ALBUM REVIEW: TOKYOLITE – AVENUE

14600629_10210955810759855_351195137_o

TOKYOLITE
AVENUE
THE LITE RECORDS, 2015
Genre: Funk Rock, Indie Pop, Alternative Funk, Alternative Pop

Skena musik funk di Indonesia tengah menjamur. Banyak dari mereka yang terkenal berkat menyatukan musik funk dengan sensibilitas pop lokal sehingga lagu mereka sering diputar di radio-radio. Namun esensi musik funk di Indonesia semakin hari semakin membosankan dan terdengar itu-itu saja. Di tengah krisis musikalitas tersebut muncullah dua orang yang terdiri dari Stevan Arianto (gitar, vokal) yang mempunyai suara mirip dengan Rod Stewart dan Sandhy Sandoro dan Alexander Bramono (bass) dan menamakan dirinya dengan Tokyolite. Band yang mengambil akar musik citypop dan funk rock ini mengeluarkan album perdananya berjudul “Avenue” pada tahun 2015 kemarin.

Nomer pembuka “Avenue” mengingatkan akan sound Red Hot Chili Pepper dengan pencampuran elemen indie rock ala The Rentals dan terkadang Weezer, hanya saja titik reff di lagu ini kurang maksimal. “Shallow” seolah menipu pendengarnya dengan memainkan nada smooth dan jazzy sebelum dihantam dengan riff gitar hard rock. “Harus” membawakan esensi pop Indonesia pada era 90’an dengan bantuan indie pop. Mereka mencoba memasukkan unsur hip hop pada “U.F.C.” dengan ketukan yang ritmis dan sesuai dengan ritme rappingnya.

“Picture” bermain dengan nuansa yang smooth dengan vokal Steven yang terdengar halus dan sexy. Poin penting dalam lagu ini adalah mereka membawakan unsur mellow dengan berbagai macam ambient tetapi tidak terdengar menye-menye atau menyeret pendengarnya. Lagu berbahasa Indonesia kedua yang ada di lagu ini yaitu “Jangan” mempunyai nada-nada yang catchy dan soulful seolah Sandhy Sandoro sedang memainkan musik city pop dengan fade out yang epik.  Sangat tepat untuk dimainkan di radio kota besar.

“Inches” adalah sebuah tembang untuk sepakbola tanpa harus terdengar sakral dengan choir atau antemik seperti layaknya “Three Lions” mirip The Lightning Seeds, mereka membuat tembang sepakbola menjadi begitu berkelas dan bergaya dengan berbagai polesan percussion di sana sini. “Consolation Prize” bermain begitu liar, mereka memasukkan semua unsur ke dalam satu paket lagu mulai dari funk rock, soul, soft rock, jazz sampai alternative rock yang unik. Lagu ini seperti “Paranoid Android” versi mereka karena berani memasukkan berbagai macam unsur musik tanpa takut untuk kehilangan benang merahnya.

Tokyolite memainkan musik tanpa takut untuk terdengar berbeda dari band funk kebanyakan. Mereka sesuka hati memasukkan berbagai macam unsur yang jauh dari tema utama musik mereka yaitu funk, city pop dan jazz. Mereka bisa terdengar sangat rock atau sangat indie pop dalam waktu bersamaan. Uniknya mereka membawakan itu semua dengan nada yang smooth dan tidak njelimet atau terdengar sangat experimental.

Hanya saja Tokyolite masih kekuragan nada-nada catchy yang bisa menusuk pendengarnya atau membuat pendengarnya bersedia untuk mengulang lagunya, mereka juga kekurangan materi berbahasa Indonesia untuk bisa meraih pasar yang lebih banyak dan luas lagi. Jika Tokyolite mau berusaha untuk menjadi lebih pop dan membumi maka Tokyolite adalah sebuah paket komplit di belantika musik Indonesia yaitu musikalitas yang tinggi, vokalis yang berkelas dan musik yang dapat diterima oleh siapa saja.

7/10

TRACK LIST: (Lagu yang diberi penebalan merupakan key track)

  1. Avenue
  2. Shallow
  3. Harus
  4. U.F.C.
  5. Picture
  6. Jangan
  7. Inches
  8. Consolation Prize

Like Fanpage RE:PSYCHO pada tautan ini

Leave a Reply