aimer-daydream

ALBUM REVIEW: AIMER – DAYDREAM

aimer-cover

AIMER
DAYDREAM
SONY, 2016
Genre: Pop, Alternative Rock, Folk, Adult Contemporary, Pop Rock

Setelah lima tahun Aimer berkarir di musik setidaknya ada dua citra yang melekat di dirinya yaitu mellow dan misterius. Ia selalu menyembunyikan citra dirinya di balik lampu latar yang temaram dengan musik yang mengharu biru entah itu dari genre classic, downtempo bahkan sampai trip hop. Ditambah lagi image anisong selalu kuat dalam karir Aimer karena ia sudah mengisi banyak anime mulai dari sekelas No.6 sampai Fate/Stay Night sudah pernah ia isi.

Tiga album yang ia buat seperti “Sleepless Night”, “Midnight Sun”, dan “Dawn” memang tidak jauh dari hal yang sudah disebutkan di atas, jika memang ada yang upbeat itu juga masih terdengar sedikit anisong seperti “Re:I Am”, “Brave Shine” atau “StarRingChild”.

Merasa bosan, Aimer ingin melakukan rebranding terhadap dirinya sendiri dan hal tersebut dimulai pasca perilisan single “Insane Dream” dimana ia menunjukkan mukanya di depan TV pada acara musik yang terkenal di Jepang dan mulai mengajak banyak musisi populer untuk merubah image dia dari penyanyi anisong menjadi penyanyi seutuhnya. Musisi yang diajak bukan main-main mulai dari Sukima Switch, Androp sampai artis yang menjadi fenomena Jepang saat ini setelah AKB48 yaitu Taka dari One OK Rock dan muncullah sebuah album bernama “Daydream” yang menegaskan bahwa Aimer sudah bangun dari kegelapan dan membiarkan kolaboratornya mewarnai musik Aimer yang dulunya hitam pekat.

“Insane Dream” membuka album dengan aroma grunge dan dentuman post-punk, Taka (One OK Rock) mengubah Aimer menjadi Alanis Morissette pada lagu ini. Aimer mampu mengikuti pola musik yang diberikan Taka dengan sangat maksimal ditambah lagi bisingan wall of noise dari gitar yang membuat lagu semakin maksimal sampai fade out. “Ninelie” mengingatkan akan karya Aimer sebelumnya yang dipegang Hiroyuki Sawano sehingga tidak ada sesuatu yang spesial pada lagu ini.

Takahito Uchisawa dari androp mengajak Aimer untuk bernyanyi lebih cepat dalam balutan indie rock dengan esens math rock pada “Twoface” yang juga mengingatkan lagu supercell pada era “Today is a Beautiful Days”. “Higher Ground” dibuat dengan semangat folk dan Americana yang tinggi dan Aimer mampu meliuk diantara petikan gitar tersebut. “For Lonely” yang dinyanyikan bersama Mao Abe adalah percobaan Aimer dalam memasukkan unsur adult alternative ala Ingrid Michaelson, Lisa Loeb, Sarah Harmer dan Lady Antebellum.

“Chouchou Musubi” yang dikerjakan bersama Yojiro Noda dari RADWIMPS dan Hanaregumi terdengar pelan di tengah musik yang lo-fi dan psychedelic. Lagu ini seharusnya masuk ke dalam soundtrack anime Kimi no na wa”. “Kataomoi” dibawakan dengan gaya semi-akustik dengan musik yang soulful dan simpel. Uchisawa seolah ingin membuat “Love Yourself” kepunyaan Justin Bieber versi Aimer pada lagu ini. Sukima Switch membawa Aimer menjadi nakal dalam track upbeat yang dipengaruhi oleh unsur new wave dalam “Hz”. Pada lagu ini Aimer disulap menjadi lebih muda dan bergairah. “Kowairo” bermain dengan pola jazz yang cukup experimental dengan vokal Aimer yang diset menjadi vokalis ethereal wave.

“Closer” membawa Aimer ke ranah pop punk, musik yang ditawarkan mirip dengan musik Hiroyuki Sawano (lagu ini dibuat oleh Taka One OK Rock). Taka lagi-lagi membawa Aimer mengikuti ego musiknya dalam “Falling Alone” yang bernuansa symphonic metal seperti Evanescence dan Nightwish.

“us” sedikit menganggu pada album ini karena terlalu TK From Ling Toshite Shigure, coba ganti vokal Aimer dengan vokal TK maka tidak ada perbedaan yang signifikan dalam lagu ini. “Stars in the Rain” adalah sebuah balada yang cukup ampuh dimainkan di arena konser.

Aimer berhasil mengubah image habis-habisan dalam “Daydream”. Perubahan tersebut juga tidak berlebihan karena Aimer mampu menjawab tantangan dan musik dari kolaboratornya tanpa ada kesan miss atau out of place. Aimer seolah mempunyai determinasi yang kuat untuk melawan image ia sebelumnya dengan album ini. Vokal Aimer juga bisa masuk ke semua genre yang ada entah itu folk, pop rock, indie rock, dance rock, jazz, pop punk, symphonic metal bahkan grunge. Hal ini menjadi sebuah bukti bahwa Aimer memang penyanyi serba bisa karena mampu mengeksekusi semuanya dengan baik. Semua lagu juga mempunyai value sendiri baik dari segi vokal dan produksi.

Nomor upbeat dan mellow di “Daydream” juga dibawakan dengan mantap dan nomor mellow pada album ini tidak terlihat menye-menye seperti album ia sebelumnya dimana ia menyeret suaranya untuk mendapatkan kesan mellow.

Pada wawancaranya di gelaran Anime Festival Asia Indonesia kemarin ia menegaskan bahwa ia ingin keluar dari zona nyaman dengan album “Daydream” dan album ini juga menjadi momen untuk dia keluar dari kegelapan (musik mellow, penampilan tertutup) menuju sinar cahaya (musik populer, penampilan terbuka). Jika itu yang ingin ia capai maka Aimer berhasil keluar dari zona nyamannya dengan baik dan berhasil menggapai cahaya tersebut dengan gemilang lewat album keempatnya. Sebuah langkah yang berani, besar dan mengagumkan dalam waktu bersamaan.

8/10

TRACK LIST: (Lagu yang diberi penebalan merupakan key track)

  1. Insane Dream
  2. Ninelie (with chelly from Egoist)
  3. Twoface
  4. Higher Ground
  5. For Lonely (with Mao Abe) for ロンリー」
  6. Chouchou Musubi「蝶々結び」
  7. Kataomoi「カタオモイ」
  8. Hz
  9. Kowairo「声色」
  10. Closer
  11. Falling Alone
  12. us
  13. Stars in the Rain

Leave a Reply