MOVIE REVIEW: KIMI NO NA WA. (YOUR NAME)

kimi-no-na-wa-1
(Makoto Shinkai/Comix Wave/Toho/Kimi no na wa Production Comittee)

KIMI NO NA WA. (YOUR NAME.)
Sutradara: Makoto Shinkai
Pengisi Suara: Ryunosuke Kamiki, Mone Kamishiraishi
Musik: RADWIMPS
TOHO/COMIX WAVE, 2016
Genre: Drama, School, Supernatural, Romance

Makoto Shinkai adalah seorang sutradara yang sukses membuat penontonnya terperanjat dan sedih dalam waktu bersamaan. Karyanya dia diakui dari segala kalangan mulai dari pecinta anime sampai kritikus film kelas berat. Semua proyek film, serial bahkan sampai iklan 120 detik mampu membuat penontonnya terbelalak karena teknik animasi dan drawing yang ia gunakan. Shinkai selalu menaruh detail pada setiap karyanya sehingga menonton karyanya harus dengan setting gambar 1080p atau lebih agar bisa menikmati gambarnya yang masyhur.

Dengan kekhasan seperti itu sudah pasti film terbaru karya Shinkai yaitu “Kimi no na wa” menjadi salah satu film yang ditunggu sepanjang 2016. Di bioskop Jepang “Kimi no na wa” bersaing ketat dengan “Shin Gojira” karena kedua film ini sama-sama disutradarai oleh legenda anime Jepang yaitu Makoto Shinkai dan Hideaki Anno (Neon Genesis Evangelion). Tetapi Anno harus mengalah kepada kouhai nya karena pendapatan dari film “Kimi no na wa” jauh lebih besar daripada “Shin Gojira” dan akan menyalip pendapatan dari film “Spirited Away” yang menjadi film animasi terlaris di Jepang sepanjang masa.

(Makoto Shinkai/Comix Wave/Toho/Kimi no na wa Production Comittee)
(Makoto Shinkai/Comix Wave/Toho/Kimi no na wa Production Comittee)

“Kimi no na wa” masih memainkan trademark cerita ala Shinkai yaitu seorang adam bertemu dengan hawa. Cerita dimulai dari seorang gadis desa bernama Mitsuha yang bosan akan kehidupan di desa dan Taki seorang pelajar yang menjalani kehidupan normal di Tokyo. Pada suatu hari Mitsuha bermimpi masuk ke dalam tubuh Taki dan begitu juga sebaliknya. Mereka sepakat ketika mereka tukar jiwa ada hal yang harus dipatuhi oleh kedua belah pihak agar orang-orang sekitar mereka tidak curiga. Dibalik mimpi tersebut terdapat suatu peringatan besar yang harus mereka waspadai karena dapat merubah takdir mereka berdua dan orang disekitarnya.

Pada “Kimi no na wa” Shinkai bermain dengan konsep nama. Biasanya orang akan selalu mengingat wajah dan perawakan seseorang tapi terkadang lupa akan nama orang tersebut. Hal ini dijabarkan dengan sangat jelas dan detail dalam film terbarunya.

Secara garis besar, identitas Shinkai sedikit kabur dalam “Kimi no na wa” karena ia ingin bercerita seperti seniornya. Ia mengambil konsep supernatural, alam dan kebudayaan tradisional dari Miyazaki, Satoshi untuk konsep cerita imajiner dan latar waktu yang paralel dan Hosoda dari segi kedekatannya dengan kondisi anak muda Jepang saat ini (sepintas Kimi no na wa sedikit mengambil rasa dari Toki o Kakeru Shoujo).

Banyaknya konsep yang masuk membuat cerita film ini tidak begitu inovatif namun juga tidak jelek. Masih ada identitas dari Shinkai yang terpancar meski tidak sekuat karyanya dulu dari segi tema seperti “Hoshi no Koe” yang berbicara soal kesendirian, “5 cm/second” yang dengan sangat tepat mendefinisikan arti “kasih tak sampai” atau proyek nyeni “Kotonoha no Niwa”.

Shinkai memang bukanlah seorang pencerita yang baik seperti senpai nya. Namun ia sadar akan hal tersebut dan mempunyai tiga kekuatan yang mampu melumpuhkan semuanya dan membuat penonton menitikkan air mata pada klimaks film ini.

Kekuatan tersebut bernama “momen”, “waktu” dan “gambar”.

Tiga kekuatan tersebut terbukti ampuh untuk menaikkan derajat film ini lebih tinggi dan Shinkai selalu bermain-main dengan hal tersebut di setiap karyanya.

Ambil contoh pada “5 cm/second” dimana ia mampu membuat definisi kasih tak sampai dengan bermodal momen persimpangan kereta, atau jarak antara waktu dalam “Hoshi no Koe” dan keepikan gambar di hampir setiap filmnya.

Kimi no na wa selalu bermain dengan tiga hal tersebut sehingga dapat memicu sisi drama di setiap klimaks pada sebuah adegan. Ia selalu berhasil menangkap momen yang bagus dengan timing yang sempurna untuk menciptakan tangisan kepada penontonnya. Hal ini selalu dipakai Shinkai berkali-kali, anehnya meski dipakai berkali-kali saya tidak bosan untuk menunggu momen tersebut karena momen yang ia gunakan pasti selalu bisa membuat hati tersentuh tanpa harus dibuat-buat.

Cerita tentang ingatan, waktu dan nama terus dikukuhkan dan dikuatkan sampai akhir sehingga klimaks dari cerita ini terbangun dengan rapi dan mampu membuat impact yang berarti.

Pendekatan alami dan humanis kepada perasaan manusia juga menjadi nilai tambah dalam film ini. Shinkai tidak memanipulasi perasaan seperti kebanyakan sifat karakter anime sekarang yang terlihat bullshit di kehidupan riil.

Karakter yang muncul sebenarnya terlihat biasa saja dan untuk ukuran film dua karakter utama ini bukanlah hal yang baru. Namun karena pendekatan alami yang sudah dipaparkan di atas membuat cela dari karakter tersebut sedikit pudar dan tidak terlalu terlihat.

Narasi gambar yang Shinkai sajikan dalam film ini juga melebihi dialog yang diucapkan. Ia selalu menaruh perhatian lebih dalam setiap gambarnya terutama adegan komet yang diwarnakan seperti pelangi yang indah dimana semua mimpi buruk bisa menjadi indah bisa seperti layaknya pelangi yang selalu muncul di kala badai selesai melanda. Adegan lembah yang mampu membuat metafora “cinta yang tidak tersampaikan” dan adegan flashback yang dieksekusi dengan sangat melodramatis dengan musik new age merupakan salah satu kehebatan Shinkai dalam mengubah kumpulan gambar menjadi suatu narasi yang hebat.

Musik juga menjadi tumpuan utama dalam “Kimi no na wa”. Yojiro Noda beserta kawan-kawannya dalam RADWIMPS berhasil membuat film ini lebih hidup dengan musiknya yang sesuai dengan momen film ini serta liriknya yang menyentuh hati pendengarnya.

Jika diperhatikan baik-baik sebenarnya “Kimi no na wa” tidak memberikan sesuatu yang baru atau shocking karena hampir semua adegan mengambil dari film anime terdahulu (bahkan mengambil dari film Shinkai itu sendiri), tetapi ia mampu mengubah narasi simpel menjadi sebuah kemasan cerita yang unik dan menyentuh dalam karya terbarunya dan hasilnya masih epik dan wajib ditonton dan dirasakan. Hal itulah yang mampu membawa banyak orang untuk menonton hasil karyanya.

“Kimi no na wa” bukanlah suatu hal yang revolusioner atau mampu mengubah lanskap anime secara keseluruhan. Tetapi karena Shinkai fokus kepada kekuatannya yaitu momen, waktu dan gambar maka film ini masih menjadi santapan lezat yang komplit tanpa ada zat aditif yang berlebihan. Lewat film ini semua orang pasti akan terus mengingat nama Makoto Shinkai sebagai salah satu legenda dalam membuat momen yang mengharu biru dalam dunia anime.

8/10

Like Fanpage RE:PSYCHO di FB dalam tautan ini

One thought on “MOVIE REVIEW: KIMI NO NA WA. (YOUR NAME)

Leave a Reply