vending machineywip

BOOK REVIEW: SENDAWA DI ANTARIKSA

http://i1.wp.com/dl.dropboxusercontent.com/u/27405860/Quick%20Drop/Sampul%20Depan%20Pepstar.jpg?resize=874%2C1240&ssl=1

SENDAWA DI ANTARIKSA
RIMAWARNA, 2016
Genre: Space Opera, Science Fiction, Space, Slice of Life, Drama

Jenis cerita space opera atau dalam terjemahan bebasnya yaitu opera luar angkasa sudah menjadi jenis cerita favorit di masyarakat dan memberikan pengaruh yang besar terhadap kultur pop di dunia. Star Wars, Star Trek, Cowboy Bebop dan Guardians of the Galaxy adalah contoh nyata bagaimana space opera menjadi salah satu genre yang berpengaruh dalam dunia film dan animasi.

Genre cerita yang merupakan peranakan dari science fiction ini mampu memikat penonton dunia karena kedekatannya dengan berbagai macam kehidupan normal yang terjadi saat ini dengan tambahan fantasi akan kehidupan luar angkasa yang selalu diidamkan dari dulu.

Space opera juga disukai karena ketidakpastiannya sehingga orang yang mengonsumsi genre ini selalu dibuat penasaran akan kemungkinan cerita yang tidak ada batasnya sama seperti luasnya angkasa dan kemisteriusan andromedanya.

Kali ini, kelompok kepenulisan Rimawarna ingin mencoba mengeksplorasi tema space opera tersebut ke dalam sebuah kumpulan cerita pendek yang ringan dan dikumpulkan ke dalam suatu buku yang berjudul “Sendawa di Antariksa”. Rimawarna yang sebelumnya terkenal berkat antologi cerpen kehidupan kampus berjudul “Semester” dan “Satu Semester Lagi” masih memainkan pola yang sama pada buku terbarunya yaitu memainkan slice of life dengan perspektif yang berbeda dan untuk kali ini mereka mengambil perspektif di luar angkasa.

“Sendawa di Antariksa” berisi tujuh cerita pendek yang mengambil tema besar perseteruan antara dua perusahaan minuman soda terbesar di jagad raya yaitu Pepstar dan Comet-Cola. Perseturuan ini seolah mendarah daging dan memunculkan fans fanatik yang berjuang mati-matian untuk membela brand idolanya.

Latar cerita utama yang diambil dalam buku ini adalah sebuah stasiun bernama “Nurtanio” yang dulunya adalah stasiun biasa saja dalam sekejap menjadi tujuan utama para turis dari berbagai macam spesies berkat zat “adosium” yang menjadi bahan utama dari minuman soda tersebut. Adosium dipercaya dapat membawa kebahagiaan bagi yang meminumnya jadi tidak heran semua orang berlomba-lomba untuk datang ke Nurtanio demi melihat penambangan zat adosium yang nantinya akan diolah menjadi minuman kaleng.

Meski terlihat sangat fiksi tetapi premis awal yang disajikan sangat nyata dengan kehidupan nyata. Perseteruan fans fanatik dari kedua brand bisa diibaratkan dengan perseturuan politik yang terjadi di Amerika Serikat dan Indonesia (terutama ketika mendekati masa pemilu) dan juga Stasiun Nurtanio yang bisa diibaratkan sebagai sebuah daerah yang terkena dampak dari urbanisasi karena semua orang berbondong-bondong pindah ke sana demi mencari kehidupan yang lebih baik.

Konsep awal ini menjadi pemicu tujuh cerita dalam buku “Sendawa di Antariksa” yang terdiri dari “Milky Dust”, “Fool’s Gold”, “Bersama Bintang”, “Istirahat Sejenak”, “Putri Si Naga”, “Nada Tentang Soda” dan “Sendawa di Antariksa”. Ketujuh cerita ini menceritakan tentang kehidupan di luar angkasa yang mungkin terlihat megah namun sejatinya biasa saja dan unsur “biasa saja” itulah yang ingin dijual ke pembacanya.

Kumpulan cerita disini juga tidak semuanya bagus ada beberapa yang terlihat miss dari segi penceritaan dan pembawaan seperti pembuka antologi yaitu “Milky Dust” yang terlalu berfokus kepada cerita si Bartender penyaji minuman “Milky Dust” ketimbang cerita utamanya yaitu seorang jurnalis yang depresi karena bosnya yang super pelit dan galak. Ketidakfokusan ini membuat cerita seperti antiklimaks dan sedikit meruntuhkan ekspektasi pembaca.

Cerita kedua yaitu “Fool’s Gold” hanya terlihat keren di judul tetapi malah berakhir seperti cerita di FTV yang sering diputar di TV nasional, terlalu cheesy. “Bersama Bintang” menawarkan sesuatu yang cukup seru untuk dibaca dimana ia menggabungkan adegan di film space action dengan twist romance.

“Istirahat Sebentar” merupakan salah satu highlight dalam kumpulan cerpen ini, porsi halaman yang sedikit dimanfaatkan dengan baik oleh penulis dengan bahasa yang terlihat sangat sastra namun dibawakan dengan gaya yang easy dan santai. Konten ceritanya juga berbeda dari yang lain dan membuat pembacanya mempunyai interpretasi sendiri sendiri tentang apa yang terjadi dalam cerita ini. “Putri Si Naga” memainkan citra “gadis pemberontak” dengan baik, melihat karakter utama perempuan dari cerita ini seperti melihat karakter perempuan dalam cerita science fiction seperti Rey dari Star Wars dan Katniss dari The Hunger Games.

Pilihan terbaik jatuh pada “Nada Tentang Soda” yang mendapat porsi halaman terbanyak, pada cerita ini penulis mampu menyatukan cerita slice of life dengan pengetahuan dasar tentang industri musik terutama soal kontrak dan kerjasama artis dengan produk. “Nada Tentang Soda” membuat pembacanya tidak berhenti untuk terus membaca sampai akhir karena setiap akhir kalimatnya selalu memberikan twist baru yang harus dibaca sampai selesai untuk mendapatkan sensasi yang luar biasa seperti meminum soda buatan zat adosium. Penutup antologi ini yaitu “Sendawa di Antariksa” bermain rapi di awal dan mempunyai konsep yang menarik namun sayang di akhir terkesan anti-klimaks.

Selain ketujuh cerita yang ada, buku ini juga menyelipkan beberapa sisipan seperti laporan wawancara fiksi serta beberapa artikel untuk membuat suasana menjadi lebih hidup.

Rimawarna mengawinkan gaya space opera dengan gaya slice of life dengan mantap dalam antologi cerpen terbarunya. Mereka berhasil membawakan tema yang terdengar jadul ke dalam medium pembaca sekarang yang tidak mau bertele-tele soal teori luar angkasa. Ketujuh cerita yang ada memang tidak semuanya berjalan mulus namun ketujuh cerita ini masih memiliki keterkaitan satu sama lain dengan tema besarnya yaitu peace in chaos antara Pepstar dan Comet-Cola sehingga cerita tidak tercecer dan masih mempunyai benang merah satu sama lain.

Memang benar jika subjudul dari buku ini adalah “Cerita Ringan Berkarbonasi” karena meski ringan dari segi pembawaan dan gaya bahasa buku ini mempunyai konsep yang besar dengan pendekatan yang riil mau itu dari segi latar ataupun karakter yang ada meski dalam wujud alien sekalipun. “Sendawa di Antariksa” menjadi salah satu bukti bahwa Rimawarna masih pandai dalam mengerjakan cerita slice of life meski dicampur dengan tema yang 180 derajat dari genre andalan mereka.

7/10

Like Fanpage Rimawarna pada tautan ini

Like Fanpage RE:PSYCHOO pada tautan ini

Leave a Reply