showa-31

ANIME REVIEW: SHOUWA GENROKU RAKUGO SHINJUU

SHOWA GENROKU RAKUGO SHINJUU
STUDIO DEEN, 2016
Genre: Drama, Josei, Historical

showa 8

Budaya tradisional akan terus lestari jika ada generasi muda yang mau mengikuti atau mempraktekkan budaya tersebut meskipun dunia terus berputar dan Jepang adalah negara yang terus menjaga budaya tradisionalnya dan terus mengumbarnya kepada masyarakat dunia lewat berbagai macam media entah itu dari film, musik, komik, drama ataupun anime. Citra budaya tradisional yang lekat dari Jepang adalah seni pertunjukannya, seni pertunjukan Jepang yang unik berperan dalam memberikan pengaruhnya kepada seni pertunjukan dunia dan salah satunya adalah rakugo.

vlcsnap-2016-04-04-22h35m18s929

Dalam arti harafiahnya Rakugo (落語)adalah “kata yang jatuh”. Rakugo merupakan seni pertunjukan secara verbal dan merupakan salah satu contoh nyata dari one man show. Penutur cerita hanya akan duduk dengan alas bantal dan harus piawai dalam menghidupkan cerita dengan segala keterbatasan yang ada entah itu dengan menggerakan tubuhnya sedikit atau berbicara dengan intonasi yang berbeda-beda untuk memancing imajinasi dari penonton.

showa 5

Seni pertunjukan rakugo dijadikan tema utama dari sebuah manga serta anime berjudul Shouwa Genroku Rakugo ShInjuu (SGRS). Setelah pecinta anime disuguhi Chihayafuru yang bertemakan tentang budaya khas Jepang yaitu karuta dalam balutan cerita josei, SGRS siap meneruskan kepopulerannya dengan mengambil budaya tradisional dan tema yang sama.

Dalam musim pertamanya, SGRS bercerita tentang kisah dari dua orang bakal penerus master rakugo yaitu Kikuhiko dan Sukeroku. Mereka berdua datang dari latar belakang serta kepribadian yang berbeda dimana Kikuhiko datang dari keluarga geisha yang terpaksa mempelajari rakugo karena geisha bukanlah seni untuk laki-laki serta Sukeroku yang ceria dan berniat menjadi penutur rakugo yang terkenal di Jepang. Mereka menetap di rumah seorang master rakugo bernama Yakumo dan merajut impiannya untuk menjadi seorang penutur handal.

SGRS mengambil latar waktu pada era awal Shouwa sampai ke era pasca perang dunia kedua dimana Jepang sudah mulai merasakan sentuhan modern yang lebih intens setelah dikenalkan di era restorasi Meiji. Anime ini menggambarkan dengan jelas situasi yang terjadi di Jepang dengan menggunakan medium rakugo sebagai jembatan yang menghubungkan antara sentuhan tradisional dan modern di Jepang.

showa 1

Meski dari latar waktu SGRS mengambil tema yang cukup jadul tapi narasi dari cerita yang disampaikan berkaitan erat dengan kehidupan di industri hiburan masa kini dimana para penutur atau penampil harus tetap memberikan yang terbaik kepada penontonnya meskipun kehidupan asli mereka tidak sebagus dari apa yang mereka ceritakan. Cerita yang disajikan dieksekusi dengan baik dan mampu memancing penonton untuk merasakan perjuangan hidup dari dua karakter utama yang terus menerus mencari pertunjukan agar bisa bertahan hidup sambil diiringi dengan konflik, intrik dan cinta segitiga yang terus menerus diumbar dalam anime ini.

showa 2

Dua karakter utama yaitu Kikuhiko dan Sukeroku seperti Yin dan Yang dimana mereka mempunyai sifat yang sangat berbeda satu sama lain tapi saling melengkapi. Kikuhiko mempunyai sifat lebih tenang dan pendiam sementara Sukeroku lebih serampangan dan ceria.  Karakter pendukung juga memberikan peran yang penting dalam pembangunan cerita karena karakter pendukung. Di setiap episodenya, SGRS selalu memberikan ruang untuk karakter utama dan karakter pendukung dalam membangun cerita sehingga pengembangan karakter dalam anime ini menjadi matang karena saling mendukung satu sama lain.

showa 6

Esensi rakugo yang menjadi fokus utama juga menarik untuk disimak. Anime ini memperlihatkan suatu kesenian yang terancam punah karena penonton muda sudah tidak tertarik dengan rakugo. Poin ini juga menjadi poin penting dalam mendongkrak kualitas narasi karena penonton tidak hanya diberikan suguhan drama antar karakter tetapi juga memberikan gambaran bagaimana mempertahankan sesuatu yang sudah terlihat “tua” sambil berpikir keras untuk menumbuhkan minat generasi muda akan rakugo. SGRS juga berhasil mengenalkan apa itu rakugo lewat berbagai macam pendekatan yang mereka lakukan entah itu secara langsung melalui pertunjukan dari Kikuhiko dan Sukeroku atau secara tidak langsung seperti pemilihan kostum untuk tampil, musik pengiring untuk masuk ke panggung atau bagaimana seseorang dipilih untuk menjadi master berikutnya lewat persetujuan dari Asosiasi Penutur Rakugo.

showa 7

Estetika dari latar waktu SGRS terus dijaga sampai ke departemen musik, musik yang muncul kebanyakan bernuansa jazz dengan iringan big band serta musik tradisional yang kental dengan bunyi shamisen dengan nada-nada oriental yang misterius. Musik yang muncul menjadi sebuah penanda masa transisi Jepang menuju sesuatu yang lebih modern dimana musik jazz dikenal sebagai musik non-Jepang pertama yang mendapatkan hati di masyarakat Jepang berkat pengaruh dari negara-negara barat.

SGRS mengolah ceritanya sama seperti penutur rakugo, terkadang ia harus tahu kapan membuat penonton terhibur dan kapan membuat penonton terharu dengan cerita yang disampaikan. Mengambil kutipan yang muncul di salah satu episodenya SGRS seolah berinteraksi dengan penonton lewat drama yang tersusun dengan rapi sehingga penonton seolah ikut dalam kisah mereka. SGRS juga mampu membawakan inti dari rakugo dengan cerita yang sangat baik sehingga sambil menikmati keunikan dari rakugo penonton juga larut dengan kisah para penuturnya. SGRS memberikan pandangan baru kepada penontonnya bahwa dunia hiburan tidak semanis yang dibayangkan, tetapi dibalik itu semua terdapat satu niat mulia untuk bertahan di kerasnya dunia hiburan yaitu menghibur orang dan SGRS sudah menghibur penonton dengan sangat baik di musim perdananya.

showa 4

8/10

One thought on “ANIME REVIEW: SHOUWA GENROKU RAKUGO SHINJUU

Leave a Reply