aadc1

MOVIE REVIEW: ADA APA DENGAN CINTA 2

aadc2 poster

ADA APA DENGAN CINTA 2? (AADC2?)
Pemain: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Titi Kamal, Sissy Priscillia, Adinia Wirasti
MILES FILMS, 2016

Ada Apa Dengan Cinta (AADC) adalah sebuah fenomena kultur pop di Indonesia. Bersama Petualangan Sherina, AADC adalah simbolisasi bangkitnya perfilman lokal yang mengalami mati suri pada dekade 90’an. Pada saat film ini rilis di tahun 2002 semua orang terutama berusia remaja rela mengantri dan membayar untuk sebuah film lokal, sebuah hal yang dianggap ajaib pada saat itu. Bukan hanya mejadi tonggak kembalinya film lokal, film ini juga menciptakan banyak trend yang terus ada hingga saat ini dan membuat semua orang berlomba-lomba untuk membuat puisi dan membaca buku Chairil Anwar berjudul “Aku”. Lewat AADC, semua remaja menganggap mencintai suatu karya sastra atau seni adalah hal terkeren dalam hidup mereka dan menciptakan generasi muda yang menggilai sastra. Film ini juga mengubah nasib para pemainnya, semua pemain dalam film ini langsung menjadi mega bintang dan tentunya pameran karakter utama yaitu Dian Sastro dan Nicholas Saputra menjadi artis yang dielu-elukan kaum pria dan wanita. Kedua nama dalam AADC yaitu Cinta dan Rangga sukses menjadi nama yang paling terkenal dalam kultur pop Indonesia. AADC mampu menangkap apa yang terjadi pada remaja dan menjadi cetak biru drama remaja di Indonesia setelahnya (yang kebanyakan berakhir menjadi picisan).

aadc3

Setelah 14 tahun berselang, Mira Lesmana dan Riri Riza sebagai orang yang patut disalahkan atas fenomena ini ingin menghidupkan kembali karakter yang disukai masyarakat Indonesia dengan kondisi sekarang dengan membuat sekuel AADC yang ingin menjawab pertanyaan penonton bagaimana akhir dari kisah cinta antara Cinta dan Rangga yang “digantung” selama 14 tahun.

Reuni menjadi kata kunci jika ingin mendalami apa yang terjadi di AADC2 dan Riri Riza selaku sutradara tahu jika mayoritas penonton AADC2 adalah mereka yang berada di akhir umur 20an bahkan ada yang sudah mau mempunyai anak maka dari itu ia membuat AADC2 seperti sebuah film reuni dengan teman yang sudah lama tidak bertemu. Cinta dan kawan-kawannya melaksanakan sebuah reuni di Jogja dan tanpa disangka sosok legendaris yang terus menghantui Cinta yaitu Rangga juga berada di Jogja dari tempat tinggalnya di New York demi menuntaskan kesalahan masa lalu. Cinta dan Rangga sepakat untuk bertemu dan mencoba melupakan masa lalu mereka sambil menikmati perjalanan di Jogja.

Meskipun mengambil latar 14 tahun setelah kejadian aslinya tetapi AADC2 tidak menunjukkan perubahan dari segi karakter atau sifat. Para karakter di AADC2 masih seperti anak SMA yang bertemu teman-temannya dan tidak ada sikap dewasa yang diwujudkan disini, di satu sisi hal ini menguatkan tema reuni dan ingin menunjukkan kiasan bahwa tidak ada batasan usia untuk bersenang-senang tetapi hal ini tidak berjalan mulus begitu masuk ke penceritaan. Tidak ada konflik yang begitu intens seperti film pertamanya, semuanya berjalan terlalu lurus dan biasa saja. Cinta dan Rangga tidak lagi digambarkan sebagai dua orang yang puitis dan malu untuk menyampaikan rasa cintanya tetapi digambarkan sebagai dua orang turis yang ingin jalan-jalan ke tempat yang belum mereka kunjungi sambil berkelakar tentang masa lalu mereka dengan harapan rasa cinta tersebut muncul lagi. Sastra dan seni yang menjadi penyokong cerita dalam film pertamanya tidak banyak berperan dalam film keduanya, kurangnya hal ini menyebabkan film ini tidak mempunyai sesuatu yang ikonik. Meskipun demikian ada beberapa saat dimana film ini mampu menjaga momentumnya dengan maksimal.

Hal yang menyelamatkan AADC2 dari jurang kebosanan adalah permainan akting yang prima dari pemerannya. Semua bermain natural dan tetap setia dengan sifat dari karakter masing-masing. Highlight pada AADC2 tentunya jatuh pada chemistry antara Dian Sastro dan Nicholas Saputra, kedua pemain ini dapat mengeksekusi kedua orang yang sedang kembali dilanda asmara tapi tidak secara langsung dalam penyampaiannya. Sudut kamera di beberapa adegan juga dimainkan dengan baik terutama ketika mereka sedang duduk di kedai kopi tetapi kamera hanya mengarah ke wajah Cinta dan Rangga seolah sedang melakukan monolog. AADC2 juga mengenalkan berbagai macam objek wisata terpencil di Jogja untuk mendukung cerita dan memanjakan mata penonton.

Bisa dikatakan konten dari lanjutan AADC bukanlah lanjutan dari kisah cinta antara Cinta dan Rangga melainkan hanya reuni seseorang teman yang terpisah jauh dan sudah tidak lama berjumpa. Pertanyaan apakah Cinta bisa menaklukkan hati seorang yang dingin seperti Rangga tidak terjawab dengan baik dan terkesan dipercepat agar tidak menimbulkan “kegantungan” dan membuat penonton senang. Melihat AADC2 yang baru tidak ubahnya seperti melihat FTV yang tayang di salah satu TV nasional pada pagi hari dengan cerita yang biasa saja dan terkesan aneh. Untungnya para pemeran film ini bermain dengan sangat baik sehingga AADC2 masih mempunyai kualitas untuk ditonton. AADC2 tidak meninggalkan kesan yang baik untuk sebuah sekuel dan membuat film pertamanya terasa superior tetapi jika memang AADC2 diatur untuk menjadi sebuah temu kangen antara fans dengan pemainnya maka mereka sudah melaksanakan kegiatan tersebut secara wajar.

6/10

Leave a Reply