pokemon-go---capturing-a-crobat--7759336ef7ef1b19

OP-ED: POKEMON GO DAN CACAT NALAR ORANG INDONESIA

Tulisan ini merupakan penutup dari trilogi “FENOMENA POKEMON GO DI INDONESIA”.
Seri pertama: POKEMON GO DAN INDAHNYA PEMBAJAKAN
Seri kedua: 7 REAKSI ORANG INDONESIA DALAM MENANGGAPI POKEMON GO
na·lar n 1 pertimbangan tt baik buruk dsb; akal budi: setiap keputusan harus didasarkan — yg sehat; 2 aktivitas yg memungkinkan seseorang berpikir logis; jangkauan pikir; kekuatan pikir;

Pokemon Go screens-970-80

Pokemon GO adalah permainan yang sarat akan sensasi dan kontroversial setidaknya di negara kita yang tercinta ini. Game bajakan ini dengan cepat menjadi buah bibir dalam waktu cepat. Apapun teori yang menyebabkan kepopuleran Pokemon GO sebenarnya bisa ditarik dari dua kata yaitu gratis dan sociable, dua hal ini dapat mengunci perhatian masyarakat Indonesia karena orang-orang kita masih kurang menghargai suatu karya serta ingin terlihat uptodate di sosial media.

Ah, ngomong-ngomong soal orang Indonesia sebenarnya orang Indonesia ini mempunyai pemikiran yang seringkali out of the box seperti pernah membuat mobil hemat energi, membuat tenaga listrik dari sampah dan masih banyak lagi. Tapi karya tersebut seringkali kalah dengan pemikiran out of the box lainnya, bukan kali ini saya tidak berbicara penemuan yang lebih sensasional atau fenomenal tetapi saya berbicara tentang sensasi dan cocoklogi kepercayaan.

Dan Pokemon GO, game yang jelas-jelas buatan Niantic perusahaan Amerika dan Nintendo perusahaan Jepang menjadi salah satu korbannya.

13726664_10209644005481442_729521193048302972_n

Entah mengapa dua minggu setelah banyak orang memainkan Pokemon GO semuanya langsung meributkan tentang Pokemon GO, mulai dari golongan tua dengan segala ocehan klisenya tentang bahaya main game sampai ke titik paling konyol adalah golongan muda yang mengaku dirinya penegak agama dengan mengatakan bahwa Pokemon berasal dari kata Yahudi yang mengatakan “Tuhan itu lemah”.

Belum selesai dengan kekonyolan tersebut, sebuah sekolah di Garut merazia game Pokemon GO pada handphone anak muridnya, jika ketahuan memasang Pokemon GO maka dia akan diberi hukuman. Wow, ternyata dosa memainkan Pokemon jauh lebih besar daripada mempunyai video esek-esek 3gp dan aplikasi judi yang jelas-jelas lebih merusak.

Bonus dari Ghosty Comic
Bonus dari Ghosty Comic

Jangan lupakan tentang berita di infotainment yang mengatakan bahwa “Seorang Artis Tercebur di Got akibat Bermain Pokemon GO” dan sontak semua orang langsung menyalahkan gamenya bukan orangnya yang tidak berhati-hati atau lihatlah headline koran pada tiga minggu kemarin dimana semuanya ramai-ramai memberitakan Pokemon GO dan langsung menghakimi bahwa game ini berbahaya karena dapat membahayakan keselamatan pemainnya. Agar terlihat lebih meyakinkan mereka juga meminta komentar dari para pemangku jabatan di negeri ini dan hasilnya malah terlihat sedikit bodoh.

Dari Pokemon GO sebenarnya kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia sedang mengalami darurat nalar atau bahasa mudahnya darurat untuk berpikir panjang dan logis. Orang Indonesia tidak melahap atau mencerna baik-baik informasi yang diberikan. Kebanyakan dari orang kita biasanya menerima dengan mentah suatu informasi yang cenderung menyesatkan karena mereka suka akan hal itu dan mereka meyakini itu benar karena dasar kesukaan itu tadi. Meskipun dari kita memberikan informasi yang benar dan mencerahkan tetap saja orang itu masih mempercayai info yang menyesatkan itu karena mereka sudah terlanjur terhipnotis dengan infonya.

o-RACISM-facebook

Ada beberapa hal yang menyebabkan cacat nalar ini terjadi dan yang pertama adalah fanatisme. Fanatisme masyarakat Indonesia yang berlebihan akan suatu ajaran terutama agama menjadi penyebab masyarakat Indonesia tidak pernah maju-maju sampai sekarang. Gimana mau maju lha ya wong kena isu agama dan ras sedikit langsung ngamuk sana-sini. Gak percaya? Lihat aja demo anti-Cina dan anti-Yahudi yang sering digaungkan oleh orang yang mengaku pembela agama.

Fanatisme juga bisa mematikan keterbukaan baik keterbukaan akan informasi baru dan benar bahkan keterbukaan akan lingkungan di sekitarnya. Contoh yang bisa dilihat dari pernyataan “keterbukaan akan informasi baru dan benar” adalah para penghuni media sosial yang biasanya nangkring di kolom komentar sebuah fanpage dari seorang public figure yang inisalnya J (ah kamu yang sering main media sosial pasti tahu siapa, gak usah mesem mesem gitu). Kebanyakan fans fanatik dari public figure tersebut bisanya hanya melihat sisi jelek dari suatu figur yang jelas-jelas sudah berusaha untuk membuat sesuatu lebih baik (atau setidaknya begitu). Ketika ditanya apa sumbangsihnya untuk bangsa ini mereka hanya bisa lantang mengatakan “LIKE DAN SEBARKAN”.

Itu masih dalam level yang rendah coba kalau sampai tidak mau terbuka dengan lingkungan sekitar maka bibit bibit terorisme akan tumbuh dalam dirinya karena mempercayai satu hal yang belum tentu benar adanya.

Strata sosial masyarakat Indonesia yang kebanyakan menengah ke bawah juga memicu fanatisme ini. Karena mereka stress dan pusing akan hidupnya kebanyakan dari mereka memilih untuk mencaci maki pemerintah atau memberikan hate speech ke media sosial sebagai bentuk ketidak puasan akan diri sendiri. Mudah-mudahan pembaca sekalian masih diberikan ketabahan untuk tidak melakukan hal tersebut.

Fanatisme sendiri mempunyai akar dan akar ini merupakan permasalahan utama bagi orang Indonesia yaitu “malas membaca” atau lebih spesifiknya lagi “malas mencerna bacaan”.

Woman reading a book

Membaca sendiri adalah hal yang esensial dalam hidup manusia, bahkan kata pertama yang turun dalam Al-Qur’an adalah “Iqra” alias “Bacalah”. Dengan membaca kita bisa mendapat semua informasi yang kita butuhkan mulai dari yang paling berguna sampai paling sampah sekalipun.

Tetapi apakah membaca saja cukup? Tentu tidak.

Kalau soal membaca ya hampir semua orang Indonesia saya yakin gak buta huruf kok mau itu aksara latin, aksara Jawa, aksara Sunda atau aksara lainnya. Mencerna bacaan itu yang orang Indonesia masih kurang.

Alasan paling utamanya adalah tidak meratanya tingkat pendidikan di berbagai daerah di Indonesia. Kita bisa bilang bahwa pendidikan kota besar di Indonesia sudah maju dengan nilai UN yang mentereng tapi coba kamu melongok ke desa-desa kecil di Indonesia, anak-anak disana sudah sukur bisa baca kalimat “Aku adalah Budi, orang tuaku adalah seorang petani” meskipun mereka sudah masuk kelas 5 SD.

Peran-dan-Fungsi-Lembaga-Pendidikan
(source: mediasiswa.com)

Pendidikan yang tidak merata dan jelek di Indonesia membawa masyarakat Indonesia ke dalam pola pikir yang cenderung “menerima apa adanya” dan pasrah. Mental bangsa kita bukan terpikir untuk membuat sesuatu tetapi baru sampai ke tingkat mengikuti sesuatu. Makanya berita tentang syuting Ganteng-Ganteng Serigala selama 2 jam lebih banyak ditonton daripada berita terbaru yang hanya berdurasi 30 menit.

Kehebohan tentang Pokemon GO yang terjadi belakangan ini membuktikan bahwa orang Indonesia masih terpaku dengan hal-hal yang tidak penting dan sepele, sudah begitu hal-hal yang sepele tadi diseriuskan sehingga muncullah hoax dan kawan-kawannya. Fenomena Pokemon GO di Indonesia sendiri membuktikan betapa cacatnya nalar orang Indonesia untuk setidaknya berpikir logis dan mencari tahu sumber informasi atau minimal mencari tahu “Pokemon” itu apa di Google apalagi di era sekarang dimana internet sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat modern di Indonesia. Saya yakin ketika mengetik “Pokemon” di Google yang keluar adalah “game asli Jepang yang mempunyai kepanjangan Pocket Monster” bukan “aku Yahudi” kok.

Jika mempelajari agama dengan benar dan bebas dari unsur pemanis buatan sudah jelas bahwa ilmu dan akhlak akan menaikkan derajat seseorang dibandingkan orang lain tapi gimana mau naik derajat kalau misalnya kita masih menghujat sesuatu yang semu dan masih percaya sama info hoax dan gak jelas dengan dalih demi keselamatan umat.

pokemon-go

Karena sejatinya nalar untuk berpikir jernih dan waras ditentukan juga dari seberapa jauh orang itu membaca dan memahami betul tulisan yang ia baca. Kalau misalnya Anda tidak butthurt dan tersinggung membaca tulisan ini selamat Anda bukan termasuk orang yang masuk dalam kategori cacat nalar. Tetapi jika iya, maka perbanyak membaca yang jelas jelas deh jangan cuman yang ena ena ya.

SEBARKAN DAN LIKE FB RE:PSYCHO!!!!!!!!!111111!!!!!!!!

23 thoughts on “OP-ED: POKEMON GO DAN CACAT NALAR ORANG INDONESIA

    1. Giliran ada berita teroris mengatasnamakan agama, kebalikan pada ngeles salahkan terorisnya bukan agamanya. Standar janda.

  1. Most of us are still afraid to embrace change or something new, actually. Lama-lama bosan juga melihat reaksi masyarakat pada umumnya terhadap sesuatu yang baru, terutama sepanjang tahun 2016 ini. Mulai dari LGBT hingga Pokemon Go, banyak orang yang menolak terhadap hal-hal baru tersebut dan bahkan melebih-lebihkan reaksi mereka. Padahal kalau mereka mau berusaha menerima dan memahami hal-hal baru tersebut, it’s not that terrifying…dan bahkan tidak harus dihubung-hubungkan dengan agama.

  2. Sungguh artikel menggelitik & lucu.
    Memang disayangkan, daya pikir kaum kaum “onta” ini emang kayak Homo Erectus :p

  3. Artikelnya tidak terlalu panjang lebar, tetapi lumayan ringkas, jelas dan sederhana. Cacat nalar, juga jadi suatu proses dari kehidupan seseorang. Tapi toh hal seperti itu tidak bisa dibiarkan lama2. Ada baiknya memang untuk mengambil sikap kritis tanpa fanatis alias open minded. Mau menelaah sekali pun agak repot tapi itu semua demi kebeneran yang sesungguhnya.

  4. Widihh.. Ini uneg2 ane yg pengen semua orng tau.. Tpi yah, ane cuma hh user, males ngetik panjang di hh, apalagi membuat artikel seperti agan.

    Btw, good topic. I hope Indonesian people can read this.

  5. Separah-parahnya cacat nalar, kebanyakan orang Indonesia punya mob mentality yang bisa menyaingi amerika dan budaya gotong royong yang lebih parah dari jepang. Sekalinya muncul pandangan kritis, mereka ramai-ramai menutupi aib dengan tidak membagikan klarifikasi macam apapun karena hal seremeh ‘malu’. Yang lebih parah kalau sudah terungkap, orang-orang ini ramai-ramai melakukan pembunuhan karakter terhadap si whistleblower.

    Gara-gara ‘malu dibilang salah’ ini.

  6. “Fanatisme masyarakat Indonesia yang berlebihan akan suatu ajaran terutama agama menjadi penyebab masyarakat Indonesia tidak pernah maju-maju sampai sekarang. Gimana mau maju lha ya wong kena isu agama dan ras sedikit langsung ngamuk sana-sini”
    Ini. INI. NAINI. NAINI COEG.
    Akhirnya ada seseorang yang bilang gini, penuh dengan detail-nya.
    Saya sendiri maen Pokemon GO cuma 5 menit.
    Nangkep Charmander di toilet, kasih nama JOHN CENA, Uninstall.
    Cuma pemberitaan media Indonesia tentang Pokemon GO bener2 pathetic + Idiot parah.

  7. Honestly, istri gw adalah salah satu orang dgn pemikiran terbatas (bukan sempit yah). Setiap ada isu atau gosip dia selalu cerita ke gw trus nanya kebenarannya. Dan gw selalu ngejelasin seringkas & sedetail mungkin di lain sisi gw jg harus menjaga jgn sampai dia tersinggung. Ada kalanya gw jg menjelaskan secara nalar dia tanpa ngurangin pandangan gw. Untuk ukuran istri gw yg dr keluarga sederhana dgn tingkat pndidikan lumayan aja masih suka menyangkal isu2 yg menurut dia ga sesuai sama pemikiran dia. Apalagi org2 yg berpikiran sempit? Di satu sisi gw suka kesal sama media yg udah mulai ga bisa ngebedain mana berita, mana gosip, mana sensasi. Di satu sisi gw kasihan sama org2 yg nelan mentah2 informasi yg dia dapet. Untungnya sih istri gw nurut sama apa yg gw jelasin, tp hrs dgn penjelasan yg detail.

    *sedikit curhat yah, hehe

  8. dan sekarang sudah redup trennya, dan ya, awamers pun sudah bosan dan melupakan.
    tanggapan terbodoh menurut saya tetap dari, maaf “kalangan tua” seperti tanggapan menhan kita RR yang sangat aneh

Leave a Reply