OP-ED: POKEMON GO DAN INDAHNYA PEMBAJAKAN

UPDATE: Tulisan ini dirilis pada 19 Juli 2016 sebelum Pokemon GO resmi diluncurkan di Indonesia via Google Play dan App Store. Sekarang kamu bisa mengunduh game ini secara gratis dan legal di Google Play dan App Store.

pokemon go1
Tahun 2016 memang belum selesai tapi setidaknya kita bisa memberi penghargaan untuk “aplikasi HP terheboh selama 2016” kepada Pokemon GO. Ketika Pokemon GO rilis pada lebaran hari pertama yaitu 6 Juli 2016 semua foto pada linimasa saya tidak lagi berisikan foto sanak famili, penderitaan arus mudik ataupun kosongnya Jakarta melainkan kumpulan screenshot dan koleksi monster yang sudah mereka tangkap dalam Pokemon GO. Saya kira trend Pokemon GO hanya sebatas di kalangan teman-teman saya yang memang sudah menyukai Pokemon ketika menjadi mainan wajib anak-anak SD di kala istirahat bersama abang-abang penjaja Game Boy.

Ternyata saya salah.

2016_07_18_8295_1468801947._large

Dalam kurun waktu hanya seminggu aplikasi ini berhasil menggemparkan dunia dan Indonesia. Semua orang tiba-tiba pergi ke masjid dan tempat ibadah lainnya demi mencari sebuah pokemon. Setiap saya melihat seseorang berjalan dengan memegang smrtphone sudah pasti dia sedang mencari pokemon.

Hal ini juga dimanfaatkan oleh beberapa bidang usaha mulai dari UKM sampai ke perusahaan besar. Sudah tidak terhitung berapa bidang usaha yang mempromosikan Pokemon GO mulai dari pernak-pernik Pokemon GO, mall, toko perkakas, obat masuk angin, pemerintahan daerah, aplikasi clickbait, ojek online sampai diparodikan menjadi cover majalah berita yang paling berpengaruh di negeri ini.

DUHHHHHH
DUHHHHHH

Kelatahan masyarakat Indonesia ini juga dimanfaatkan oleh beberapa pihak yang memanfaatkan orang-orang yang mempunyai pikiran dangkal serta malas mencari tahu. Ada yang menyebutkan Pokemon GO adalah anti-islam dengan menjabarkan bahwa aplikasi tersebut adalah agenda Amerika untuk menginvasi masjid di Indonesia  malah ada yang mengatakan bahwa Pokemon artinya “sembahlah Yesus” dalam bahasa Siberia.

pg indo

Kehebohan Pokemon GO di Indonesia sebenarnya menyimpan satu aib besar karena sebenarnya Pokemon GO belum resmi dirilis di Indonesia dan tidak ada di Google Play ataupun Apple App Store. Otomatis semua pengguna smartphone di Indonesia mendapatkan game ini dengan mengunduh secara ilegal atau bahasa proletarnya ngebajak.

Tetapi masyarakat kita terlihat senang-senang saja dan tidak mempermasalahkan hal tersebut malah harusnya kita bangga karena si empunya Pokemon yaitu orang Jepang saja belum bisa bermain game ini dan diliput berbagai macam media internasional karena Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang bisa main Pokemon GO meskipun ngebajak.

2000px-Flag_of_Edward_England.svg

Kalau soal pembajakan Indonesia adalah surga bagi para pembajak. Semua lini hiburan utama seperti film dan musik serta perangkat lunak komputer semua dibajak. Di era internet seperti sekarang pembajakan juga semakin tidak terkendali, berkali-kali pemerintah memblokir situs bajakan dengan Internet Positif berkali-kali juga muncul situs bajakan baru bak jamur di musim hujan. Permasalahan pembajakan ini juga menjadi masalah dunia, tetapi sepertinya dunia juga capek akan permasalahan ini karena semakin sering ditutup semakin berulah orang-orang untuk membajak.

Pembajakan terutama di Indonesia memang sulit untuk diberantas karena kebanyakan orang Indonesia mempunyai pola pikir “mendingan beli makanan daripada beli (masukkan judul game, judul film, judul software, judul album, layanan streaming)” dan “kalau ada yang gratis atau lebih murah, ngapain bayar mahal” ditambah lagi ada pepatah “buat makan aja susah”.

Pembajakan sendiri sebenarnya adalah bidang abu-abu. Kita bisa bilang bahwa pembajakan itu menghentikan seseorang untuk berkarya lebih karena telah “mencuri” karya orang tersebut, di satu sisi pembajakan merupakan alat promosi yang sangat efektif untuk menjangkau pasar unik yang tidak pernah dipetakan sebelumnya seperti Indonesia.

Sebenarnya kalau boleh jujur apa yang terkenal di Indonesia hampir semuanya berawal dari pembajakan dan Pokemon GO bukan satu-satunya karya yang populer lewat pembajakan.

awsub

Dimulai dari anime yang berasal dari Jepang. Bukan menjadi rahasia lagi kalau 98% orang di Indonesia mengonsumsi anime dari berbagai macam situs ilegal. Meskipun Jepang sudah memberikan situs untuk menonton anime secara legal tetap saja orang Indonesia lebih senang menonton dari sumber ilegal. Terkadang kita harus ngeles ketika ditanya orang Jepang mengenai hal “kok kamu tahu banyak soal anime ini, padahal setahu saya ini anime ga terkenal banget di Jepang dan hanya disiarkan di sana”  karena memang masyarakat disana sensitif soal pembajakan dan menjunjung tinggi originalitas.

Musik Jepang disini juga hampir semuanya dibajak. Sebelum Spotify, JOOX dan iTunes muncul di Indonesia satu-satunya jalan untuk mendengarkan musik Jepang adalah dengan mengunduh secara ilegal di internet (sebelumnya saya sudah menulis tentang kenapa musik Jepang sering dibajak dan bisa dilihat dalam tautan ini).

Jika anime dan musik Jepang tidak dibajak di sini maka acara yang berbau kebudayaan Jepang atau saya sering sebut Jejepangan akan tetap sepi seperti 15 tahun yang lalu dan acara seperti Ennichisai atau Anime Festival Asia tidak akan bisa menarik pengunjung lebih dari 2000 orang. Acara Jejepangan yang berskala kecil dan menengah juga tidak akan menjamur seperti sekarang jika tidak ada internet dan pembajakan.

Bahkan saya yakin drama cosplayer yang receh sampai drama Hatsune Miku di Miku Expo Indonesia tidak akan terjadi kalau tidak ada yang ngebajak anime dan musik Jepang.

Pembajakan ini juga memicu pembicaraan tentang kultur pop Jepang di Indonesia. Melalui pembajakan kita mungkin tidak bisa menemukan orang yang asyik untuk berbicara soal Jepang lebih mendalam. Jumlah pembelajar bahasa Jepang di Indonesia juga meningkat pesat berkat adanya pembajakan seperti ini.

Ah, seronoknya
Ah, seronoknya

Beberapa band di Indonesia juga mendapatkan kepopulerannya dari pembajakan terutama dari VCD musik yang biasanya diputar di pinggir jalan atau pinggir pasar. Band yang mempunyai warna musik melayu atau menye-menye seperti Radja, Kangen Band, Hijau Daun, Wali, Asbak Band, D’Bagindas dan (masukkan kata benda) Band menjadi populer di pertengahan sampai akhir 2000an berkat lagunya sering diputar di pinggir jalan beberapa daerah di Indonesia.

Saya pernah diceritakan bahwa hampir semua label besar di Indonesia pada saat itu menolak untuk memasukkan artis tersebut ke katalog mereka karena dianggap tidak menjual dan terlalu ndeso. Beberapa orang yang ada kaitannya dengan industri musik mulai memasukkan materi band melayu yang sebelumnya ditolak oleh label dan menjualnya dalam format VCD bajakan.

Tak disangka animo masyarakat akan musik tersebut ternyata mampu membalikkan belantika musik Indonesia selama hampir separuh dekade. Pembajakan mampu menjadi media promosi yang paling efektif serta menjadi tolak ukur kesuksesan sebelum digiring untuk meneken kontrak agar bekerja sama dengan label besar untuk mendistribusikan karyanya secara legal dengan cakupan lebih luas.

Hasil dari promosi melalui pembajakan membantu industri musik Indonesia melalui penjualan RBT atau Ring Back Tone. Kebanyakan dari band ini memang tidak bagus bagus amat dari segi penjualan fisik tapi mereka menjadi raja dalam penjualan RBT dengan jumlah download yang bisa mencapai 10 juta kali setiap lagunya. Masyarakat kita tidak memperdulikan kualitas dan durasi RBT yang memang dibawah standar tetapi pola pikir masyarakat kita yang senang bergaya dan latah akan teknologi baru membuat RBT menjadi sumber pemasukan utama industri musik Indonesia pada saat itu.

Dan semua hal tersebut dimulai dari pembajakan atas suatu karya.

Kevin Parker dari Tame Impala pernah berujar:

“Saya dulunya mengunduh musik secara ilegal. Semuanya pernah. Tidak ada yang bersih. Semuanya pernah melakukannya. Jika seseorang berkata ‘Hey, aku suka albummu, itu sesuai denganku ketika aku putus cinta, tapi aku mengunduhnya secara gratis’ saya akan berkata ‘Bagus! Itu bagus!’. Mungkin dia tidak punya uang untuk membeli album, tetapi jika dia tetap mendengarnya dan hal tersebut menjadi bagian penting dalam hidupnya, itu saja yang saya minta. Saya tidak mau 20 dollar darinya.”

Dan Tame Impala menjadi salah satu band rock terkenal di kalangan anak muda dan memenangkan banyak penghargaan bergengsi termasuk BRIT Awards.

Marcin Iwinski pengembang dari salah satu seri game terlaris The Witcher 3 mempunyai pernyataan tentang pembajakan:

“Faktor pembajakan merupakan hal yang tidak masuk akal karena kami tidak bisa memaksa orang-orang untuk membeli sesuatu terutama di negara dengan penghasilan rendah dimana orang-orang tidak bisa membeli game seharga 50 dollar. Kami memang tidak suka ketika orang mencuri produk kami tapi kami tidak akan mengejar mereka dan membawanya ke penjara. Kami berpikir keras untuk meyakinkan orang-orang tersebut untuk membeli produk kami dengan cara yang positif, jadi ketika mereka membeli produk kita di lain waktu mereka akan senang dengan produknya dan mengatakan pada temannya untuk tidak dibajak.”

Iwinski dan Parker percaya bahwa ketika suatu karya memang sudah bagus maka pembeli akan datang dengan sendirinya. Untuk mengetahui suatu karya bagus atau tidak bisa dilihat dari respon mereka di internet dan mereka tidak mempermasalahkan mereka mendapatkan sumber karya mereka dari mana yang penting ada feedback dari pengguna.

Get_Hooked_360_Digital_Marketing_Increase_Brand_Awareness20121116_Article

Pembajakan dapat membuat brand awareness suatu karya/produk semakin terlihat di mata publik. Banyak perusahaan yang menggelontorkan uangnya untuk promosi agar produk atau karyanya bisa diketahui oleh orang luas dengan hasil akhir yaitu pembelian produk yang dipasarkan. Dengan pembajakan perusahaan tidak perlu repot-repot untuk mengatur strategi yang pas agar brand yang ia ciptakan laku, anggap saja rugi yang keluar akibat pembajakan sebagai biaya promosi untuk membuat mereknya terkenal.

Pembajakan juga dapat mencakup pasar yang lebih luas atau pasar yang sebenarnya bukan target utama dari perencanaan awal. Contoh yang paling terlihat adalah anime dan manga yang menjadi mesin utama Jepang dalam propaganda halusnya kepada dunia.

Kembali lagi ke bahasan awal yaitu Pokemon GO. Para pembuat Pokemon GO harusnya bersyukur ketika server mereka overload karena banyaknya pemain yang memainkan game ini baik legal maupun ilegal. Teman saya yang dulunya pernah bekerja di operator telekomunikasi berkata bahwa jika pada saat malam hari koneksi internet mulai lemot maka penyedia layanan tersebut telah sukses menjaring pelanggan karena bagi mereka server overload menunjukkan bahwa banyak pengguna yang memakai jasa mereka.

pkgo kompas

Pembajakan massal Pokemon GO di Indonesia harus dilihat dari sisi positif terutama bagi para pecinta Pokemon. Pokemon yang dulunya dianggap “mainan anak kecil” menjadi topik yang paling dibicarakan sepanjang bulan Juli 2016. Semua orang berkumpul dan berinteraksi di masjid sehingga masjid kembali kepada fungsi awalnya ketika masa Nabi yaitu tempat berkumpul. Silaturahmi yang terjalin antar para pemain Pokemon GO  dan para pemain Pokemon lama. Usaha mulai dari baju, boneka, case handphone sampai ojek online juga untung berkat game yang belum dirilis di Indonesia.

Pokemon GO bersama anime, musik dan berbagai karya lainnya menjadi bukti bahwa Indonesia susah untuk lepas dari pembajakan karena memang mental bangsa ini lebih senang dengan sesuatu yang gratisan ketimbang membayar.

Sepanjang pembajakan menjadi medium yang ampuh untuk meningkatkan brand awareness terhadap suatu produk dan berujung kepada kesuksesan produk tersebut maka pembajakan akan terus ada malah dibutuhkan, intinya kalo ga dibajak ga keren lah (sama seperti saya yang karyanya juga dibajak oleh salah satu media besar beberapa bulan lalu).

Udah ah bahas pembajakannya saya mau nyari Charmander dulu di gang sebelah.

5 thoughts on “OP-ED: POKEMON GO DAN INDAHNYA PEMBAJAKAN

  1. Pokemon GO dibilang bajakan sih ndak juga. Mungkin levelnya setara impor game region JP untuk dimainin di konsol yang sudah dimodifikasi supaya bisa main semua region. Melanggar ToS/EULA mungkin, tapi kok rasanya kurang pas dianggap membajak dalam artian ‘menggunakan sesuatu dengan gratis padahal harusnya bayar’.

    1. kalau aku masih bilangnya Pokemon GO (bukan pokemon) statusnya masih bajakan dan kurang tepat juga kalo dibilang “game region JP” meski memang game ini FTP atau Free To Play. Kalau dari perspektif aku sendiri Pokemon GO masih dalam ranah bajakan karena tidak ada di google play dan retail resmi lainnya (untuk di Indonesia) dan orang-orang mendapatkan game ini di situs yang tidak terafiliasi dengan Niantic (which is ilegal kalo menurut aku). Perbedaan dari game region-block JP adalah beberapa game tersebut bisa diunduh di situs app store versi china di android (lupa namanya) dan ga usah ganti region dulu.

      Sebenarnya saya menggunakan momentum pokemon go ini sembari melihat juga bagaimana Indonesia (dan negara asia lainnya) masih menyukai membajak atau mengunduh sesuatu yang ilegal tetapi dari yang ilegal itu terkadang bisa menumbuhkan keuntungan yang legal bagi si pemilik karyanya

Leave a Reply