%e3%81%8d%e3%81%ae%e3%81%93%e5%b8%9d%e5%9b%bd

ALBUM REVIEW: KINOKO TEIKOKU – AI NO YUKUE

%e3%81%8d%e3%81%ae%e3%81%93%e5%b8%9d%e5%9b%bd-%e6%84%9b%e3%81%ae%e3%82%86%e3%81%8f%e3%81%88-758x758

KINOKO TEIKOKU
AI NO YUKUE
EMI RECORDS, 2016
Genre: Shoegaze, Indie Pop, Dream Pop

Kuartet shoegaze asal Jepang ini seolah mendapat durian runtuh ketika mereka dikontrak oleh label besar seperti Universal Music dan masuk ke sublabel mereka EMI Records. Kinoko Teikoku langsung diposisikan Universal sebagai new face of alternative music in Japan bersamaan dengan teman satu labelnya yaitu Glim Spanky dan Alexandros. Kinoko juga diposisikan untuk menjadi saingan band alternative Jepang yang sudah matang sebelumnya seperti Gesu no Kiwami Otome, indigo la end, Shinsei Kamattechan dan artis rilisan unBORDE lainnya.

Mereka langsung mengeluarkan debut album mereka dibawah major label berjudul “Neko to Aruregi” (Kucing dan Alergi) yang viral berkat cover art mereka  yang menampilkan empat kucing imut dengan warna yang sangat indie pop. Album ini mampu membawa Kinoko menjadi salah satu yang terdepan dalam skena shoegaze Jepang  karena berhasil duduk di posisi 25 besar di Jepang. Tetapi album ini terdengar kurang fokus dan mereka seperti band indie yang disuruh-suruh oleh major label untuk membuat album yang komersil dan menjual.

Untuk membalas rasa ketidakpuasan terhadap album sebelumnya mereka merilis album major kedua mereka berjudul “Ai no Yukue” yang penuh dengan romantisme dan perpisahan dalam satu ruang kebisingan dengan lanskap yang dreamy didalamnya.

Citra bahwa mereka ingin berubah dan kembali ke akar bermusik mereka yaitu shoegaze/dream pop terpatri jelas dalam “Ai no Yukue” yang bermain dalam kebisingan wall of sound dari shoegaze bercampur dengan vokal lirih dari .Nuansa My Bloody Valentine dalam album “Loveless” terasa jelas dengan buliran lirik yang puitis dan emosional. Taburan indie pop dengan rasa sophistipop tertuang dalam “LAST DANCE”. “MOON WALK” adalah fusi dream pop milik Beach House, shoegaze milik Slowdive, dan trip hop milik Portishead.

Mereka membuat musik reggae menjadi shoegaze dalam “Natsu no Kage”, nada-nada white reggae yang dibawakan UB40 dan The Police mereka padankan dengan noise gitar dan vokal reverb menghadirkan sebuah genre hibrida yang padu dan sesuai takaran. Mereka meninggalkan rasa komersial pada “Ame Agari” dengan nuansa pop rock yang ringan dan romantis. “Azemachi de” bermain pelan dengan selipan musik yang soulful dengan dasar indie pop. “Shine ga Futari wo Wakatsu Made” adalah sebuah nomor romantis dengan nada yang mellow ditambah string section. Puncak emosional mereka ditumpahkan pada “Cry Baby” dengan balutan alternative rock/shoegaze ala Ride dalam album “Nowhere”.

Album terbaru Kinoko Teikoku “Ai no Yukue” jauh lebih baik dari “Neko to Arerugi”, pada album ini mereka jauh lebih emosional dan lebih tertata. Mereka menyampaikan rasa rindu, cinta dan kesedihan dalam satu nafas musik yang mellow dengan iringan shoegaze dan dream pop untuk menjaga estetika emosionalnya. Mereka mengimbangi noise tersebut dengan nomor-nomor indie pop dan pop rock sehingga album tidak terdengar berat atau penuh dengan nomor-nomor full reverb. Sebuah sajian musik Jepang terbaik sepanjang 2016 karena bisa mengawinkan shoegaze dengan alternative rock. A major and emotionally move from Kinoko Teikoku.

8/10

TRACK LIST: (Lagu yang diberi penebalan merupakan key track)

  1. Ai no Yukue 「愛のゆくえ」
  2. LAST DANCE
  3. MOON WALK
  4. Landscape
  5. Natsu no Kage「夏の影」
  6. Ame Agari「雨上がり」
  7. Azemichi de 「畦道で」
  8. Shi ga Futari wo Wakatsu made「死がふたりをわかつまで」
  9. Cry Baby 「クライベイビー」

 

 Like Fanpage RE:PSYCHO pada tautan ini

One thought on “ALBUM REVIEW: KINOKO TEIKOKU – AI NO YUKUE

Leave a Reply