ANIME REVIEW: RE:ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU

soulreaperzone-com_re_zro_kara_hjimeru_iskai_seiktsu_-_21_sd_hs-mkv_snapshot_11-17_2016-09-22_10-50-50
(Re:Zero Production Committee)

RE:ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU
WHITE FOX, 2016
Genre: Isekai, Drama, Fantasy

Ah, genre isekai atau dunia lain. Genre ini ibarat seperti jamur di musim hujan, hilang satu maka tumbuh lagi dan bukannya semakin berkurang malah semakin bertambah. Jenis cerita ini terus dipakai dalam industri anime dan game karena bisa mendatangkan keuntungan secara instan tanpa harus pusing memikirkan kelogisan atau kemasuk akalan sebuah cerita karena toh ini ceritanya di dunia lain yang jauh dari dimensi dimana kita hidup sekarang.

Hal inilah yang ditakutkan oleh Hayao Miyazaki. Miyazaki pernah mengatakan bahwa anime sudah kehilangan sentuhan magisnya karena para penulisnya jarang melihat keadaan sekitar di luar rumah dan sibuk mengikuti formula yang ada demi keuntungan dan popularitas yang sebesar-besarnya. Meski banyak yang menentang pendapat Miyazaki tetapi kalau kita berkaca omongan Miyazaki ada benarnya.

soulreaperzone-com_re_zro_kara_hjimeru_iskai_seiktsu_-_21_sd_hs-mkv_snapshot_14-35_2016-09-22_10-51-16
(Re:Zero Production Committee)

Untuk para otaku atau bahasa halusnya para pecinta anime terutama di dekade 2010an, anime menjadi pelarian akan realita hidup yang lebih kejam dari ibu tiri. Jadi wajar saja jika genre issekai laku seperti terompet pada malam pergantian tahun karena para otaku ini seolah memasukkan dirinya sendiri kedalam karakter yang ada di dalam serial issekai terutama jika itu mempunyai dasar layaknya cerita RPG dan mempunyai elemen game.

Sudah barang tentu cerita seperti ini selalu muncul di hampir setiap musim tayang anime dan selalu mendapat atensi yang lebih dibandingkan judul lainnya, untuk pertengahan 2016 sebuah judul bernama “Re:Zero” mendapat sorotan yang paling banyak.

_soulreaperzone-com__re_zro_kara_hjimeru_iskai_seiktsu_-_03_sd_hs-mkv_snapshot_19-23_2016-09-22_10-46-32
(Re:Zero Production Committee)

Judul ini mendapat spotlight karena menurut orang-orang dan internet, Re:Zero adalah sebuah cahaya di tengah suramnya genre issekai yang terkesan itu-itu saja bahkan ada yang menyebutkan bahwa Re:Zero adalah dekonstruksi dari genre issekai sama seperti Shingeki no Kyojin yang disebut dekonstruksi dari genre shounen tapi berujung ke sebuah kegagalan karena kembali lagi menggunakan stereotip dari genre shounen.

The first cut is the deepest” begitulah kata Cat Stevens dalam lagunya, begitu juga pula Re:Zero dalam memberikan impresi awal terhadap penontonnya. Cerita dipusatkan pada Subaru seorang NEET yang tiba-tiba masuk ke dunia fantasi, ia mempunyai kekuatan untuk mengulang kembali hidup dan itu bisa ia dapatkan jika ia mati sebelumnya. Kekuatan tersebut ia gunakan untuk menyelematkan orang yang ia sayangi dan sangat berharga di matanya. Subaru merasakan kepahitan dan frustasi yang mendalam ketika ia tahu bahwa kekuatannya saja belum cukup untuk menyelamatkan orang yang ia sayangi.

_soulreaperzone-com__re_zro_kara_hjimeru_iskai_seiktsu_-_04_sd_hs-mkv_snapshot_14-37_2016-09-22_10-47-25
(Re:Zero Production Committee)

Dari deskripsi pendek tersebut dapat dibayangkan betapa keren dan besarnya tema yang ingin diusung dan dapat menarik para otaku jaman sekarang karena anime ini akan berbeda dengan Sword Art Online dimana protagonisnya menang banyak dan terlihat bahagia.

Tetapi di lapangan kenyataan berkata lain dan tetap saja kenyataan yang menang ketimbang fantasi.

“Re:Zero” masih sangat jauh untuk menjadi sebuah “dekonstruksi dari genre issekai” karena semua yang ada di anime ini sudah banyak dipakai dalam judul lain, bahkan di luar genre issekai sekalipun sehingga akan lebih tepat jika judulnya diganti menjadi “Re:Used”.

Alih-alih menjadi “dekonstruksi dari genre issekai”, anime ini tidak fokus dalam bercerita dan tidak tahu arah dan tujuannya mau kemana. Maksud dan tujuan karakter utama sendiri tidak jelas dan seolah loncat dengan cerita sebelumnya. Begitu ia mati dan hidup kembali maka cerita masuk ke dunia yang berbeda dari kehidupan sebelumnya tanpa ada pengenalan kejadian atau minimal backstory kenapa hal itu terjadi. Hukum sebab-akibat seolah tidak berlaku dalam Re:Zero jadi boro-boro seperti “Edge of Tomorrow” versi anime lha ya wong ceritanya bisa beda-beda di tiap episode. Setidaknya “Endless Eight” dari serial Haruhi yang sukses membuat penonton kesal karena looping life masih lebih masuk akal ketimbang looping life dalam Re:Zero.

soulreaperzone-com_re_zro_kara_hjimeru_iskai_seiktsu_-_15_sd_hs-mkv_snapshot_12-28_2016-09-22_10-48-57
(Re:Zero Production Committee)

Re:Zero juga gagal dalam menjelaskan konsep dan garis besar cerita secara keseluruhan. Begitu anime ini mau menjelaskan konsepnya, tiba-tiba Subaru mati lagi dan cerita akan mulai dari awal lagi. Konsep menarik seperti  “Seven Deadly Sins” yang memicu cerita menjadi sia-sia karena hanya menjadi tempelan agar serial terlihat cool atau edgy.

Tempo cerita juga terlalu pelan dan terkesan dilebih-lebihkan, cerita yang seharusnya bisa dipotong atau dibuang malah dipakai demi mendramatisir cerita. Hasilnya 17 episode dari Re:Zero adalah filler, cerita sebenarnya dan terfokus baru dimulai dari episode 18 yang membuat penonton sedikit paham mau dibawa kemana ceritanya. Sebuah kegagalan dari segi pembangunan plot atau plot development. Permasalahan yang menjadi fokus cerita layaknya mencari jarum di tumpukan jerami tetapi begitu sudah ketemu jarum tersebut kembali hilang di tumpukan jerami.

Anime ini juga dengan sengaja memasukkan unsur gore, darah berceceran, karakter utama yang dibuat sangat frustasi, tone yang gelap, kamera yang bergoyang dan lainnya demi menciptakan unsur edgy, berat dan pshycological tetapi unsur tersebut gagal untuk membuat cerita berat karena pembangunan ceritanya terkesan “gali lubang tutup lubang”.

Re:Zero memusatkan dirinya pada seorang karakter bernama Subaru yang menjadi sebab utama cerita terus berjalan. Karakter Subaru malah cukup menjengkelkan dan terlihat bodoh di dalam cerita. Dia tiba-tiba bisa menjadi sangat chuunibyou dengan segala kenarsisannya dan bisa menjadi sangat edgy dan penuh dengan frustasi dalam jarak 1 atau 2 episode. Pengembangan karakter utama juga sangat lambat akibat dari lambatnya pengembangan cerita sehingga kita akan melihat karakter ini berkembang setelah 15 episode karena sebelumnya ia sendiri terlihat tidak tahu dengan kekuatan yang ia punya.

14355648_1206133746126894_9069519952846704660_n

Jika kalian menganggap “kan Subaru ga tahu apa-apa karena dia baru tahu apa yang terjadi setelah ia mati dan itu menunjukkan bahwa Subaru manusia biasa”, maka anggapan kalian tidak sah karena manusia biasa pun akan terus mencari celah untuk tidak melakukan kesalahan yang serupa apalagi diperparah dengan cerita yang terus berganti-ganti dan ingin terlihat deep.

_soulreaperzone-com__re_zro_kara_hjimeru_iskai_seiktsu_-_03_sd_hs-mkv_snapshot_20-14_2016-09-22_10-46-19
(Re:Zero Production Committee)
_soulreaperzone-com__re_zro_kara_hjimeru_iskai_seiktsu_-_04_sd_hs-mkv_snapshot_05-01_2016-09-22_10-46-59
(Re:Zero Production Committee)
soulreaperzone-com_re_zro_kara_hjimeru_iskai_seiktsu_-_22_sd_hs-mkv_snapshot_01-41_2016-09-22_10-50-05
(Re:Zero Production Committee)
soulreaperzone-com_re_zro_kara_hjimeru_iskai_seiktsu_-_22_sd_hs-mkv_snapshot_00-35_2016-09-22_10-50-12
(Re:Zero Production Committee)

Karakter pendukungnya seolah menegaskan bahwa anime ini ditargetkan untuk para otaku yang belum tahu banyak soal anime. Ada maid yang imut, princess yang waifu-able, dan tentunya karakter trap yang sangat kawaii dan cocok untuk membuat berpuluh-puluh komik doujin. Karakter tersebut tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap cerita dan dapat ditemukan di judul lainnya.

Inkonsisten merupakan musuh utama dari Re:Zero bukan Witch Cult yang diset sebagai antagonis dalam serial ini. Banyak sekali potensi yang bagus dari Re:Zero tetapi karena penggarapannya tidak maksimal dan terkesan bertele-tele serial ini malah membuat pusing karena masih banyak pertanyaan yang belum selesai dijawab tapi sudah pindah ke pertanyaan berikutnya.

Anime ini juga terlalu berusaha keras untuk menjadi deep, psychological dan edgy, tetapi karena cerita hanya memfokuskan kepada penderitaan Subaru dan tidak mengindahkan hal lainnya maka hal tersebut malah menjadi bumerang bagi serial ini.

Re:Zero adalah sebuah ironi otaku jaman sekarang yang gampang tertipu dengan genre isekai dan karakter yang depresif. Layaknya lure dalam Pokemon GO, serial ini menarik perhatian dan menghebohkan para penggemar anime jaman sekarang dengan darah dan tragisnya cerita Subaru tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Serial ini juga membuktikan bahwa sesuatu yang overhyped dalam anime bisa bermakna negatif dan hanya hype yang artifisial dan tidak bertahan lama seperti Kabaneri pada musim lalu.

soulreaperzone-com_re_zro_kara_hjimeru_iskai_seiktsu_-_15_sd_hs-mkv_snapshot_03-55_2016-09-22_10-47-45
(Re:Zero Production Committee)

3/10

Like Fanpage RE:PSYCHO di FB pada tautan ini

3 thoughts on “ANIME REVIEW: RE:ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU

  1. Aku berhenti membaca di :”Alih-alih menjadi “dekonstruksi dari genre issekai”, anime ini tidak fokus dalam bercerita dan tidak tahu arah dan tujuannya mau kemana. Maksud dan tujuan karakter utama sendiri tidak jelas dan seolah loncat dengan cerita sebelumnya. Begitu ia mati dan hidup kembali maka cerita masuk ke dunia yang berbeda dari kehidupan sebelumnya tanpa ada pengenalan kejadian atau minimal backstory kenapa hal itu terjadi. Hukum sebab-akibat seolah tidak berlaku dalam Re:Zero jadi boro-boro seperti “Edge of Tomorrow” versi anime lha ya wong ceritanya bisa beda-beda di tiap episode. Setidaknya “Endless Eight” dari serial Haruhi yang sukses membuat penonton kesal karena looping life masih lebih masuk akal ketimbang looping life dalam Re:Zero.”

    tidak jelas di mana tujuan ? bagi saya tampaknya sangat jelas bahwa selalu tujuan subaru

  2. penulis kayaknya terlalu sensi gara – gara animenya overhyped nih
    setuju sih overhyped, tapi ini tulisan kesannya kayak emang dicari banget kesalahannya yang malah kalau dipikir baik baik bisa di counter hahaha

    1.kenapa subaru bodoh dan butuh waktu lama buat ngerti kekuatannya?
    – karena di kehidupan nyata lo mati gak akan bisa hidup lagi
    – karena lo mati men
    – lo bayangin aja kondisi lo dah mao mati, nahan sakitnya regang nyawa, terus kyk kentut lepas lo lagi bediri liatin tukang dagang ngomong gak jelas, kalo gue diposisi itu, jangankan bisa mikirin gue punya kekuatan, kabur sih gue hahaha

    2.subaru terlalu dibikin edgy dan emosional
    – balik lagi, lo mati men, cuma anime issekai biasa yang bisa anggep enteng mati
    – lo ngerasain sakit regang nyawa berkali kali jago kalo lo gak gila

    3.swiftnya kecepetan, dalam bbrp episode udah seger lagi
    – ini gue agak setuju tapi agak gak setuju juga,mungkin karena jatah episode cuman 13 perseasonnya, kalo dapet 25 mungkin akan lebih diperdalam tiap arcnya

    4.gak ada hubungan sebab akibat
    – penulis kayaknya bukan gamer yeh, saat lo mati dan lo idup lagi di check point, lo bakal tau moment salah lo dimana, tapi gak akan tau jalan yang bener yang mana, dan saat lo memilih jalan yang berbeda, gak perlulah ada back story pendukung ato apapun, lo dah jalan di jalan takdir yang berbeda dengan back story yang udah tercatat sampe lo nyampe di check point
    – gue persimpel, ini sistemnya check point game men!

    5.arc yang loncat loncat gak jelas tanpa tujuan
    – menurut gue bener, tapi satu yang salah, ini bukan anime ori men, diangkat dari LN, yang berarti nih cerita masih panjang, yang kita tonton kemaren tu menurut gue SEMUANYA baru teaser doang,memperkenalkan apa aja yg ada di dunia itu beserta role rolenya, kalo lo nonton kamen rider series lo pasti bakal terbiasa sama progress macem begini,dimana 1 sampe 20-an filler, 30 an masuk alur asli, 40 an baru serius

    lo kayak menganggap wibu yang bilang anime ini bagus cuman wibu cupu yang gak ngerti anime bagus, tapi lo berkomentar dah kayak wibu elitis yang subjektif

Leave a Reply