MOVIE REVIEW: A COPY OF MY MIND

12Acopuy

A COPY OF MIND
Sutradara: Joko Anwar
Pemain: Tara Basro, Chicco Jerikho, Maera Panigoro, Paul Agusta, Ario Bayu
CJ ENTERTAINMENT/Lo-Fi FLICKS, 2016

Sutradara Indonesia satu ini sering mengeluarkan karya yang besar dan juga out of the box untuk ukuran film Indonesia, dia bermain dengan noir dalam “Kala”, dark thriller dalam “Pintu Terakhir” sampai serial TV “Halfworlds” yang membuat hantu lokal terlihat edgy dan stylish. Untuk proyek terbarunya dia ingin kembali ke cerita yang alami dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari terutama kehidupan bagian pinggir dari Jakarta dan itu dia jawab dalam film terbarunya yang berjudul “A Copy Of My Mind” yang sudah memenangkan penghargaan jauh sebelum film ini ditayangkan di bioskop lokal seperti Piala Citra untuk Sutradara Terbaik, Aktris Terbaik dan berbagai nominasi di kancah internasional.

A Copy Of My Mind (ACOMM) bercerita tentang seorang karyawati sebuah salon facial untuk golongan menengah ke bawah bernama Sari yang juga merupakan penggila film, setiap harinya ia selalu berkunjung ke Glodok untuk mencari DVD bajakan. Suatu saat dia menemukan bahwa teks dari film yang dia beli banyak yang salah dan dia dipertemukan dengan si pembuat teks tersebut yaitu Alek. Mereka langsung jatuh cinta pada pertemuan pertama karena kecintaan mereka akan film. Semua itu berubah ketika mereka terancam oleh situasi politik yang sedang memanas dan merubah hidup mereka selamanya.

ACOMM adalah sebuah film romance drama yang membawa rasa cinta ke dalam spektrum yang berbeda-beda serta bergerak layaknya bunglon yang beradaptasi dengan lingkungan sekitar, dia bisa menjadi sangat politikal, sangat nyata ataupun sangat dramatis. Joko tahu betul bahwa di Indonesia film bajakan tumbuh seperti jamur di musim hujan dan dia tidak menyuguhkan hal tersebut kepada penonton dunia sebagai sebuah ironi dan pesan anti-pembajakan secara tersembunyi melainkan menjadi sebuah titik dimana cerita mulai dan berjalan.

Film ini memakai teknik produksi ala film indie yang kental, teknik ini dipakai bukan semata untuk menekan biaya produksi namun teknik ini memang cocok dipakai untuk menceritakan situasi pinggiran Jakarta secara gamblang dan nyata sehingga penonton juga bisa merasakan secara langsung bagaimana hidup di bagian bawah dari hingar bingar Jakarta menjadikan film ini sebagai suatu pengalaman tersendiri dan bukan hanya sekedar tontonan. Teknik ini juga membawa penonton merasakan langsung cerita dari film ini dan mampu meninggalkan kesan yang mendalam setelah film ini berhenti berputar.

Penampilan akting dari Chicco Jerikho dan Tara Basro menjadi kekuatan utama di film ini selain latar dan plot yang cukup thrilling. Chemistry mereka berdua benar-benar menggambarkan pasangan yang sedang dimadu oleh asmara dengan problema hidup di pinggiran kota ditambah dengan minimnya dialog film yang menguatkan penampilan mereka di film ini. Tara disulap menjadi perempuan perantau yang lugu dan Chiko disulap menjadi seseorang yang tough namun mempunyai hati selembut kapas begitu bertemu dengan orang yang ia cintai. Kesenjangan sosial yang begitu ketara juga memperkaya dialog dan tema.

ACOMM mencibir keadaan politik Indonesia ketika memasuki masa pemilihan presiden dimana semua orang mendadak menjadi liar dan orang dibalik layar sudah siap untuk memperebutkan kekuasaan dan itu menjadi titik konflik dari film ini dimana dua muda mudi yang dimabuk cinta harus terjebak dalam permianan kasar dan sadis dari politikus yang terlihat suci.

ACOMM bukan hanya drama cinta-cintaan yang bisa menyentuh penontonnya tetapi dia bisa bergerak sebagai satir terhadap oknum pemerintahan yang gila harta dan kekuasaan serta ode kepada rakyat jelata yang terjebak dalam euforia politik. ACOMM adalah sebuah sajian yang simpel namun menggigit mind penontonnya seperti singa menerkam mangsanya. A B-movie production with grade A quality.

8/10

Leave a Reply