ALBUM REVIEW: TULUS – MONOKROM

Tulus-Monokrom

TULUS
MONOKROM
TULUS CO./DEMAJORS, 2016
Genre: Soul, Jazz, R&B, Pop

Solois yang mempunyai nama lengkap Muhammad Tulus sukses mengguncang musik Indonesia dalam dua tahun terakhir. Ia disukai oleh semua orang terutama dari kalangan menengah ke atas yang menganggap bahwa musik Indonesia sudah mengalami titik stagnansinya. Eksplorasi musik yang ia lakukan mampu menaikkan derajat telinga orang Indonesia lewat lagu “Sepatu” yang mengaburkan batas antara norhtern soul, folk, baroque pop bahkan britpop. “Sepatu” juga mampu mengantarkan ia ke pentas dunia bahkan sampai diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh Hiroaki Kato.

Album keduanya “Gajah” juga menjadi fenomena tersendiri dalam belantika musik Indonesia. Album ini berhasil terjual sebanyak 50 ribu kopi dalam dua bulan dan menjadi album independen dengan penjualan terbanyak di Indonesia mengalahkan Endah N Rhesa dan Pure Saturday, angka yang cukup fantastis di kala musik Indonesia yang tengah lesu akan pembeli. Kesuksesan ini membawa Tulus menggondol enam penghargaan dalam gelaran Anugerah Musik Indonesia 2015 diantaranya adalah “Album Terbaik Terbaik”. Bukan hanya di Indonesia, dia berhasil membawa pulang satu penghargaan di ajang Anugerah Planet Muzik.

Ya, karir Tulus dalam dua tahun terakhir bisa dikatakan mencapai titik tertingginya. Itu semua berkat album “Gajah” yang tidak takut untuk bermain dalam berbagai macam genre yang terdengar asing untuk khasanah musik Indonesia seperti blues, doo-woop, northern soul, baroque pop, motown, serta big band. Ia langsung disejajarkan dengan banyak solois legendaris Indonesia sampai ada yang mengatakan bahwa ia adalah pengganti Broery Marantika.

Memanfaatkan momentum dan hype yang sudah dibangun pada album kedua, Tulus tidak tinggal diam. Ia langsung masuk kembali ke studio dan merekam album ketiganya dengan bantuan Prague Philharmonic Orchestra, kerjasama ini menghasilkan album yang diberi judul “Monokrom” yang telah dirilis pada 3 Agustus kemarin dan langsung melejit di berbagai macam platform musik seperti Spotify yang berhasil meraup 55 ribu play dalam waktu 2 hari.

Sebelum “Monokrom” keluar, Tulus sudah memberikan satu sajian epik bernama “Pamit”. “Pamit” memenuhi semua syarat untuk menjadi hit di Indonesia yaitu lagu yang dapat membuat pendengarnya galau, lirik yang dalam dan sayatan orkestra yang menambah melankolia lagu.

“Cahaya” bermain dengan lapisan folk dan soul dan disajikan dengan musik yang tenang serta kepiawaian vokal Tulus dalam bermain nada tinggi. Sajian ini mampu membuat “Cahaya” menjadi next hit dari “Monokrom”.

Ia tiba-tiba menjadi motivator dan penyemangat ulung dalam “Manusia Kuat” yang terdengar seperti versi mutakhir dan cepat dari lagu Doves “There Goes the Fear”, lagu ini sangat cocok untuk menjadi lagu tema untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) atau dipakai dalam iklan suatu produk dengan tema patriotik. Lalu ada “Mahakarya” yang mengandalkan ukulele dan indie pop yang terdengar memotivasi tetapi juga sedikit childish. Mungkin Tulus ingin merambah ke pasar semua umur lewat lagu ini dan “Lekas” yang mengambil esensi world music yang sempat populer dalam musik Indonesia pada era 90’an.

 

“Tukar Jiwa” terlalu mirip dengan lagu Teza Sumendra dengan segala aransemen jazz nya. Tulus memasukkan funk yang ceria pada “Tergila-Gila”sehingga memunculkan kesan nakal dan menyenangkan. “Ruang Sendiri” terlalu bermain aman dengan hanya bermodal musik yang easy listening dengan fusi dari soul, lirik dari lagu ini juga terlalu njelimet dan terkadang tidak berima sehingga terkesan dipaksakan. “Langit Abu Abu” bermain dengan polosnya piano dan “Monokrom” yang terdengar syahdu di telinga sambil mengingat kenangan indah bersama orang tua atau sahabat di masa lalu.

Album ketiga Tulus tidak seeksploratif album keduanya yang mampu memasukkan berbagai unsur musik dalam takaran yang sesuai. Ia terlalu bermain aman, sangat aman dalam karya ketiganya dan musik yang ditawarkannya dalam album ini hampir sama di setiap lagu. Tidak ada unsur motown yang menggebu-gebu atau musik yang berat dari komposisi namun enak untuk didengarkan.

Segi lirik yang menjadi salah satu kekuatan dalam album sebelumnya juga tidak sekuat dulu. Tidak ada lirik yang penuh metafora seperti “Sepatu”, “Gajah” atau lirik seperti “Baru” yang menjadi sebuah sindiran halus terhadap orang-orang yang membencinya. Lirik yang ada benar-benar apa adanya dan terasa langsung tanpa pengandaian yang berarti.

Salah satu hal yang patut dibanggakan dari album ini adalah produksi yang jauh lebih matang dan lebih jernih. Tulus mengundang orkestra dari luar negeri untuk mendukung atmosfir di beberapa lagu dan eksekusinya sangat luar biasa.

Tulus ingin mencoba pasar menengah ke bawah melalui album “Monokrom”. Hal ini sah-sah saja mengingat ia sudah menjadi solois kepunyaan Indonesia dan sudah menjadi tugasnya untuk mengenalkan musiknya yang tergolong “tinggi” kepada masyarakat yang lebih luas lagi.

Konsekuensi dari hal tersebut membuat album terbaru Tulus persis seperti judulnya “Monokrom”. Tidak berwarna dan biasa-biasa saja.

6/10

Beli album baru Tulus – Monokrom disini
Like Fanpage RE:PSYCHOO disini

 

Leave a Reply