Music-equipment-1920x1200

OP-ED: BETAPA KONYOL (DAN AJAIBNYA) PASAR MUSIK LOKAL

Postingan kali ini bekerjasama dengan KREATINVO sebuah edia informasi yang ditujukan untuk para pelaku maupun pengamat kreatif di seluruh Indonesia. Mulai tanggal 15 Juni 2016 setiap OP-ED yang masuk ke blog ini akan direpost ulang oleh KREATINVO. Cek situs mereka di sini dan FB Page mereka di sini

Di antara bidang kreatif di Indonesia ada satu bidang yang menurut saya konyol yaitu bidang musik. Tidak seperti komik lokal yang sedang mengalami masa indahnya dalam 3 tahun terakhir atau film lokal yang semakin menunjukkan keperkasaannya dan mampu membuat penonton kembali menyaksikan film lokal, pasar musik jauh berbeda dari hal tersebut.

Kenapa saya berkata demikian karena ketika saya mengecek e-mail music director di radio tempat saya bekerja tiap minggunya ada 40 materi baru baik dari internasional maupun nasional yang menunggu untuk diputar di radio dan berharap agar mereka bisa menjadi Noah, Geisha, Raisa, Isyana dan Kotak berikutnya. Sudah tidak terhitung berapa artis baru yang sudah wawancara di radio baik itu yang suara atau materi lagu seadanya sampai yang sanggup membuat seisi radio bernyanyi bersama. Setiap minggunya bahkan setiap harinya ada saja kiriman CD mulai dari musisi indie yang terkadang mengirim materi dengan kualitas rendah yang terkadang unlistenable sampai musisi papan atas yang mempunyai kualitas rekaman internasional. Terkadang ada beberapa artis yang membayar ke radio atau televisi agar lagu mereka diputar atau sekedar tampil di TV supaya popularitas dari artis tersebut naik dan berujung kepada orang membeli karya mereka. Tetapi hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan pasar musik lokal yang sekarang terjadi.

Kita semua tahu bahwa pasar musik lokal sekarang sedang mengalami masa lesu dan penyebabnya kali ini bukanlah bajakan yang semakin hari sudah tidak bisa diberantas lagi (kalau tidak percaya coba cari “Raisa Kali Kedua” di Google maka hasil pertama yang muncul adalah “Download mp3 full Raisa Kali Kedua Free”)  tetapi majunya perkembangan jaman yang membuat hal itu terjadi. Sumber pemasukan paling banyak dalam pasar musik lokal yaitu Toko CD sudah banyak yang menyerah karena serangan digital dan pembajakan yang bertubi-tubi. Berbicara soal pasar musik digital di Indonesia ternyata pasar ini belum bisa berbicara banyak.iTunes yang digadang-gadang menjadi penyelamat pasar musik Indonesia belum bisa memberikan kontribusi yang berarti karena lagu yang berada di Top 10 iTunes Indonesia hanya terjual 10 kopi ditambah dengan pembayaran yang sangat tidak bersahabat dengan masyarakat Indonesia yaitu kartu kredit.

Platform streaming seperti YouTube, Spotify, Joox dan lainnya memang sedang populer di masyarakat Indonesia apalagi pertumbuhan pengguna internet di Indonesia semakin hari semakin bertambah. Sudah banyak orang yang mendengarkan musik melalui platform tersebut tetapi dari segi keuntungan platform tersebut masih pelit untuk membayar artis. Spotify hanya membayar US$0.001 atau Rp.12 setiap satu kali lagu tersebut dimainkan, angka ini akan lebih rendah jika kita berbicara soal bayaran di YouTube dan harus diketahui bahwa keuntungan yang didapat dari platform tersebut tidak semuanya masuk ke kantong artis yang bersangkutan. Keuntungan yang didapat harus dibagi dengan label musik mereka bernaung, membayar distributor digital yang sudah memasukkan konten mereka ke platform tersebut, pencipta lagu (jika lagu dibuat oleh orang lain) dan berbagai macam tetek bengek lainnya yang membuat artis atau performer hanya mendapat 10% – 20% dari keuntungan tersebut (tergantung perjanjian dan kesepakatan yang sudah tertulis di kontrak). Wajar jika banyak yang bilang industri musik sedang mengalami masa “sakit” karena pendapatan mereka tidak sebanyak dulu ketika orang masih menganggap CD sebagai barang wajib untuk mendengarkan musik.

Soal live venue juga belum bisa memberikan hal yang berdampak besar apalagi untuk musisi indie yang tidak mempunyai kekuatan seperti artis besar, terkadang mereka mengais rejeki yang tidak banyak dari gigs satu ke gigs lainnya itupun jika rutin ada yang memanggil mereka jika tidak mereka akan kembali ke pekerjaan normal yang lebih layak untuk menghidupi mereka, lebih parahnya lagi kita hidup di Indonesia dimana tingkat apresiasi terhadap suatu karyanya masih terbilang rendah, kalau tidak percaya coba tanya beberapa band indie yang ditawari main tapi tidak dibayar atau ketika mulai mengajukan tarif sang pembuat acara suka membandingkan tarif band lainnya seperti bertransaksi di pasar tradisional.

Setidaknya beberapa paparan di atas membuktikan bahwa pasar musik lokal memang konyol, masih banyak band yang ingin bersaing dan memperebutkan tempat di masyarakat di saat pasar musik lokal yang sedang turun drastis. Pemasukan dari penjualan karya mereka terkadang tidak seimbang dengan pengeluaran mereka untuk membuat lagu/album tetapi masih ada saja band atau solois yang terus mencoba peruntungannya di belantika musik tanah air seolah musik lokal seperti kumpulan orang-orang yang mencari setetes air di padang pasir yang gersang.

13308248_10153484662442273_2165156872160875021_o
Pesan dari The Avalanches bahwa musik itu adalah sesuatu yang ajaib

Memang terdengar konyol dan ajaib dalam waktu bersamaan, kenapa saya bilang ajaib karena para musisi atau artis ini masih mempunyai semangat juang untuk membuat atau menerbitkan karyanya di kala ekonomi musik Indonesia sedang lesunya. Para pelaku yang hidup di antara pasar yang konyol ini masih mendedikasikan dirinya terhadap musik contohnya seperti artis yang masih terus mengirimkan materinya ke radio atau demo mereka ke label berharap untuk diterima, sound engineer masih terus memoles kualitas rekaman meski nanti lagunya berujung ke format mp3, music director radio dan A&R label yang terus mencari bibit baru untuk diekspos ke masyarakat, promotor musik yang terus mencari izin dari pihak yang berwenang untuk membuat pertunjukan musik, manajer yang terus mencari gigs untuk bandnya dan masih banyak lagi pekerjaan yang diniatkan karena “power of music” atau cinta mati mereka terhadap musik. Rasa puas yang dihasilkan artis ketika lagu itu selesai sampai siap untuk dipasarkan menjadi nilai yang tidak bisa diukur dengan uang, mungkin ada benarnya jika ada yang mengatakan bahwa industri musik adalah industri dimana keajaiban bisa terjadi. Industri ini memang konyol dari segi finansial tetapi di saat bersamaan industri ini juga menyimpan keajaibannya sendiri yang tidak bisa diukur oleh angka yang dicetak dalam uang kertas atau saldo rekening dan saya adalah salah satunya orang yang berkeinginan untuk masuk di industri yang konyol ini.

Leave a Reply