ANIME REVIEW: PLASTIC MEMORIES

vlcsnap-2016-02-02-17h09m28s144
Plastic Memories memulai semuanya dengan satu pertanyaan yang berbunyi, “Apa jadinya jika suatu memori dihapus dalam kehidupan kita?”, sebuah pertanyaan yang simpel namun bisa bermakna dalam. Pertanyaan ini dicoba diulik oleh anime original terbaru besutan Doga Kobo ini. Anime yang tayang pada pertengahan tahun 2015 kemarin berawal dari ide seseorang bernama Naotaka Hayashi yang sebelumnya pernah menulis naskah untuk Robotics;Notes dan Steins;Gate, tidak heran jika Plastic Memories mempunyai kesan science fiction yang kuat dengan tambahan dosis drama dan romance yang melebihi anime yang pernah dikerjakan Hayashi sebelumnya. Ditemani dengan Yoshiyuki Fujiwara mereka menceritakan tentang hubungan antara manusia dengan android.

maxresdefault1

Plastic Memories mengambil latar waktu di masa depan ketika manusia hidup berdampingan dengan android yang menyerupai manusia mulai dari segi fisik, perasaan serta memori. Perusahaan pembuat android bernama SAI Corp membuat model android baru bernama Giftia yang menyerupai manusia. Giftia sendiri tidak bisa bertahan lama, karena masa hidupnya hanya bertahan 81.920 jam atau sekitar 9 tahun dan 4 bulan dan jika masa hidupnya terlewat maka Giftia akan mengalami kerusakan pada kepribadian, hilangnya memori dan melakukan tindak kekerasan. Sebuah divisi bernama Terminal Service ditugaskan untuk mengambil android dari pemiliknya sebelum masa hidupnya habis dengan menghapus memori android tersebut, dalam menangani hal ini Terminal Service bekerja dalam tim yang terdiri dari manusia dan Giftia. Cerita dimulai dengan seorang lelaki 18 tahun bernama Tsukasa dan seorang Giftia bernama Isla, Tsukasa merupakan seorang anak baru di Terminal Service dan dia diberi partner Giftia bernama Isla yang kelihatannya tidak bisa apa-apa namun sebenarnya sudah berpengalaman dalam tugas lapangan. Isla menaruh perasaan suka terhadap Tsukasa begitu juga sebaliknya namun masa hidup Isla tidak lama lagi dan dia hanya mempunyai waktu kurang dari 2000 jam sebelum semua ingatannya dihapus.

vlcsnap-2016-02-02-17h10m02s216

Anime ini mempunyai fondasi yang cukup bagus untuk menjadi anime science fiction yang berisi dan padat akan narasi cerita yang menyentuh karena Plastic Memories atau Plamemo memainkan kata “hilang ingatan”, kita tahu bahwa jika seseorang hilang ingatan akan dirinya maka dia tidak tahu siapa dirinya karena rekaman ingatan yang membawa seseorang mengenali dirinya lewat peristiwa yang pernah ia lalui dan membuat seseorang merasa hampa. Sebuah konsep cerita yang mudah dan kompleks secara bersamaan apalagi proses pengambilan Giftia sama seperti proses pemakaman di mana para pengguna Giftia kebanyakan adalah orang-orang yang merasa atau membutuhkan seseorang yang menemaninya mulai dari anak yatim piatu sampai nenek-nenek yang merindukan sosok seorang anak untuk diajak bercengkrama. Tentunya proses pengambilan Giftia menjadi hal yang paling mengharu biru dalam anime ini karena para pengguna Giftia mengingat kembali memori indah yang sudah dilalui bersama android tersebut terlebih lagi penanganan divisi satu Terminal Service yang menangani pengambilan android tersebut dengan cara pendekatan secara emosional dengan kliennya bukan asal ambil seperti yang divisi lain lakukan membuat unsur emosional anime ini semakin kuat, contoh yang paling kentara adalah ketika masuk ke cerita antara seorang anak yatim Souta Wakanae serta sebuah Giftia bernama Marcia, anime ini berhasil menangkap konsep tersebut dan menumpahkannya dalam cerita dua episode yang sukses membuat penontonnya tersentuh dan mulai memahami apa landasan utama dari PlameMo.

vlcsnap-2016-02-02-17h10m51s221

Potensi tersebut ternyata tidak dimanfaatkan dengan baik ketika cerita tentang Souta dan Marcia usai karena anime ini langsung terjebak dalam salah satu genre yang diusung anime ini yaitu romance sehingga kita tidak bisa melihat lagi bagaimana menyentuhnya cerita klien dari divisi satu Terminal Service dan subjek utamanya bukan lagi tentang cerita orang yang ditinggalkan dengan seseorang yang mempunyai memori indah bersama yang ditinggalkan melainkan kisah cinta antara Tsukasa dan Isla sehingga anime ini kehilangan fokus dan titik vokalnya. Kisah cinta antara Tsukasa dan Isla pun tidak terlalu menonjol dan terkesan sangat generik dengan penambahan komedi yang mentah dan filler disana-sini. Cerita mulai sedikit terbaca ending nya ketika penonton diberi tahu jika masa hidup Isla tidak akan lama, hal ini juga menjadi titik balik dari anime ini dan seketika mengubah konsepnya dari “Apa yang terjadi jika ingatan tidak ada” menjadi “Membuat kenangan indah sebelum seseorang tiada”. Cerita antara Isla dan Kazuki sedikit menolong dari keklisean yang muncul dari anime ini tapi tidak terlalu menolong dari kurang konsistennya tema yang diberikan.

vlcsnap-2016-02-02-17h11m04s106

A wasted potential, begitulah kata yang bisa menggambarkan anime ini, Plastic Memories mempunyai tema dan konsep yang cukup kuat untuk menjadikan anime ini padat dengan hubungan antara manusia dan android yang intens karena dasar filosofisnya sudah ada dan menarik. Sayangnya hal tersebut tidak dieksekusi dengan maksimal karena anime ini salah memilih jalur utama yaitu berupa romance yang terkesan klise. PlameMo seolah ingin menjadi  science fiction anime dengan bumbu romance sebagai penyedap cerita tapi staff anime ini terlalu memberikan banyak penyedap sehingga masakan terasa aneh dan kehilangan cita rasa aslinya.

vlcsnap-2016-02-02-17h08m11s93
Beginilah pengalaman ketika menonton Plastic Memories

5/10

Leave a Reply