ALBUM REVIEW: UTADA HIKARU – FANTOME

cover

UTADA HIKARU
FANTÔME
VIRGIN/UNIVERSAL, 2016
Genre: J-Pop, Pop, Jazz, Synthpop, R&B, Soul

KOTAK FAKTA
Utada Hikaru lahir pada 19 Januari 1983 di Manhattan, New York, Amerika Serikat
Album pertamanya “First Love” (1999) berhasil menjadi album berbahasa Jepang terlaris sepanjang masa
Album terbarunya “Fantôme” adalah album pertamanya setelah kembali dari masa hiatusnya selama 5 tahun.
“Fantôme” adalah album pertamanya di bawah bendera Universal Music Japan setelah label ia sebelumnya EMI Music Japan diakuisisi oleh Universal Music Japan pada tahun 2013.
Utada mempunyai satu anak laki-laki hasil perkawinan keduanya dengan seorang pria Italia bernama Francesco Calianno pada tahun 2014.

Mungkin kisah Utada Hikaru sama seperti kisah Avatar dalam serial Avatar: The Legend of Aang. Di saat musik Jepang butuh ikon baru di era millenium Utada datang dengan “First Love” yang terjual 8 juta kopi di Jepang dan menjadi album terlaris sepanjang masa. Prestasi tersebut terus dilanjutkan dengan album Utada berikutnya seperti “Distance” (4 juta kopi terjual), “Deep River” (3 juta kopi terjual), “Ultra Blue” (1 juta kopi terjual), dan “Heart Station” (1 juta kopi terjual).

Tidak ingin berpuas diri di Jepang, ia menapakkan kaki ke Amerika dengan merilis dua album yaitu “Exodus” dan “This is the One” yang mendapat atensi positif di sana. Nama Utada kembali meroket di kalangan pecinta game dan anime dengan mengisi soundtrack Kingdom Hearts dan ketiga film Rebuild of Evangelion. Utada berhasil menjual 52 juta kopi dari album, single dan home video. Ia juga dikenal sebagai seorang singer-songwriter yang berani bereksperimen dengan berbagai macam genre seperti ethereal wave, trip hop, new age, ambient, tanpa takut kehilangan pendengarnya karena bisa ia olah dengan kemasan pop yang ringan.

Semua hal tersebut menjadikan Utada Hikaru sebagai legenda J-Pop di era millenium dan menjadi garda terdepan invasi musik Jepang ke telinga dunia.

Tetapi di saat dunia membutuhkan karya Utada, ia menghilang.

Di saat karir dunianya sedang menanjak Utada lebih memilih untuk menghentikan semua aktivitas bernyanyinya pada tahun 2011 dengan alasan kelelahan. Ia bekerja secara nonstop selama 12 tahun dan ingin beristirahat demi mencari kehidupan yang lebih luas lagi.

Ketika ia menghilang skena musik Jepang telah berganti dan berubah secara drastis. Musik soft dan deep dari Utada digantikan dengan lightstick para wota idol music seperti AKB48 beserta antek-anteknya, kawaii music dengan segala keanehannya seperti Babymetal dan Kyary Pamyu Pamyu, musik anisong dengan segala kerancuan pola musiknya serta para boyband/girlband binaan LDH seperti J Sandaime Soul Brothers, E-Girls dan EXILE dengan segala bling-bling, swag dan keglamorannya.

Rival Utada seperti Namie Amuro dan Ayumi Hamasaki juga terseok-seok di tengah gempuran musisi baru apalagi identitas kedua penyanyi tersebut sedikit memudar akibat terlalu banyak mengonsumsi musik Barat.

Setelah penggemarnya terus memanggil namanya untuk kembali, ia akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan aktivitas musiknya pada April 2016 dengan single “Hanataba wo Kimi ni” dan “Manatsu no Tooriame”. Belum selesai publik tercengang dengan materi baru Utada yang lebih stripped down ia kembali mengumumkan album barunya pasca “Heart Station” (2008) berjudul “Fantôme” yang bermakna “hantu” dalam bahasa Perancis.

Utada membuat album ini bukan untuk sekedar merayakan kembalinya ia dalam industri musik, ia menjadikan album keenamnya sebagai refleksi dan bahan introspeksi dirinya sebagai seorang ibu dan istri. Album ini juga ia buat sebagai bentuk penghargaan kepada sang ibu Keiko Fuji yang meninggal pada tahun 2013 dengan cara yang mengenaskan. Keiko Fuji sendiri menjadi role model Utada dalam bernyanyi secara lembut dan dalam karena ibunya sendiri merupakan penyanyi enka kenamaan.

Rasa terima kasih terhadap ibunya terpancar pada lagu pembuka album ini yaitu “Michi” yang mengambil aroma dance-pop era 90’an dengan pendekatan synthpop modern. Lirik seperti “It’s so lonely, so lonely/but i’m not alone not alone” seolah menegaskan bahwa arwah ibunya akan terus menemani dan mendukung dia di jalan apapun yang ia pilih. Utada bernyanyi secara tegas layaknya lelaki dalam “Ore no Kanojo” dengan sentuhan swing dan big band, sebuah hal baru yang dicoba Utada. Ia mengambil perspektif lelaki dalam lagu ini (kata “ore” sering dipakai oleh lelaki dalam menyebut saya, “ore” akan terdengar sangat kasar jika dipakai oleh perempuan). Lagu ini seolah membuktikan bahwa Utada bisa bermain secara gentle tanpa harus kehilangan sisi feminimnya dengan suara dan aksen Perancis yang ia pakai. 

Bentuk penghargaan terhadap ibunya dan pasangan hidupnya sekarang terpatri dalam “Hanataba wo Kimi ni” atau “Buket bunga untukmu”. Lagu ini dibuat begitu damai tanpa perlu ada polesan musik yang menggebu-gebu di sana sini, bermodal sound pop rock yang sendu dan suara Utada yang lirih dan tulus sudah cukup untuk membuat orang yang mendengar lagu ini menitikkan air mata.

Kolaborasi yang fenomenal dapat ditemukan dalam “Nijikandake no Bakansu”. Ia mengajak salah satu legenda musik Jepang yaitu Ringo Shiina untuk bernyanyi bersama. Seperti yang diketahui bahwa Utada dan Shiina adalah dua nama yang dikenal oleh dunia ketika berbicara musik Jepang pada awal millenium. Dua diva ini bersatu dalam lamunan musik pop rock, indie pop, new wave dan baroque pop. Lagu yang bercerita tentang pelarian akan rutinitas hidup dan kejamnya dunia dibawakan dengan sangat manis oleh kedua diva ini. Vokal Utada yang halus berpadu dengan vokal Shina yang nyentrik seperti melambangkan dua sisi dalam kehidupan yaitu manis dan pahit.

“Ningyo” bermain dalam ranah folk yang atmosferik ala Feist dan Cate le Bon dan surf pop ala The Beach Boys untuk mendukung judul lagu yang bercerita tentang “manusia duyung”. Utada bermanuver dengan enka dalam vokalnya dan menimbulkan kesan misterius dalam lagu sama seperti sesosok “manusia duyung” yang penuh dengan mitos.

Injeksi musik Latin, world music, jazz,  dan R&B disuntikkan dalam “Tomodachi”. Lagu kolaborasinya bersama Nariaki Obukuro dinyanyikan begitu lepas dan menggoda oleh Utada dan mengajak pendengarnya untuk bergoyang santai bersama sambil menikmati groove dari musik yang padat dan yakin.

“Manatsu no Tooriame” bermain di slow tempo dengan mengutamakan musik mellow yang mengedepankan piano dan orkestra. Pada bagian akhir lagu ia menambahkan nuansa downtempo dan cuilan post-dubstep ala James Blake. Lagu ini dengan sempurna mendefinisikan kata calm after the storm. Semangat jazz rock, soft rock dan R&B yang dipopulerkan oleh Fleetwood Mac muncul dalam “Kouya no Ookami”. Seperti judul lagunya “Serigala di Keliaran” Utada memainkan vokalnya seperti serigala yang lapar akan mangsanya, terdengar seksi di awal tapi meyakinkan untuk menerjang pendengarnya dengan manuver vokalnya.

Sisi eksperimentalis Utada ditunjukkan dalam “Boukyaku” yang mendeskripsikan kematian dan afterlife dengan sangat gamblang. Demi mendukung suasana itu ia memakai ambient, trip hop dan darkwave dan mengajak rapper KOHH untuk bernyanyi seperti seseorang yang ingin dicabut nyawanya. “Jinsei Saikou no Hi” adalah apresiasinya terhadap musik funk dengan permainan musik yang simpel dan gembira sesuai dengan lagunya “Hari Terbaik dalam Hidupku”.

Utada kembali membuat pendengarnya menangis dalam “Sakura Nagashi”. Lagu yang dibuat Utada khusus untuk instalasi ketiga dari Rebuild of Evangelion ini menyajikan piano yang lirih dan juga lembut. Inspirasi dari musik klasik sangat ketara di album ini. Kesan khidmat dan khusyuk juga muncul dimana pada bagian bridge tempo lagi ini sedikit lebih cepat karna gebukan drum dan petikan gitar. Vokal Utada mencapai klimaks tertingginya pada “Sakura Nagashi” jadi wajar kalau tembang ini sangat sempurna untuk menutup perjalanan pribadi dari seorang Utada Hikaru dalam “Fantôme”.

Ada yang mengatakan bahwa sebuah album adalah ekspresi dan perasaan seseorang pada saat album tersebut dirilis, pernyataan tersebut sesuai dengan album keenam dari Utada.

Album ini adalah album Utada yang sangat personal dan sangat dalam. Ia menjadikan momen album keenamnya sebagai kilas balik dari kehidupan yang ia jalani sepanjang enam tahun terakhir. Materi di album ini begitu jujur, tenang dan dalam tanpa harus terlihat mellow atau mendramatisir suatu hal lalu menumpahkannya ke dalam sebuah lagu. Semua terlihat apa adanya.

Musikalitas yang diusung dalam album ini menjadi satu poin penting dalam “Fantôme”, sebagaimana dikutip dari Japan Times bahwa album keenam Utada adalah antitesis dari skena musik Jepang sekarang yang terlihat terlalu beragam. Utada memakai ramuan musik Jepang di era 80’an dan 90’an dimana istilah J-Pop belum muncul dan musik Jepang pada saat itu sedang mencari jati dirinya dalam menghadapai arus musik Barat yang begitu deras sehingga muncul genre yang menjadi cetak biru dari J-Pop seperti city pop, new folk dan new music. Maka dari itu “Fantôme” terdengar begitu autentik dan berkelas tanpa perlu tambahan yang terdengar artifisial.

Ia meninggalkan hingar bingar musik dunia dan lebih memilih untuk memfokuskan dirinya ke dalam musik Jepang, untuk itu bahasa yang dipakai pada judul lagunya semuanya dalam bahasa Jepang. “Fantôme” adalah bentuk perlawanan terhadap kemapanan musik Jepang yang menjemukan karena maraknya idol dan anisong yang terus menggusur musik yang jauh lebih bagus di chart. Perlawanan yang ia lakukan benar-benar berhasil sehingga “Fantôme” terdengar sangat original untuk ukuran album Jepang karena tidak ada yang bisa membawakannya secara utuh dan indah selain Utada.

Dengan segala estetika dan konsep yang ia usung wajar jika “Fantôme” adalah karya terbaik dari Utada Hikaru. Bukan karena ia pulang ke rumah penggemarnya, tetapi ia mampu membalikkan skena musik Jepang yang sudah masuk ke zona nyaman secara keseluruhan tanpa harus berteriak lantang atau membuat musik yang sangat eksperimental dan njelimet. Ia masih terlihat nyeni tanpa harus merubah soundnya secara 180 derajat.

Penguatan akan melodi, tatanan lagu dan vokal adalah hal yang hilang dari musik J-Pop saat ini dan Utada membawakannya kembali dalam “Fantôme”. Sebelas lagu yang dibawakan oleh Utada adalah sebuah konsep revolusioner dari J-Pop dan membalikkan asumsi bahwa J-Pop bukanlah sebuah pop artifisial dengan segala make-up dan kawaii culture. Melalui “Fantôme” ia ingin menegaskan bahwa J-Pop adalah sebuah kultur, sebuah seni, sebuah pandangan, sebuah pemikiran dan emosi orang Jepang dalam medium lagu dan partitur nada. “Fantôme” adalah momen ketika J-Pop menemui makna aslinya dan dieksekusi dengan sempurna oleh Utada Hikaru.

J-Pop dan Utada Hikaru menemui titik terbaiknya dan pulang ke rumah dalam “Fantôme”.

Okaerinasai, Hikki-chan

10/10

TRACK LIST: (Lagu yang diberi penebalan merupakan key track)

  1. Michi 「道」
  2. Ore no Kanojo 「俺の彼女」
  3. Hanataba wo Kimi ni 「花束を君に」
  4. Nijikandake no Vacance (feat. Ringo Shiina) 「二時間だけのバカンスfeat. 椎名林檎」
  5. Ningyo 「人魚」
  6. Tomodachi with Nariaki Obukuro 「ともだちwith 小袋成彬」
  7. Manatsu no Tooriame 「真夏の通り雨」
  8. Kouya no Ookami 「荒野の狼」
  9. Boukyaku 「忘却」
  10. Jinsei Saikou no Hi 「人生最高の日」
  11. Sakura Nagashi 「桜流し」

Like Fanpage RE:PSYCHO pada tautan ini

Leave a Reply