gg

ALBUM REVIEW: GALILEO GALILEI – SEA AND THE DARKNESS

SECL-1837

GALILEO GALILEI
SEA AND THE DARKNESS
SONY, 2016
Genre: Alternative Pop, Alternative Rock, Indie Pop, Indie Rock, Surf Rock

Galileo Galilei sukses membuat seisi internet gempar terutama bagi mereka yang menyukai anime Ano Hana yang sudah lekat dengan grup band ini selain Menma tentunya. Setelah berkarir selama 9 tahun dan mengisi banyak soundtrack untuk anime, grup alternative pop asal Hokkaido ini memilih untuk mengakhiri karir mereka dengan nama Galileo Galilei pada album keempatnya yang berjudul “Sea and The Darkness”. Album keempat ini telah dirilis pada 27 Januari 2016 lalu dan menjadi album terakhir mereka setelah tugas mereka keliling Jepang untuk mempromosikan album ini selesai.

Ada hal yang unik dibalik penamaan “Sea and The Darkness”. Judul album ini melambangkan keseluruhan materi lagu yang ada dimana “Sea” melambangkan atmosfir album yang terpengaruh oleh music surf pop dan surf rock sambil dicampurkan dengan musik indie rock serta lo-fi yang kuat lalu “The Darkness” yang bermain di nada-nada mellow dan juga banyaknya distorsi yang muncul.

“Sea and The Darkness”  membuka album ini dengan permainan lo-fi folk ala Bon Iver. Dalam sinopsis album yang diambil dari label mereka ada beberapa track yang dipengaruhi oleh 50’s dan 60’s pop, mereka membuktikannya dalam “Kungfu Boy” yang terpengaruh oleh The Kinks dengan sedikit nada Galileo Galilei. Surf pop ala Real Estate dan The Drums mereka ulik dalam “Wednesday”. Lagu “Ghost” ketika mereka mencoba menjadi band angkatan C86 dengan memainkan nada jangly. Mereka menyulap Aimer yang mempunyai range vokal yang tinggi menjadi vokalis band twee pop dalam “Bed” yang memainkan nada twee dengan suasana lo-fi. “Tori to Tori” membubuhkan gaungan indie rock yang pekat. Mereka menyatukan surf rock dengan nuansa dream pop sehingga muncul “Moeru Mori to Hyouga”. “Nichiyou” bermain dengan piano yang polos. Lagu yang pernah mengisi anime Magic Kaito 1412 “Koi no Jumyou” dibuat ulang dan hasilnya lebih padat dari versi sebelumnya yang pernah dirilis, perbedaan yang paling mencolok dari vokal yang diturunkan menjadi sedikit low dan gebukan drumnya yang terdengar lebih jelas dan padat.

Arashi no Ato de” bermain di area pop rock mellow yang atmosferik sementara “Unique” mengingatkan kita akan era 90’an dimana track alternative rock yang beredar mempunyai pendekatan pop rock yang kuat. “Blues” mempunyai awalan indie rock yang standar sebelum lagu berjalan semakin cepat dan dihajar dengan noise pop di bagian akhir. “Aoi Chi” adalah sebuah track yang dipengaruhi dengan sound british alt.rock di pertengahan tahun 2000an terutama dari riff gitarnya. “Sea and The Darkness II (Totally Black)” bermain di ranah 80’s soft rock dengan tambahan saxophone yang semakin menguatkan soft rock tersebut. Bonus track pada album ini yaitu “Climber” yang sempat menjadi lagu penutup anime Haikyuu!! musim kedua bermain dengan mengikuti pattern lagu The 1975 “Sex” dimana mereka bermain dengan musik indie rock yang cepat dan penuh distorsi. “Bonnie & Clyde” adalah sebuah nomor alternative rock yang manis.

Album keempat dan terakhir dari Galileo Galilei ini sedikit berbeda dari album ketiga mereka yaitu “Alarms” dimana mereka memaksimalkan musik surf yang mereka sajikan pada “Sea and The Darkness” dan eksekusinya terbilang cukup bagus apalagi mereka pandai memilih mixing engineer yang handal seperti Mike Crossey dan John O’Mahonny yang sudah menangani band indie rock kenamaan seperti The 1975, Metric, Arctic Monkeys, Foals, Two Door Cinema Crub dan masih banyak lagi, proses mixing album ini terbilang bagus karena berhasil menguatkan konsep lo-fi album ini namun dengan sound yang detail dan bersih.

Dari segi produksi Galileo Galilei sudah memaksimalkan semua lini karena memang album ini adalah persembahan terakhir mereka sebagai Galileo Galilei. Musik lo-fi, indie rock dan surf pop yang mereka usung dalam album ini merupakan tanda kedewasaan mereka dalam bermusik karena jika dilihat kembali album sebelumnya mereka masih mengedepankan tema dan musik seishun atau masa muda tapi mereka juga terlalu nyaman dengan zona aman musik yang mereka usung sekarang, mereka juga terkadang membuat flow lagu kurang enak untuk didengar dari awal sampai akhir dan terkadang genre yang mereka mainkan terlalu jauh.

Persembahan terakhir dari band alternative pop yang telah malang melintang di industri musik selama 9 tahun ini merupakan sebuah perpisahan yang matang matang untuk fansnya yang telah setia bersama mereka, matang karena 16 lagu yang mereka sajikan merupakan sebuah bukti bahwa mereka telah melewati masa muda dengan tiga album sebelumnya dan mencoba menjadi dewasa di album ini. Galileo Galilei memilih mundur karena mereka takut bahwa menjadi dewasa akan menjadi suatu hal yang membosankan dan tidak bisa berkarya lagi secara maksimal dalam sebuah band sama seperti artwork album “Sea and The Darkness” dimana si anjing merupakan perwujudan dari music Galileo Galilei yang selalu dikaitkan dengan sound alternative pop serta indie pop yang polos dan bayangan di belakangnya adalah kedewasaan. Sebuah perjalanan harus ada akhirannya dan Yuuki Ozaki, Hitoshi Sato dan Kazuki Ozaki memilih mengakhiri perjalanan masa mudanya dengan Galileo Galilei lewat album yang mempunyai materi lebih heavy dari album sebelumnya dan menjadi salam perpisahan yang indah untuk semua pendengarnya dan menjadi suatu bukti bahwa mereka sudah cukup dewasa dalam bermusik. Otsukare, Galileo Galilei.

7/10

TRACK LIST: (Lagu yang diberi penebalan merupakan key track)

  1. Sea and The Darkness
  2. Kungfu Boy「カンフーボーイ」
  3. Ghost「ゴースト」
  4. Wednesday「ウェンズデイ」
  5. Love Song/Bed「ベッド」
  6. Bard Cage/Tori to Tori 「鳥と鳥」
  7. Different Kind/Moeru Mori to Hyouga 「燃える森と氷河」
  8. Her Surprise/Nichiyou「日曜」
  9. Limit of Love/Koi no Jumyou (re-mix, re-master ver.) 「恋の寿命」
  10. Aftermath/Arashi no Ato de 「嵐のあとで」
  11. Unique 「ユニーク」
  12. Blues 「ブルース」
  13. Blue Blood/Aoi Chi「青い血」
  14. Sea And The Darkness (Totally Black)
  15. Climber (re-master ver.) 「クライマー」
  16. Bonnie & Clyde 「ボニーとクライド」

One thought on “ALBUM REVIEW: GALILEO GALILEI – SEA AND THE DARKNESS

Leave a Reply