ALBUM REVIEW: WEEZER – WEEZER (WHITE ALBUM)

weezerwhitealbum

WEEZER
WEEZER (WHITE ALBUM)
CRUSH MUSIC/WARNER, 2016
Genre: Alternative Rock, Pop Punk, Surf Rock, Power Pop

Weezer adalah salah satu contoh unik dalam dunia alternative rock. Mereka memulai debutnya dengan menggabungkan sound surf rock dengan kasarnya gitar power pop sehingga menjadi salah satu band yang berbeda di kala musik grunge menjadi primadona industri musik. Setelahnya mereka seolah terombang-ambing dari segi musikalitas dan mencoba untuk tetap terlihat uptodate dan emo di era 2000an sampai-sampai mereka menyetir musik mereka menjadi electro hip hop. Era tersebut boleh jadi dikatakan masa gelap dari kuartet yang terdiri dari Rivers Cuomo, Brian Bell, Scott Shriner, dan Patrick Wilson.

Mereka mengakhiri masa kegelapan tersebut dengan album kesembilan mereka yang berjudul “Everyhting Will Be Alright In The End” sambil berucap “I thought I get new audience but forget that disco sucks”. Lewat album tersebut Weezer dipuja kembali karena kembali ke pakem lama mereka meskipun sudah mengeluarkan sembilan album, hal ini juga membuktikan bahwa masih ada yang menunggu Weezer untuk kembali ke pakem lama mereka meski harus menunggu beberapa album untuk mewujudukan hal tersebut.

Weezer tidak ingin membiarkan hype “kembali ke pakem lama” tersebut menurun dan mereka juga tidak perlu menunggu waktu lama untuk kembali mengobati para pendengar yang ingin melihat kelanjutan dari kegarangan mereka. Weezer menjawab hal tersebut dengan album kesepuluh mereka yang merupakan seri keempat dari self-titled album mereka setelah sebelumnya mengeluarkan “Blue Album” (1994), “Green Album” (2001), “Red Album” (2008) dan yang terbaru “White Album” yang telah dirilis pada 1 April 2016 kemarin.

Mereka memposisikan album barunya sebagai “the beach album” dan memang itu terealisasi pada 10 lagu yang ada, kuartet ini mengambil pengaruh dari The Beach Boys, surf music, pantai California di musim panas dan beberapa hal yang relevan di era sekarang. Bukti yang nyata dari tema tersebut sudah terasa ketika memasuki beberapa track seperti “(Girl We Got a) Good Thing” yang terdengar seperti versi alternative rock dari album The Beach Boys “Pet Sounds”. “Wind in Our Sail” dan “Jacked Up” adalah track yang unik karena mereka memakai piano sebagai lead dalam musik mereka sebelum menambahkan raungan gitar khas Weezer.

Mereka juga ingin mengkreasikan ulang “Blue Album” yang memang mempunyai kesamaan sound dengan “White Album” dan mereka berhasil membuat ulang hal tersebut dengan sangat baik, contohnya ada pada “California Kids” dan “L.A. Girlz” yang memadukan sound surf music dengan padatnya riff gitar grunge yang terus menderu sepanjang lagu.

“White Album” tidak hanya berbicara tentang musim panas, pantai dan gadis. Mereka memang tidak main-main untuk kembali ke pakem lama yang telah mereka buat di dua album perdana mereka dan itu terasa di “Do You Wanna Get High?” yang menjadi kejutan di album ini karena mempunyai perbedaan tema yang cukup signifikan diantara album lainnya, track yang menceritakan kisah Cuomo dengan narkoba dibawakan dengan kasar dengan sayatan musik power pop yang edgy seperti album “Pinkerton”.

“Thank God for Girls” adalah sebuah track yang pintar di album ini, dengan iringan beat setengah indie pop dan setengah hip hop yang sedang naik daun sekarang mereka bercerita tentang stereotip laki-laki dan perempuan serta mempertanyakan hubungan pacaran secara virtual sambil berkelakar tentang bagaimana Tuhan menciptakan Adam dan Hawa untuk melengkapi satu sama lain. Track ini menjadi unik karena sebenarnya mereka hanya menceritakan tentang putus cinta namun mereka membawakannya dengan gaya seperti ini demi menghindari stereotip sebuah kisah putus cinta. Rivers Cuomo juga mendedikasikan satu lagu di album ini kepada istrinya yang berjudul “King of the World”, Cuomo yang mempunyai istri orang Jepang bercerita tentang perbedaan budaya yang menjadi hambatan dalam awal hubungan sampai mereka harus meyakinkan sang orang tua bahwa orang Amerika tidak sejahat sewaktu perang dunia II saat melamar istrinya. Sebuah lagu yang bermakna dalam tanpa harus terdengar melankolis.

Weezer membawakan konsep summer album dengan sangat baik dan mungkin ini adalah salah satu konsep album terbaik yang pernah Weezer lakukan setelah “Pinkerton” pada tahun 1996 dimana semua track saling  berkolerasi satu sama lain untuk membuat satu tema yang utuh. Mereka menciptakan sebuah narasi tentang seorang laki-laki muda di musim panas dari mulai track pembuka “California Kids” sampai track penutup “Endless Bummer” dengan berbagai macam cerita dari yang terang sampai yang gelap. Mereka juga bermain dengan apa adanya dan jujur dalam album ini.

Mereka juga tidak menelan mentah-mentah “pakem lama” sehingga terdengar seperti bapak-bapak yang ingin bernostalgia, mereka sadar bahwa mereka berada di Crush Management dimana mereka satu manajemen dengan band muda lainnya seperti Fall Out Boy, Panic! At The Disco, Wavves sehingga sound di album ini terdengar fresh meski mengambil esens yang banyak dari dua album pertama mereka.

“White Album” merupakan perpanjangan tangan dari kebangkitan kembali yang mereka lakukan pada “Everything Will Be Alright In The End” dengan lebih banyak nostalgia dan teriknya pantai di musim panas namun tetap terstruktur, masif dan sistematis.

8/10

TRACK LIST: (Lagu yang diberi penebalan merupakan key track)

  1. California Kids
  2. Wind in Our Sail
  3. Thank God for Girls
  4. (Girl We Got A) Good Thing
  5. Do You Wanna Get High?
  6. King of the World
  7. Summer Elaine and Drunk Dori
  8. L.A. Girlz
  9. Jacked Up
  10. Endless Bummer

Leave a Reply