jepang yang hip kepada dunia dengan playlist Tokyo Rising”, playlist ini sudah diikuti oleh 58 ribu pengguna dan menjadi sajian Spotify Japan ke user internasional terutama user Asia.

Spotify Japan juga mengalami laju pertumbuhan yang lumayan mengingat musik Jepang yang masih memuja CD. Hal ini juga didukung oleh bagaimana mereka memasarkan Spotify di Jepang. Spotify diposisikan sebagai tempat musik yang paling hip dan baru bukan tempat musik hits dan mereka sering bekerjasama dengan berbagai macam festival musik rock besar seperti Countdown Japan, Fuji Rock, Summer Sonic, channel TV yang terkenal dengan semangat indie-nya yaitu Space Shower TV serta radio Jepang tempat bintang baru muncul seperti J-Wave dan FM802 via PlayStation Music Japan. Positioning yang kuat di kalangan kaum muda membuat Spotify mengalami pertumbuhan yang cukup bagus selama dua bulan rilis resmi di Jepang meski mempunyai keterbatasan dalam hal katalog.

STREAMING MENGUAT KARENA PEMBELI YANG SEMAKIN MENURUN

Ada alasan dibalik kenapa streaming semakin menguat di Jepang dan penjualan CD semakin turun pelan-pelan. Alasannya adalah penduduk Jepang yang membeli CD semakin turun karena pertumbuhan penduduk semakin lambat dan kaum mudanya lebih memilih menikmati musik di internet dengan streaming ketimbang harus mengeluarkan uang sebanyak 1650 yen untuk menikmati sebuah single. Opsi tersebut menjadi pilihan kaum muda di Jepang  karena mereka ingin menikmati musik sesimpel mungkin dengan biaya seminim mungkin bahkan segratis mungkin.

Pergeseran pasar musik Jepang juga terjadi berkat pengaruh media sosial. Lagu viral yang sudah disebutkan diatas juga menyebar cepat lewat media sosial entah itu hanya sekedar cuitan di Twitter, rekomendasi dari teman lewat Facebook atau menjadi iringan dance cover di Youtube dan Instagram. Semua pengaruh tersebut membawa dampak kepada sebuah lagu dan bisa berpengaruh juga terhadap penjualan lagu tersebut.

Semua hal tersebut membuat musik Jepang terlihat seru di tahun 2016 karena paradigma pasar musik perlahan berganti dari fisik ke digital. Permasalahan penduduk, banyaknya anak muda dengan pengaruh media sosialnya, dan semakin banyak layanan internasional yang masuk ke Jepang membuat pasar musik Jepang 2016 mengalami masa peralihan awal untuk membuka diri kepada dunia musik internasional melalui jalur digital.

Kesuksesan digital music di Jepang membuat Universal mengakuisisi salah satu manajemen terkenal di Jepang bernama Office Augusta yang menjadi rumah bagi Motohiro Hata, Sukima Switch, Masayoshi Yamazaki, Yuu Sakai, EmiNakamura dan masih banyak lagi dengan harapan artis Augusta bisa digenjot dari segi digital selain dari penjualan fisiknya yang sudah tidak diragukan lagi. Harapan dari saya ketika Universal membeli Augusta adalah artis Augusta akan besar di dunia digital serta mengenalkan artis-artis ini ke dunia lewat situs streaming seperti Spotify.

Semua modal yang Jepang perlukan sudah ada untuk melebarkan sayap musiknya ke dunia seperti dulu pada akhir 70’an dimana para eksekutif musik Jepang berbondong-bondong ke Amerika Serikat untuk mempromosikan musik mereka di sana, tinggal bagaimana mereka mau mengalah dengan REGION LOCK yang menjadi permasalahan nomor satu musik Jepang saat ini berkat pemikiran eksekutif mereka yang masih menganggap musik Jepang hanya boleh dikonsumsi oleh orang Jepang dan tidak melihat market international-nya.

Mari kita lupakan Johnny’s Group dengan kroni-kroninya atau 48 Family dengan penjualan fisiknya yang bombastis tapi langsung dibuang ke tempat sampah. Karena tahun 2016 merupakan tahun dimana Jepang mulai menyambut musik digital dengan antusias, embrace new media, dan bisa dinikmati oleh masyarakat di seluruh dunia. Mari kita lihat apakah trend positif ini akan berlanjut di tahun 2017.

 

Like Fanpage di RE:PSYCHO pada tautan ini

One thought on “MUSIK JEPANG TAHUN 2016: STREAMING, PERMASALAHAN PENDUDUK DAN MEDIA SOSIAL

  1. Dari digital berimbas ke penjualan fisiknya juga. Lagian jepang dari dulu terlalu membatasi diri sih.
    Dulu juga kayak silent siren waktu gelar konser di indonesia mereka kaget kok orang indonesia pada hafal lagu2nya full, padahal mereka belom jualan di indonesia (bentuk fisik). Dan mereka akhirnya sadar kalo itu berkat youtube. Dan akhirnya sekarang SaiSai udah mulai maen di youtube.

Leave a Reply