cover_fit

BOOK REVIEW: ALLBLACK PROJECT PHASE #1

Volume 1 Preview
ALLBLACK PROJECT PHASE #1

Penulis: Anssen “fsc” Augustus
SELF-PUBLISHED, 2016
Genre: Action, Sci-Fi

Light Novel atau Novel Ringan atau apapun itu sebutannya sudah menjadi fenomena literatur di Jepang. Cerita yang ringan, materi yang apa adanya dan jarang menggunakan metafora serta ilustrasi yang menyerupai komik membuat kepopuleran light novel atau LN semakin meningkat dari tahun ke tahun. Di Indonesia sendiri kultur light novel menjadi alternatif bagi para penulis yang tidak mampu untuk membuat kata-kata puitis seperti novel tetapi ingin konten dari ceritanya masih berat dan tidak ingin se-cheesy teenlit. Salah satu light novel yang ingin mengikuti jalur ini di Indonesia adalah light novel ALLBLACK karya Anssen “fsc” Augustus.

Mempunyai benang merah cerita pada aksi spionase dan sedikit bumbu supernatural, LN ini bercerita tentang seseorang yang tidak mempunyai ingatan masa lalunya dan beberapa pihak tiba-tiba menuduhnya sebagai pembunuh yang harus dilenyapkan. Ketika dia telah sadar dari tidur panjangnya dia mulai perlahan mengetahui siapa dia sebenarnya dan menemukan fakta bahwa dia mempunyai kekuatan super yang berguna untuk evolusi manusia.

Dari sinopsis di atas sudah terlihat bagaimana penulis terinspirasi dari film aksi spionase terutama saga Jason Bourne (hilang identitas), beberapa film superhero dan tentu saja anime yang mempunyai hubungan erat dengan light novel layaknya saudara jauh.

Cerita yang ditawarkan oleh LN ini terlihat menarik karena berani menggabungkan dua kutub yang cukup bersebrangan yakni aksi ala film Hollywood dengan segala detail adegannya serta konsep kekuatan super yang sangat terasa anime minded. Latar yang diambil juga memang sesuai untuk mendukung tema action ala Hollywood tersebut, membaca ALLBLACK seolah menonton Jason Bourne dengan gaya penceritaan ala anime yang memang menjadi target utama pembaca LN.

Di atas kertas konsep dari buku pertama ALLBLACK cukup berani untuk cerita lokal karena memasukkan berbagai macam unsur pseudo sci-fi seperti teori evolusi, penciptaan manusia super, mind control dan lain sebagainya. Penulis mampu meramu pseudo sci-fi ini menjadi sesuatu yang penting untuk disimak dan memancing pembaca untuk mengetahui lebih lanjut.

Sayangnya ada beberapa hal yang menurunkan kualitas dari LN ini terutama dari segi penceritaan. Penulis terlalu banyak memasukkan adegan action dalam buku pertamanya dan action tersebut memakan 75% dari konten buku. Meski kemasan actionnya bagus dan mampu membuat theatre of mind yang unik di pembaca namun porsi berlebihan ini mematikan potensi lainnya. LN terlalu bertele-tele dan seolah membuang 429 halaman yang ada dengan action yang sebenarnya bisa dipotong sebanyak 45% untuk memberi ruang lebih terhadap pengenalan karakter atau pengenalan situasi yang lebih rinci. Porsi kekuatan super yang harusnya juga menjadi potensial dalam buku pertama ini kurang dieksplor begitu dalam, padahal jika penulis mau memberikan porsi lebih pada buku pertama bukan tidak mungkin pembaca akan semakin tertarik mengetahui motif karakter utamanya karena saya sendiri memang ingin melihat lebih dalam kekuatan yang ia punya tetapi sayangnya banyak terpotong oleh adegan action.  Beberapa kalimat terkadang membuat bingung pembaca terutama di paragraf awal yang terasa terlalu panjang dan memutar-mutar dan alurnya terkadang membuat pembaca harus berpikir sedikit ekstra untuk memahami maksudnya.

Berbicara soal karakter, tidak ada hal yang bisa diunggulkan dari segi karakter karena memang ini adalah buku pertama dan kembali lagi ke porsi action yang terlalu mendominasi. Karakter utama yaitu “agen tanpa nama” sudah digambarkan dengan baik namun masih terlihat abu-abu karena masih dalam tahap pengenalan.

ALLBLACK Project sendiri mempunyai banyak potensial untuk menjadi the next big thing karena dia berani memasukkan pseudo sci-fi dan action, perpaduan ini sangat menarik dan untungnya eksekusinya di beberapa bagian memang bagus dan sesuai. Sayangnya, penulis seperti terlalu terobsesi untuk menunjukkan bahwa LN ini adalah LN action sehingga lupa untuk menaruh esens-esens penting lainnya seperti drama, superpower untuk mendukung cerita. Terkadang melihat adegan action dalam LN ini terasa seperti wall of text dan bisa diskip.

 Wajar jika buku pertama dari ALLBLACK Project terlihat kurang matang karena memang ini karya perdana dari penulis yang sampai bisa diterbitkan dalam bentuk buku. Rasa canggung dari penulis untuk mengontrol porsi cerita memang sangat terasa di beberapa bagian tetapi untungnya penulis masih bisa menekel hal tersebut dengan memasukkan plot yang menarik.

ALLBLACK Project berjalan terlalu risky di satu sisi ia ingin menjadi salah satu karya action dengan segala dar-der-dor nya tapi juga ingin menjadi novel sci-fi dengan segala kekuatan super dan tetek bengek evolusinya. Jika penulis ingin mendapatkan atensi yang lebih besar maka pada buku kedua penulis harus bisa mengabdikannya pada pengembangan karakter dan cerita karena sejatinya semua action sudah cukup diberikan pada buku pertamanya.

6/10

Like FB Re:Psycho pada tautan ini
Like ALLBLACK pada tautan ini

4 thoughts on “BOOK REVIEW: ALLBLACK PROJECT PHASE #1

Leave a Reply